Tuesday, April 22, 2008

Richelle Santos, Gadis Filipina

Selasa, 22 April 2008

Semenjak kecil, dia hidup dalam keluarga Katolik yang ketat. Ia bahkan dimasukkan sekolah biarawati. Tapi Allah berkehendak lain. Ia justru lebih memilih Islam

 Oleh: M. Syamsi Ali
 
Masih ingat sekitar setahun lalu, the Islamic Forum kedatangan peserta baru yang hampir saya sangka seorang santria dari Indonesia. Seorang gadis pendiam dengan kerudung rapi ala Indonesia duduk di salah satu sudut ruangan dengan malu tapi selalu tersenyum.

"Sorry, are you….from Indonesia?", tanyaku suatu ketika.

"Oh no! I am an American", jawabnya dengan pelan dan suara lembut.

"Tetapi anda terlihat sangat Asia. Jadi, apa latar belakang sukuan asli anda?" tanyaku lagi.

"Saya asli Filipina. Saya datang ke sini ketika masih berusia 5 tahun bersama ibu saya, " jelasnya.

Demikianlah Richelle Santos memulai pengenalan dirinya dengan kami di Islamic Center.  Richele masih relatif muda, tapi saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai finance analyst.

Alumni New York City University ini tinggal sendiri karena ibunya kemudian menikah lagi dan nampaknya suasana rumah tangganya tidak kondusif baginya untuk tinggal bersama.

Sekolah Biarawati

Selepas sekolah dasarnya, Richelle yang ibunya beragama yang Katolik sangat kuat memasukkannya ke sebuah sekolah pelatihan menjadi biarawati. Richelle bercerita, ketika dirinya berumur sekitar 11 tahun, ibunya sangat mengkhawatirkan bahwa dirinya akan jatuh dalam pergaulan yang salah. Untuk itu, dia disekolahkan di sebuah sekolah Katolik pelatihan biarawati di kota Manhattan.

Richelle menceritakan bagaimana ketatnya peraturan saat dia menimba ilmu di tempat tersebut. "Saya hampir tak bertahan dalam beberapa hari", katanya.

Saya jadi teringat di hari-hari pertama tinggal di pondok pesantren. Hingga hari ini selalu saya sebut sebagai "a divine jail" (penjara suci) karena betapa susahnya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Apalagi jika memang seseorang sudah di set dengan dunia tertentu.

"Dan akhirnya Anda menyelesaikan sekolah itu?" tanyaku suatu ketika.

"Not really…saya hanya tinggal lebih dari dua tahun di sekolah tersebut, jujur saja,  aku tidak pernah serius di dalam  studi ," katanya.

Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata jawabannya adalah karena dari pagi hingga sore dia diindoktrinasi dengan konsep-konsep yang dia sendiri tidak pernah yakini. "All those did make sense at all to me", katanya singkat.

Maka setelah dua tahun bertahan di sekolah Katolik pendidikan biarawati, Richelle meminta kepada ibunya untuk sekolah di sekolah umum. Untuk pertama kali ibunya menolak, tapi setelah Richelle menjelaskan banyak hal, termasuk beberapa bentuk pergaulan di asrama yang sama sekali tidak masuk akal, ibunya menuruti.

Demikian dari Sabtu ke Sabtu Richelle mengikuti dialog di Islamic Forum. Walaupun sangat pintar, tapi tidak pernah mengajukan pertanyaan kecuali jika dipancing. Mungkin darah Asia-nya masih sangat kental sehingga nampak sekali sangat malu dan sopan santun.

 

Beberapa kali Richelle juga menghadiri acara yang dilakukan di masjid Al-Hikmah, milik masyarakat Muslim Indonesia di New York. Salah satunya di saat masjid Al-Hikmah menjadi tuan rumah bagi tamu pembicara terkenal, Sr. Aminah Assilmi, mantan penganut Kristen radikal yang memeluk Islam dan saat ini menjadi seorang muballiggah yang go international.

Saat itu nampak Richelle menyimak kata per kata yang keluar dari mulut Sr. Aminah Assilmi. Bahkan nampak mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh beliau. Setelah selesai ceramah, sambil bercanda saya bertanya: "Apakan Anda akan menirunya di masa depan?". Richelle hanya menjawab dengan senyuman.

Big Day for me

Tiga minggu lalu, Richelle hadir agak pagi ke Islamic Center. Saya sendiri biasanya sibuk dengan weekend school tidak terlalu menghiraukan. Tapi sepintas saya melihat kepadanya dan nampak seperti gelisah. Menjelang shalat Zuhur saya bertanya: "what happens Richelle? I saw you a kind of …..".

Rupanya, belum tuntas saya bertanya kepadanya, Richelle sudah menjawab: "Oh no! I am fine", jawabnya seolah menyembunyikan sesuatu.

Shalat Zuhur dimulai. Richelle hanya duduk sendirian di kelas. Rupanya siang itu tidak terlalu peserta Islamic Forum yang mengikuti kelas. Saya memulai kelas siang itu dengan bahasa Arab (membaca Al-Quran), dilanjutkan dengan tafsir Q.S. Al-Hujurat. Richelle nampak serius mencatat hampir semua poin-poin penting yang saya sampaikan.

Tiba-tiba saja, di saat saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya, Richelle nampak mengalirkan air mata, sambil tersenyum malu, mengatakan: "Imam Shamsi, I want to convert!". (Ustad, saya ingin pindah agama!)

