Friday, January 23, 2009

Semangat Hijrah untuk Pembebasan

Semangat Hijrah untuk Pembebasan
Penulis : Muhammad Rizqon


KotaSantri.com : Orang-orang Yatsrib termasuk rombongan orang Arab yang sering datang ke Mekkah. Mereka terdiri dari suku Aus dan suku Khazraj, dua suku yang selalu berperang dan berseteru satu sama lain selama 120 tahun. Suatu malam di bukit Aqabah, Mina, Rasulullah SAW bertemu dengan enam orang Khazraj. Mula-mula Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan, kemudian mereka menjawab dengan sopan. Lantas beliau memperkenalkan diri. Sesudah itu, beliau mengajak mereka duduk bersama dan mereka memenuhi ajakan itu dengan penuh rasa ingin tahu.

Rasulullah SAW mengajak mereka ke tempat yang sepi, sedikit jauh dari penglihatan orang. Di tempat itu, Rasulullah SAW membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Mereka mengerti dan terpikat dengan apa yang Rasulullah SAW serukan. Begitu yakin dengan kesungguhan mereka, Rasulullah SAW mengajak berpindah ke bawah bukit Aqabah, suatu tempat yang benar-benar terlindung dari penglihatan orang-orang. Di tempat aman itulah beliau mengajak mereka mendukung kerasulan beliau, dan meminta mereka menyebarkan ajaran Islam di kota asal mereka, Yatsrib.

Mereka meminta waktu berunding. "Nampaknya ini adalah jalan yang diberikan Tuhan," demikian salah seorang dari mereka berkata. "Aku sudah bosan berperang dengan Aus, mudah-mudahan ajaran Islam ini akan menyatukan kita dan Aus dalam perdamaian." Seusai berunding, mereka menyatakan bersungguh-sungguh mendukung misi penyebaran Islam di Yatsrib. Rasulullah SAW memberi nasehat agar mereka seia-sekata, tolong-menolong, dan bahu-membahu dalam menjalankan tugas mulia ini.

Keenam orang Khazraj itu kembali ke Yatsrib dan menyerukan Islam ke seluruh penduduknya. Pada musim haji berikutnya, yaitu tahun ke-12 dari perjuangan dakwah Rasulullah SAW, 5 dari 6 orang Khazraj itu bersama 7 orang rekan mereka (2 di antaranya dari suku Aus), kembali menemui Rasulullah SAW di bukit Aqabah. Di sana, Rasulullah SAW pun kemudian membai'at mereka. Inilah yang dikenal dengan Bai'at Aqabah pertama. Seusai pembai'atan itu, Rasulullah SAW bersabda, "Hendaknya kalian menepati janji-janji ini, kelak kalian akan menerima balasan Allah berupa surga. Namun jika ada yang menyalahi janji ini, aku serahkan urusannya kepada Allah semata."

Musim haji pun selesai. Ketika rombongan Yatsrib berangkat pulang, Rasulullah SAW menyertakan Mush'ab bin Umair, seorang duta pertama yang bertugas mengajarkan syari'ah Islam dan pengetahuan agama di bumi Yatsrib. Islam makin bercahaya. Seiring dengan itu, persaudaraan antara suku Aus dan Khazraj pun semakin kokoh, sehingga hilanglah rasa permusuhan di hati mereka masing-masing. Aqidah Islam benar-benar telah meyatukan hati mereka. Subhanallah.

Pada musim haji berikutnya, rombongan haji yang datang dari Yatsrib semakin banyak. Mereka ada 75 orang, dua di antaranya perempuan. Kembali mereka menjumpai Rasulullah SAW di bukit Aqabah. Kali ini mereka tidak bertemu di kaki bukit, melainkan di puncaknya. Abbas bin Abu Muthalib, paman Rasul yang menyertai Rasulullah SAW menyadari bahwa pertemuan itu berpotensi menyulut peperangan dari orang-orang yang memusuhi keponakannya itu.

Abbas berpidato, "Saudara-saudara dari suku Khazraj, posisi Muhammad di tengah kami sudah diketahui bersama. Kami dan mereka yang sepaham dengannya telah melindunginya dari gangguan masyarakat kami sendiri. Dia adalah orang terhormat di kalangan masyarakatnya dan mempunyai kekuatan di negerinya sendiri. Namun, dia ingin bergabung dengan Tuan-tuan juga. Jadi, kalau memang Tuan-tuan merasa dapat menepati janji seperti yang Tuan-tuan berikan kepadanya itu dan dapat melindungi dari mereka yang menentangnya, maka silahkan Tuan-tuan laksanakan. Akan tetapi, jika Tuan-tuan akan menyerahkan dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada di tempat Tuan-tuan, maka dari sekarang lebih baik tinggalkan saja."

Orang Yatsrib menjawab, "Sudah kami dengar apa yang Tuan katakan. Sekarang silahkan Rasulullah SAW bicara. Kemukakan apa yang Tuan senangi dan disenangi Allah."