Semua yang hadir langsung terperanjat. Biasanya, keinginan untuk masuk ke Islam itu disampaikan setelah kelas, atau datang sendiri. Kali ini Richelle menyampaikan di tengah-tengah kelas masih berlangsung.

Lansung saja yang keluar dari mulut saya: "Alhamdulillah Richelle! Saya benar-benar sangat berbahagia mendengarnya.  Akhirnya Allah menunjukkan hatimu dan sekarang iman itu sedang kamu temukan."

Saya kemudian mengalihkan pembahasan siang itu dari Q.S. Al-Hujurat dan menjelaskan apa makna berislam. Saya yakin penjelasan saya sudah didengar berkali-kali oleh Richelle selama ini, tapi saya ingin untuk mengingatkan kembali.

Saya kemudian bertanya sekali lagi kepada Richelle. ""Anda telah bersama kita hampir dua tahun. Apa yang sesungguhnya anda temukan di dalam agama ini ?"

"Oh, aku pikir aku harus jujur. Dari sangat semula aku bergabung di kelas mu, aku telah dibuat kagum oleh pengajarannya. Aku tidak memiliki hal untuk menentangnya.", jelasnya.

"But what really makes you take too long to decide?", tanyaku lagi.

"Aku berpikir aku hanya merencanakan sesuatu dengan pasti bahwa aku dengan penuh kesadaran akan segala sesuatu memerlukanku sebagai seorang Muslim. Aku perlu untuk mengetahui tentang larangan dan perintah. Maka Saya dapat mencoba untuk mengikutinya dalam  kehidupan ku", jelasnya.

Langsung saja saya meminta kepada hadirin untuk menjadi saksi. Tapi tidak lupa saya sampaikan ke Richelle bahwa Allah in the best witness. Seraya mebiarawatiduk, Richelle dengan berlinang airmata mengikuti ikrar tauhid:

"Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah".

Yang saya rasakan adalah ketulusan dan kemantapan hati dari Richelle dalam menerima Islam. Siang itu, ruangan kelas the Islamic Forum memang terharu. Hampir semua yang hadir ikut meneteskan airmata karena tersentuh dengan linangan airmata Richelle. Dia hanya sempat menyelah sambil mengusap airmata: "Today is a big day for me!".

Semoga engkau, Richelle, dikuatkan dan selalu dijaga dalam menjalani agamaNya. [www.hidayatullah.com]

New York, 14 April 2008

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com

 

 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Monday, April 21, 2008

“Pemikiran Modern Ala Barat: Paradigma Baru Pendidikan Islam di Indonesia”

"Pemikiran Modern Ala Barat: Paradigma Baru Pendidikan Islam di Indonesia" Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Senin, 21 April 2008

Studi Islam di Perguruan Tinggi saat ini semakin banyak dijejali dengan pendekatan historis ala Barat. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-323

Oleh: Adian Husaini

Harian Suara Karya, Jumat 11 Oktober 1985, memuat tulisan Prof. Dr. Harun Nasution yang menekankan perlunya umat Islam mengubah pola pikirnya mengikuti pola pikir Barat modern. Artikel itu berjudul "Ajaran Islam tentang Akal dan Akhlak". Harun menulis, bahwa ia pernah mendapat pertanyaan dari Madame Haydar, istri seorang koleganya dari Kedubes Libanon di Brussel, Belgia:

"Mengapa orang-orang Nasrani umumnya berkelakuan baik, berpengetahuan tinggi dan menghargai kebersihan, sedang kita orang Islam umumnya kurang dapat dipercayai bodoh-bodoh dan tidak tahu kebersihan?"

Harun bertanya kepada Madame Haidar:

"Yang Anda maksud barangkali orang-orang Eropa dan bukan orang-orang Nasrani. Eropa memang sedang berada dalam zaman kemajuannya, sedang Timur masih dalam zaman kemunduran. Ekonomi Eropa yang maju mmebuat orang-orangnya mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan baik lebih tinggi sedang Timur yang miskin, orang-orangnya kebanyakan tinggal dalam ketidaktahuan."

Lalu, Madame Haidar melanjutkan lagi:

"Yang saya maksud bukan orang Eropa, tapi orang Nasrani. Apa yang saya sebut adalah kenyataan di negeri saya sendiri, Libanon. Kalau kita perhatikan orang Islam yang pergi ke mesjid, kita lihat wajah mereka tidak berseri dan pakaiannya kotor-kotor. Tetapi sebaliknya orang-orang Nasrani yang pergi ke gereja bersih wajah dan pakaiannya. Ekonomi mereka lebih baik dari ekonomi orang Islam. Demikian juga pendidikan mereka lebih tinggi. Orang –orang Islam ketinggalan."

Terhadap pernyataan Madame Haidar itu, Harun Nasution menyatakan persetujuannya. Dia menulis dalam artikelnya tersebut:

"Keadaan umat Islam sebagai digambarkan Madame Haidar itu bukan hanya terbatas bagi umat Islam di Libanon. Hal serupa juga kita alami di Indonesia. Umat Islam di negeri kita lebih rendah ekonomi dan pendidikannya dari umat lain. Masalah kita di Indonesia ialah umat Islam yang berjumlah besar, tetapi ekonominya lemah dan pendidikannya tidak tinggi. Sedang umat lain sungguhpun minoritas mempunyai kekuatan ekonomi dan pendidikan yang baik. Di pusat lahirnya Islam, di Mekah dan Medinah, kita jumpai juga umat Islam tidak mempunyai kemajuan dan dari segi budi pekerti juga tidak menggembirakan. Di Mesir hal yang sama kita jumpai. Umatnya diperbandingkan dengan umat lain yang ada di sana, yaitu sebelum orang-orang Yahudi, Yunani dan lain-lain meninggalkan negeri itu, jauh ketinggalan dalam soal ekonomi, pendidikan dan budi pekerti. Di Turki, Suria, Yordan, Aljazair, India dan Pakistan hal yang sama dijumpai. Maka pengamatan Madame Haidar dalam pertanyaan yang dimajukannya adalah benar untuk dunia Islam pada umumnya. Dialog itu menyadarkan saya bahwa persoalannya bukanlah semata-mata persoalan kebudayaan, tetapi adalah pula masalah agama."

Demikianlah dialog Harun Nasution dan Madame Haidar yang diungkapkan Harun Nasution dalam artikelnya di Harian Suara Karya.

Setelah menunggu selama tiga minggu dan tidak ada seorang pun yang mengkritik artikel Prof. Harun tersebut, Prof. HM Rasjidi akhirnya memaksakan diri mengangkat pena dan memberikan kritiknya. Saat menjadi Associate Professor di McGill University, Rasjidi adalah orang yang mengusahakan agar Harun dapat melanjutkan studinya di McGill. Tapi, seperti pernah kita bahas dalam beberapa tulisan, belakangan, Rasjidi banyak mengkritik pemikiran Harun Nasution yang dinilainya terlalu berorientasi ke Barat.

Dalam tanggapannya, Prof. Rasjidi menulis:

"Membaca tulisan Prof. Harun tersebut, saya menjadi sesak nafas, dan bertanya-tanya: Mengapa dengan mudah menerima segala cacian dan penghinaan kepada umat Islam. Kalau dari permulaan kita sudah bersikap: menyerah, tidak percaya diri sendiri, maka tak mungkin kita dapat mempertahankan diri kita. Kalau seorang petinju, sebelum memasuki gelanggang pertarungan, sudah menggambarkan bahwa musuhnya kuat, tak dapat dikalahkan, bahwa pukulannya sangat jitu dan berbahaya, maka mustahillah ia akan memenangkan pertandingan. Rasa kesal saya bertambah ketika membaca paragraf selanjutnya, karena paragraf itu berbunyi: Dialog itu menyadarkan bahwa "persoalan bukan semata-mata persoalan kebudayaan, tetapi adalah pula masalah agama."

Rasjidi yang menyelesikan disertasi doktornya dalam studi Islam di Sorbone University, Paris, lalu memaparkan bahwa soal kebodohan dan kekotoran adalah masalah yang dihadapi oleh tiap-tiap umat beragama, bukan hanya persoalan umat Islam. Tapi, kata Rasjidi, "... hal pertama yang sangat penting adalah: Kita harus mempunyai harga diri." Dialog antara Harun dengan Madame Haidar, kata Rasjidi, "Adalah dialog antara dua jiwa yang banyak persamaannya, ya'ni jiwa yang kena cekokan dari Barat bahwa Kristen itu bersih, pandai dan mempunyai sifat-sifat yang baik, sedang Islam adalah kotor, bodoh, perangai jahat dan seterusnya."

Kritik Prof. Rasjidi terhadap artikel Harun Nasution tersebut sangat penting kita telaah, sebab membuka mata kita, bahwa dalam soal pemikiran Islam, persoalannya bukan semata-mata logika, tetapi ada faktor lain yang juga perlu ditelaah, yaitu soal mental, "aspek kejiwaan". Mental minder, mental rendah diri dalam melihat peradaban Barat itulah yang menjadi faktor penting, sehingga seringkali menutup seluruh logika yang sehat.

Dengan posisinya sebagai Rektor IAIN Jakarta dan kemudian sebagai Direktur Program Pasca Sarjana IAIN Jakarta, Harun senantiasa dianggap sebagai peletak dasar pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, yang dilakukan melalui IAIN Jakarta. Tahun 1973, bukunya "Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya" dijadikan sebagai buku rujukan wajib di seluruh Perguruan Tinggi Islam. Dengan dukungan Menteri Agama Mukti Ali – yang juga alumnus McGill University -- proyek pembaratan (Westernisasi) IAIN kemudian dilakukan secara sistematis. Pelan tapi pasti, sejak 35 tahun lalu (tahun 1973), kiblat studi Islam di IAIN diarahkan ke Barat.

Dalam kaitan inilah, peran pusat Studi Islam McGill Kanada yang didirikan oleh Prof. Wlfred Cantwell Smith sangat signifikan. Peran besar McGill dalam pembaratan studi Islam di Indonesia dijelaskan dalam buku "Paradigma Baru Pendidikan Islam", yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun 2008. Ditulis dalam buku ini:

"Melalui pengiriman para dosen IAIN ke McGill dalam jumlah yang sangat masif dari seluruh Indonesia, berarti juga perubahan yang luar biasa dari titik pandang tradisional studi Islam ke arah pemikiran modern ala Barat. Perubahan yang paling menyolok terjadi pada tingkat elit. Tingkat elit inilah yang selalu menggerakkan tingkat grass root." (hal. 6, cetak tebal dan miring dari saya, Adian).