Setelah membacakan ayat-ayat Allah, Rasulullah SAW bersabda, "Saya minta ikrar Tuan-tuan untuk membela saya seperti membela isteri-isteri dan anak-anak Tuan-tuan sendiri."

Terjadilah dialog panjang sebelum keputusan ikrar diucapkan oleh mereka. Pada akhirnya mereka menjawab, "Akan kami terima, sekalipun harta benda kami habis dan bangsawan kami terbunuh. Namun, kalau dapat kami tepati semua ini, apa yang akan kami peroleh?"

Rasulullah SAW menjawab tegas, "Surga."

Kedatangan orang-orang Yatsrib ke Mekkah dalam rentang perjuangan Rasulullah SAW selama 13 tahun di Mekkah, adalah bentuk pertolongan Allah yang di luar pengamatan orang-orang Quraisy waktu itu. Pada saat mereka sibuk meneror seluruh penduduk Mekkah agar tidak menjadi pengikut Muhammad SAW, di tempat terpisah, orang-orang Yatsrib mampu mengembangkan ajaran Islam dengan baik di kota Yatsrib. Berkat pertolongan Allah melalui orang-orang yang dijuluki Anshar itu, Islam tumbuh kuat nun jauh di sana, di luar jangkauan kaum Quraisy di Mekkah.

Ketika tiba saatnya, kaum musimin memindahkan basis perjuangannya ke Yatsrib, tanpa membuang waktu lagi, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya menyusul kaum Anshar ke Yatsrib. Dengan sangat cerdik, beliau memerintahkan kaum muslimin hijrah dengan berpencar-pencar dan diam-diam agar tidak menimbulkan kepanikan kaum Quraisy.

Namun demikian, mereka pada akhirnya tahu juga. Mereka panik dan segera saja memerintahkan untuk mencegah gelombang perpindahan itu. Kaum muslimin dibujuk supaya kembali kepada sembahan lama dengan imingan harta benda. Jika tidak mau, mereka disiksa dan diintimidasi. Ada seorang isteri yang dipisahkan dari suaminya. Bila dia orang Quraisy, ia tidak diperkenankan hijrah mengikuti suaminya. Jika tidak menurut, wanita itu akan dikurung.

Blokade untuk berhijrah dijalani dengan ikhlas oleh kaum muslimin. Mereka rela berpisah dengan keluarganya, bahkan meninggalkan semua hartanya demi berhijrah meraih kebebasan menyembah Allah SWT. Tentu alasan mereka tidaklah sederhana. Ketaatan kepada Allah dan RasulNya menjadi faktor penyemangat dan optimisme.

Ancaman kehilangan keluarga, karib kerabat, atau bahkan harta benda tidak mampu membendung langkah mereka untuk berhijrah karena kecintaan mereka kepada Allah dan RasulNya. Mereka yakin, Allah lah yang akan menggantikan semuanya. Tidak ada sesuatu yang perlu diragukan karena yang memerintahkan hijrah adalah Allah dan RasulNya.

Sepenggal kisah Hijrah Nabi ini memberikan pelajaran yang cukup berharga. Jika kita "berhijrah" dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka tidak ada sesuatu yang perlu ditakutkan akan nasib di masa depan berkait dengan jaminan Allah atas rezeki. Hikmah ini cukup relevan bagi mereka yang saat ini ingin kembali kepada nilai Islam, namun mereka menghadapi ancaman pemutusan sumber ekonomi.

Pemutusan hubungan kerja, embargo ekonomi, sangsi perdagangan adalah sebagian bentuk ancaman yang sering muncul karena muatan ideologis, baik dalam level individu maupun kenegaraan. Selama ummat Islam takut menghadapi ancaman-ancaman seperti itu, kemandirian tidak pernah dapat terwujudkan. Sebaliknya, ancaman-ancaman seperti blokade yang terjadi di Palestina dan jalur Gaza akan semakin menjadi-jadi.

Sungguh mengenaskan bila ummat Islam, khususnya di Timur Tengah, tidak mampu membangun solidaritas untuk Palestina dan Gaza yang terakhir ini mengalami bombardir Israel yang berakibat lebih dari 400 orang mengalami kesyahidan, dan 1000-an orang mengalami luka-luka. Seharusnya dengan semangat hijrah seperti dicontohkan Rasulullah SAW, pembebasan harus dilakukan walau dengan resiko yang pahit. Namun jika hanya Allah SWT dan RasulNya yang menjadi tujuan, Insya Allah kepahitan itu akan berganti dengan kemanisan. Adakah semangat hijrah seperti itu?

Wallahu a'lam bishshawab.


Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!

1 comment:

gemar dalam mebaca said...

wah penuh dengan hikmah blog antum bolenih ana tawarin ngunjungi blog ana kita saling memberi komentar
kunjungi blog ana di gemar membaca