Tentang peran Harun Nasution dalam pembaratan IAIN ditulis dalam buku ini:

"Harun Nasution mengusung pembaruan pemikiran keislaman. Dia mengenalkan multi pendekatan dan memperjuangkannya dengan sangat konsisten. Pengaruh pemikirannya sangat kuat di kalangan IAIN dan STAIN seluruh Indonesia dan masih dirasakan sampai sekarang." (hal. 7)

Ditulis dalam buku ini, bahwa pembaruan Islam perlu dilakukan, karena yang menjadi masalah umat Islam Indonesia adalah bahwa sampai saat ini adalah kurang berkembangnya pandangan pluralistik atau penghargaan atas perbedaan di kalangan umat. Pada zaman Harun, tulis buku ini, pengajaran keagamaan sangat normatif dan terpaku pada salah satu paham atau aliran pemikiran, atau bahkan kelompok atau pemikiran orang tertentu dan sangat fiqih oriented. Model pendidikan yang seperti itu dapat dipastikan akan menghasilkan lulusan yang mempunyai pemahaman dan pemaknaan agama yang sempit. "Dampak negatifnya adalah kemungkinan munculnya pemahaman yang melihat segala hal yang berbeda dengan paham tersebut sebagai salah, menyimpang dan bahkan sesat." (hal. 8).

Untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam di IAIN, Harun Nasution mencari akar pembenarannya dalam teologi rasional ala Mu'tazilah dan mengenalkannya kepada masyarakat lewat buku dan pengajarannya di IAIN dan program pascasarjana IAIN Jakarta. "Selama menjadi rektor (1973-1984) dan setelahnya sampai tahun 1990-an sebagai Direktur pada program studi lanjutan pertama yang dibuka di IAIN Jakarta, Nasution mengembangkan pemikiran Islam rasional dan menjadikan program S1 dan pasca sarjana IAIN Jakarta sebagai agen pembaharuan pemikiran dalam Islam dan tempat penyemaian gagasan-gagasan keislaman yang baru." (hal. 8).

Membaca buku "Paradigma Baru Pendidikan Islam" yang diterbitkan Departemen Agama ini kita menjadi paham, bagaimana proyek pembaratan IAIN ini secara sistematis dijalankan selama lebih dari 30 tahun. Pemuktazilahan IAIN seperti digambarkan dalam pemikiran Harun hanyalah slogan, karena faktanya adalah pembaratan, seperti yang dibanggakan sebagai bentuk kemajuan dalam pendidikan Islam. Inilah yang dikatakan sebagai "Paradigma Baru Pendidikan Islam".

Jika kita membaca buku yang disusun para alumni Studi Islam McGill ini, yang dikatakan sebagai "Paradigma Baru" dalam pendekatan studi Islam tidak lain adalah mengikuti pendekatan studi Islam yang menekankan pada pendekatan sejarah (historis) dan bukan pendekatan normatif. Metode pendekatan sejarah ini digunakan antara lain karena kekaguman Mukti Ali terhadap gurunya di McGill, yaitu Prof. Wilfred Cantwell Smith, seperti ditulis dalam buku ini:

"Smith adalah sosok yang kemudian selalu dikagumi Mukti Ali karena sikap ramahnya terhadap Islam dan metodologi yang dipakainya dalam mempelajari Islam. Menurut Mukti Ali, Smith tidak hanya menarik dari sisi simpatiknya terhadap Islam tetapi juga dari pendekatan holistik yang digunakannya. Bahwa Islam tidak semata fenomena normatif, tetapi harus dipandang dari sudut lain, sebagai fakta sejarah dan sebagaimana agama-agama lain di dunia, Islam muncul dalam peradaban manusia. Maka pendekatan yang digunakan pun pendekatan kemanusiaan. Empiris kemanusiaan menjadi pendekatan yang dipilih untuk mendekati ajaran Islam dan fenomena umatnya." (hal. 10).

Buku ini sebenarnya menceritakan kesuksesan proyek kerjasama McGill dengan UIN Jakarta dan UIN Yogya. Karenanya proyek ini akan diteruskan. Ada dua hal penting yang dikembangkan dalam kerjasama ini. Yaitu penyelenggaraan proram Kajian Antar Bidang dalam studi Islam (Interdisciplinary Islamic Studies/IIS) dan pengembangan kurikulum berbasis gender. Dalam IIS, yang ditekankan adalah kajian Islam yang menekankan pada konteks sosial dan historis. "Oleh karena itu, kajian Islam yang memperhatikan konteks sosial dan historis serta menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu sosial sangatlah dibutuhkan." (hal. 168).

Marilah kita simak betapa naifnya alasan dan tujuan penggunaan metode studi Islam model Barat ini:

"Terlebih selama ini pendekatan yang digunakan dalam dunia pendidikan secara dominan masih bersifat normatif dan kurang historis. Dengan demikian, program ini akan menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki paradigma historis dalam kajian Islam. Pendekatan historis dan empirik dalam kajian agama akan dipandang penting untuk meningkatkan tradisi keilmuan dan menciptakan model pemahaman keagamaan yang bijak, demokratis dan toleran."

Membaca buku ini kita menjadi lebih paham, mengapa buku-buku Studi Islam di Perguruan Tinggi saat ini semakin banyak dijejali dengan pendekatan historis ala Barat. Ternyata, memang semua ini adalah proyek pembaratan secara sistematis. Metode ini telah mengubah cara pikir begitu banyak cendekiawan yang terjebak kepada "penyamaan" Islam dengan agama-agama lain, dengan menempatkan Islam sebagai bagian dari produk sejarah. Padahal, Islam adalah agama wahyu yang memiliki karakter yang khas, yang berbeda dengan agama-agama lain. Al-Quran juga merupakan teks wahyu yang tidak sama dengan kitab-kitab lain yang merupakan teks manusia dan teks sejarah. Karena itu, metode pemahamannya juga tidak bisa begitu saja menggunakan pendekatan pemahaman historisitas yang serba relatif.

Kita sudah beberapa kali disuguhi pemikiran yang menggelikan dari sejumlah dosen UIN/IAIN yang menggunakan metode pendekatan historis kontekstual dalam studi Islam. Misalnya, mereka menghalalkan perkawinan antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim dengan alasan hal itu tergantung konteks sejarah dan budaya Arab yang patriarki. Ada juga dosen syariah IAIN Semarang – yang menggunakan pendekatan sejarah – yang kemudian berpendapat bahwa mahar dalam perkawinan bisa juga diberikan oleh mempelai wanita, tergantung situasi sosial dan budayanya. Keharusan memberikan mahar bagi laki-laki, menurut dia, adalah kaena ayat Al-Quran turun di Arab yang budayanya patriarki.

Menyimak semua ini tidak sulit bagi kita untuk melihat sebuah bentuk penjajahan intelektual yang sangat sistematis dalam merusak pemikiran Islam. Dengan pendekatan historis kontekstual ini, tidaklah sulit bagi kita untuk memahami, kemana arah tujuan studi Islam ala Barat ini dikembangkan. Yaitu, tirulah cara berpikir Barat yang serba relatif. Kebenaran tergantung pada situasi sosial dan budaya. Tidak ada kebenaran yang tetap. Dalam kasus "aurat wanita", misalnya, akan dikatakan bahwa aurat itu fleksibel tergantung situasi sosial dan budaya. Begitu juga dalam soal-soal ajaran dan hukum Islam lainnya. Ujung-ujungnya, para mahasiswa dan sarjana digiring untuk berpikir ala Barat yang bersikap netral terhadap "al-Haq dan al-Bathil"; yang tidak bicara lagi soal "Iman dan kufur", "tauhid dan syirik", dan sebagainya. Semua itu dianggap sebagai hal normatif.

Kita mengimbau kiranya pejabat dan para cendekiawan kita sadar akan kekeliruan dan bahaya besar dalam pengembangan studi Islam model Barat di perguruan Tinggi Islam. Sangat memprihatinkan jika ternyata yang disebut sebagai "Paradigma Baru Studi Islam" adalah "Paradigma Pemikiran Modern Ala Barat" seperti yang dipaparkan dalam buku ini.

Kita melihat hal yang sangat ironis. Begitu mudahnya para cendekiawan itu dicekoki pemahaman yang sangat naif dan tidak realistis bahwa masalah utama umat Islam Indonesia adalah kurangnya pemahaman Islam yang pluralis, pemahaman yang historis; bahwa kajian Islam yang normatif adalah sumber masalah, sumber intoleransi umat beragama, dan sebagainya. Karena itu, perlu digunakan ilmu-ilmu sosial Barat dalam studi Islam, agar menghasilkan pemahaman yang tidak mutlak, yang toleran, dan seterusnya!

Bukankah ini logika yang naif! Bukankan Barat sendiri terbukti sangat tidak toleran, karena terus-menerus memaksakan sekularisme, liberalisme, pluralisme dan paham Barat lain kepada seluruh umat manusia. Mereka yang ingin menerapkan ajaran Islam dalam kehidupannya, yang menolak pandangan hidup Barat, secara serampangan lalu diberi cap "fundamentalis", "radikal", "konservatif", dan seabrek 'julukan miring' lainnya. Yang mau ikut Barat dipuji-puji sebagai kaum intelektual yang toleran, progresif, dan sebagainya. Jangan heran, jika di antara mereka, lahir orang-orang seperti Geert Wilders, sutradara film Fitna, yang menyampaikan pesan di akhir film-nya: "Stop Islamization. Defend our freedom!". Peradaban seperti inikah yang disebut toleran?

Dalam artikelnya di Majalah ISLAMIA (edisi 1/2004), Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, guru besar bidang pendidikan dan pemikiran Islam di Universitas Islam Internasional Malaysia, mengingatkan dampak besar penggunaan metode Barat dalam pemahaman Islam, seperti hermeneutika: "Jika kita mengadopsi satu kaedah ilmiah tanpa mempertimbangkan latar-belakang sejarahnya, maka kita akan mengalami kerugian besar. Sebab kita akan meninggalkan metode kita sendiri yang telah begitu sukses membantu kita memahami sumber-sumber agama kita dan juga telah membantu kita menciptakan peradaban internasional yang unggul dan lama."

Seabrek argumentasi bisa kita berikan tentang perlunya umat Islam tidak tunduk kepada metode Barat dalam memahami Islam. Tapi, seperti disampaikan Prof. HM Rasjidi saat mengkritik Prof. Harun Nasution, bahwa masalahnya bukan hanya terletak pada soal logika, tapi ada aspek "kejiwaan" yang terlibat di dalamnya.

Ada baiknya kita hayati nasehat Pak Rasjidi, "Kita harus mempunyai harga diri!" [Jakarta, 11 Rabiulakhir 1429 H/18 April 2008/www.hidayatullah.com].

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com


 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Tuesday, April 15, 2008

Suprise

Sepasang suami istri baru menikah, si suami ingin memberikan surprise pada
istri yang cantik jelitanya, suatu hari si suami berkata kepada istrinya:
"Sayang, kita pergi yuk, tapi mata kamu harus ditutup yah...!"
"Kok harus ditutup sih mas...?" kata istriny
"Yah, pokoknya ada sesuatu untukmu..... "
Merekapun berangkat dengan menggunakan taxi, begitu sampe di tempat
yang dituju mereka turun, kemudian si suami mengajak istrinya masuk ke rumah
baru yang
dijadikan sebagai surprise untuk istrya, tapi si suami masih belum
mengijinkan
istrinya membuka tutup mata.
Ternyata si istri ingin buang angin, tapi karena masih malu sama
suaminya si istri pura-pura minta tolong dibikinin minuman
"Mas, am! bilin saya minum dong...!"
Suaminya kemudian pergi mengembil minuman, ketika suaminya pergi si*
*istri buang angin "tuuuut.."
Pas si suami datang membawa minuman, ternyata si istri masih ingin buang
angin,
akhirnya dia bilang ke suaminya ...
"Mas minumannya kurang manis, tambahin gula lagi yah...."
Si suami pergi lagi untuk menambahkan gula pada minuman istrinya,
ketika suaminya pergi si istri kentut lagi "tuuuuuut... ."
Kemudian si suami datang lagi untuk memberikan minuman, tapi ternyata
si istri masih ingin buang angin, akhirnya dengan berberat hati si istri
minta ditambahkan gula lagi, saat si suami pergi istrinya kembali buang
angin "Tuuuuut"
Akhirnya si istri merasa lega karena telah selesai dari keinginan buang
anginnya.
Ketika si suami tiba dan menyerahkan minuman, kemudian si suami membuka
tutup mata si istrinya, si istri terkejut karena ternyata di rumah sudah banyak
orang dan disampingnya ada mertuanya, sambil malu-malu si istri bertanya
pada mertuanya, "Oh Bapak, sudah lama datang..?"
Kemudian sang mertua menjawab,
"Sudah, sejak kentutan pertama..."*

Just Jock 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 

between 0000-00-00 and 9999-99-99  

Monday, April 14, 2008

Virus Liberal di UIN Malang

Senin, 14 April 2008

Banyak mahasiwa di kampus-kampus IAIN/UIN begitu "resah" melihat perkembangan pemikiran dosen-dosennya. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-231

Oleh: Adian Husaini

Pada hari Ahad, 6 April 2008, dalam sebuah acara Lembaga Dakwah Kampus di Malang, Jawa Timur, sejumlah mahasiswa UIN dan STAIN dari beberapa kampus mengajukan pertanyaan kepada saya, bagaimana cara menghadapi dosen-dosen yang mengajarkan paham liberalisme. Ada yang menyatakan, bahwa di kampusnya, posisinya terjepit, karena tidak mudah untuk mengkritik dosen-dosen yang dalam mengajar jutsru menanamkan keragu-raguan terhadap Islam.

Pertanyaan semacam itu sudah berulangkali dilontarkan para mahasiswa dalam berbagai kesempatan. Dan itu tidaklah aneh. Sebab, kampus-kampus saat ini memegang prinsip kebebasan berpendapat. Di kampus itu dijamin kebebasan berpendapat. Dosen berpikiran sesat atau tidak, itu bukan urusan pimpinan kampus. Tapi, dianggap urusan individu masing-masing. Ada yang beralasan, bahwa keragaman pemikiran dalam kampus adalah bagian dari kekayaan dan kebebasan akademis.

Dalam pandangan Islam, tentu saja, pola pikir semacam itu tidak benar. Sebab, dalam Islam ada kewajiban melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Kemunkaran yang berat dalam Islam adalah kemunkaran ilmu. Dosen yang mengajarkan paham Pluralisme Agama, misalnya, jelas-jelas telah melakukan tindakan munkar, yang tidak kalah destruktifnya dibandingkan dengan dosen yang menilep uang kampus.

Akibat diterapkannya asas kebebasan itulah, maka banyak mahasiswa menjadi korban. Mereka harus berjuang sendiri menyaring, mana pemikiran dosen yang keliru dan mana pemikiran yang benar. Biasanya, karena kebingungan dan tidak dapat menemukan jawaban, yang terjadi adalah sikap bingung dan apatis. Setiap hari belajar Islam, tetapi dirinya tidak kunjung mendapatkan ilmu yang meyakinkan dan menenangkan hati. Yang seringkali terjadi justru keragu-raguan, skeptis, kebingungan, dan keresahan.

Kebingunan dan skeptisisme adalah buah dari penanaman paham relativisme kebenaran yang diajarkan kepada para mahasiswa. Virus ini sudah begitu luas menyebar. Seringkali orang yang mengidapnya tidak sadar. Bahkan, banyak yang bangga mengidapnya; bangga karena tidak lagi meyakini Islam sebagai suatu kebenaran. Virus ini memang tidak menyerang tubuh manusia, yang diserang adalah pikiran.

Pengidap virus liberal ini biasanya sangat membanggakan akalnya dan mengecam orang Islam yang menjadikan wahyu sebagai pegangan kebenaran. Akal, kata mereka, lebih penting daripada wahyu. Mereka berpikir secara dikotomis, bahwa akal dan wahyu adalah dua entitas yang bertentangan. Jika akal bertentangan dengan wahyu, kata mereka, maka tinggalkan wahyu, dan gunakan akal. Karena mereka merelatifkan semua pemikiran yang merupakan produk akal manusia, maka jadilah mereka manusia-manusia relativis, yang tidak mengakui bahwa manusia bisa mencapai kebenaran yang hakiki yang meyakinkan ('ilm).

Paham yang mendewakan akal semacam ini sudah lama ditanamkan di Perguruan Tinggi Islam. Pelopornya adalah Prof. Harun Nasution. Seperti dikatakan sendiri oleh Harun Nasution, bahwa misi dia dalam melakukan pembaruan pemikiran dan kurikulum di IAIN adalah mengembangkan paham Mu'tazilah di IAIN. Dalam buku "Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution", Harun Nasution mengatakan:

"Sejak awal di McGill, aku sudah melihat pemikiran Muktazilah maju sekali. Kaum Muktazilah-lah yang bisa mengadakan satu gerakan pemikiran dan peradaban Islam. Selanjutnya malah mendirikan universitas di Eropa. Ini yang membuatku berfikir: kalau Islam zaman dulu begitu, mengapa Islam sekarang tidak. Sebaiknya Islam zaman sekarang lebih didorong lagi ke sana.

Sejak itu harapanku cuma satu: pemikiran Asy'ariyah mesti diganti dengan pemikiran-pemikiran Muktazilah, pemikiran para filosof atau pemikiran rasional. Atau dalam istilah sekarang, metodologi rasional Muktazilah. Sebaliknya, metodologi tradisional Asy'ariyah harus diganti."

Sejak awal tahun 1970-an sebenarnya sudah banyak yang memberikan kritik terhadap pemikiran Harun Nasution. Salah satu kritik yang serius diberikan oleh senior Harun Nasution di McGill, yaitu Prof. Dr. HM Rasjidi. Tetapi, kritik Rasjidi dianggap angin lalu. Proyek 'Muktazilahisasi' IAIN pun sebenarnya hanya batu pijakan untuk melakukan Westernisasi IAIN, sebab pemikiran yang dikembangkan kemudian, bukanlah benar-benar pemikiran Muktazilah, tetapi pemikiran Islam ala Barat.

Karena itulah, kini, dengan mudah kita bisa mengamati, luasnya peredaran virus lieral ini. Virus! Sekecil apa pun dia, tetaplah virus. Dia mempunyai daya yang merusak seluruh jasad. Virus pemikiran ini pun tidak berbeda hakekatnya dengan virus penyakit yang mempunyai daya rusak yang tinggi terhadap jasad. Jika pikiran seseorang sudah dirusak oleh virus liberal, maka dia pun otomatis akan menjadi penyebar virus yang sama ke pada orang lain.

Saat berada di Kota Malang, 6 April 2008 itu, saya menemukan sebuah buku berjudul "Intelektualisme Islam: Melacak Akar-akar Integrasi Ilmu dan Agama– Seri Ensiklopedia Islam dan Sains," terbitan Lembaga Kajian Al-Qur'an dan Sains (LKQS) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, 2006. Inilah salah satu lembaga yang diandalkan oleh UIN Malang untuk mengeluarkan konsep-konsep yang Qur'ani.

Kita berharap, mudah-mudahan UIN Malang benar-benar menjadi kampus Islam yang serius dalam menegakkan konsep keilmuan Islam dan menerapkannya dalam kehidupa akademis di kampusnya. Kita berharap, dari kampus-kampus Islam akan lahir cendekiawan-cendekiawan Muslim yang mumpuni keilmuannya dan memiliki keyakinan dan komitmen yang kuat dalam perjuangan menegakkan kebenaran.

Untuk meraih cita-cita itu, maka para dosen dan khususnya pimpinan kampus Islam perlu sangat serius dalam merumuskan konsep keilmuan Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di kampusnya. Sebagai layaknya seorang yang menanam padi, maka petani bukan hanya harus rajin memupuk dan merawat tanamannya, tetapi pada saat yang sama, juga harus menjaga tanamannya dari serangan hama yang merusak tanaman. Adalah aneh, jika ada petani yang rajin memupuk padinya, tetapi membiarkan saja tanamannya dimangsa tikus, ulat tanaman, atau jenis-jenis hama lainnya. Virus-virus liberal yang bergentayangan di dunia kampus dan masyarakat saat ini tak ubahnya seperti hama yang menggerogoti tanaman.

Jika kita telaah buku "Intelektualisme Islam" terbitan UIN Malang ini, kita mendapati pemikiran yang kontradiktif. Banyak pemikiran yang baik, tetapi sekaligus juga pemikiran yang merusak. Antara obat dan racun dipadukan menjadi satu. Salah satu artikel yang berisi racun pemikiran berjudul, "Pengembangan Ilmu Agama Islam Berbasis Integrasi", ditulis oleh seorang dosen UIN Malang yang menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di UIN Yogyakarta.

Mengikuti garis pemikiran Harun Nasution, dosen UIN Malang ini juga memuji habis-habisan paham Muktazilah dan mencaci maki paham Ahlu Sunnah dan para tokohnya. Simaklah kutipan dari artikel tersebut:

"Matinya filsafat di dalam tradisi pemikiran Islam menunjukkan, secara implisit, hilangnya otoritas kelompok muktazilah dalam mengendalikan pemerintahan, karena ia satu-satunya aliran yang mengagungkan akal. Mereka digantikan oleh kelompok sunni yang lebih menjunjung tinggi wahyu dari pada akal. Watak pemikiran sunni yang anti akal, pada giliran selanjutnya, menjelma ke dalam bentuk propaganda "anti-filsafat" dan "filsafat bertentangan dengan agama. Maka tidak heran jika kemudian muncul tokoh semisal sang hujjah al-Islam, Imam al-Ghazali, seorang tokoh besar dari kalangan sunni, sangat anti filsafat, meskipun sebelumnya ia termasuk pecinta filsafat. Bukunya Tahafut al-Falasifah" merupakan bukti sejarah atas ketidaksenangannya terhadap filsafat

Propaganda seperti itu semakin mendapat justifikasi di tangan seorang ahli fiqih yang juga tokoh sunni, Imam Syafi'i, dengan kitabnya "ar-Risalah". Sejak saat itu, terjadi penyeragaman pemikiran keagamaan. Lewat karya itu, nalar agama diresmikan. Ketika kita bicara tentang Islam dan bagaimana cara untuk menyelesaikan persoalan yang muncul di muka bumi, maka semua jawabannya ada di dalam Al-Qur'an, sebuah ortodoksi keagamaan yang dipaksakan." (hal. 279-280).

Begitulah pendapat seorang dosen UIN Malang tentang Muktazilah dan Ahlu Sunnah. Kita mungkin bertanya, virus apa yang menjangkiti dosen UIN Malang itu, sampai begitu rupa menjadi pemuja Muktazilah dan menistakan Ahlu Sunnah? Padahal, dia adalah alumnus pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik, -- satu pesantren NU yang tentunya berpaham Ahlu Sunnah, dan bukan Muktazilah. Kita bisa menebak, si dosen ini terjangkit virus liberal semacam ini di tempat dia menimba ilmu, yaitu di UIN Yogya.

Jika kita mau menggunakan akal kita sedikit saja, maka kita dengan mudah dapat menemukan bahwa pemikiran dosen UIN Malang tersebut tentang Muktazilah dan Ahlu Sunnah adalah "asbun". Menyebut bahwa watak pemikiran sunni adalah "anti akal" adalah sangat keterlaluan. Jawaban-jawaban kaum Sunni terhadap pemikiran-pemikiran Muktazilah adalah jawaban-jawaban yang menggunakan akal, dan bukan menggunakan "dengkul".

Peneliti INSISTS, Henri Shalahuddin MA -- yang menulis skripsi (di ISID Gontor) tentang Muktazilah dan tesis Masternya (di IIUM) tentang al-Ghazali -- telah menerbitkan sejumlah makalahnya tentang kekeliruan pemikiran Harun Nasution dalam soal Muktazilah dan Ahlu Sunnah. Misalnya, dalam permasalahan tentang rasionalitas baik dan buruk (al-Husnu wa l-qubhu aqliyani) yang menjadi perdebatan antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah. Fakhr al-Din al-Razi (w. 606 H) menyatakan, bahwa perbedaan antara Muktazilah dan Ahlu Sunnah bukan pada soal "kemampuan akal", apakah ia dapat mengetahui baik atau buruknya suatu perbuatan. Sebab keduanya sepakat bahwa akal manusia dapat mengetahuinya. Namun yang menjadi perdebatan adalah apakah suatu perbuatan yang berhak mendapatkan pahala atau siksa kelak di Akhirat, ditetapkan oleh akal atau wahyu?

Tokoh-tokoh Mu'tazilah, seperti Abu l-Hudzail al-'Allaf, Ibrahim al-Nazhzham dan al-Qadhi 'Abd al-Jabbar berpendapat bahwa sebelum datangnya wahyu, manusia tetap wajib mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi hal-hal buruk, sesuai dengan kemampuan akalnya. Sedangkan menurut Imam Asy'ari, pahala dan siksa hanya bisa ditetapkan dengan wahyu. Beliau mengutip ayat Al-Quran, antara lain: "...dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul" (QS. Isra': 15).

Jadi, dalam menjawab argumementasi Muktazilah, Asy'ari juga menggunakan akal. Tetapi, akal yang tidak lepas begitu saja dari wahyu. Dalam kajiannya terhadap pemikiran Harun tentang Muktazilah, Henri Shalahuddin menyimpulkan:

"Klaim Prof. Dr. Harun Nasution tentang rasionalisme Mu'tazilah dengan menafikan sisi rasionalitas paham Asy'ariyah, tidaklah tepat. Golongan Mu'tazilah yang diklaim paham yang paling rasional oleh Harun, sejatinya tidaklah demikian. Bahkan, Mu'tazilah seringkali membebani akal melebihi kapasitasnya, sehingga berlaku arogan di depan Sang Khalik. Seperti mewajibkan Tuhan mengutus Rasul, memberikan pahala atau siksa sesuai amal perbuatan manusia, membuat "kebijakan sendiri" kategori masuk surga atau neraka dan sebagainya."

Tentang kedudukan akal dan wahyu, dalam kitabnya, "al-Iqtishad fi l-I'tiqad", al-Ghazali membuat gambaran yang indah:

"Perumpamaan akal adalah laksana penglihatan yang sehat dan tidak cacat. Sedangkan perumpamaan Al-Qur'an adalah seperti matahari yang cahayanya tersebar merata, hingga memberi kemudahan bagi para pencari petunjuk. Amatlah bodoh jika seseorang mengabaikan salah satunya. Orang yang menolak akal dan merasa cukup dengan petunjuk Al-Qur'an, seperti orang yang mencari cahaya matahari tapi memejamkan matanya. Maka orang ini tidak ada bedanya dengan orang buta. Akal bersama wahyu adalah cahaya di atas cahaya. Sedangkan orang yang memperhatikan pada salah satunya saja dengan mata sebelah (picak, red), niscaya akan terperdaya".

Menistakan kemampuan dan peran kaum sunni dalam membangun peradaban Islam juga sangat a-historis. Kaum sunni telah terbukti dalam sejarah mampu mewujudkan peradaban Islam yang hebat. Yang membawa Islam ke berbagai pelosok dunia, termasuk ke wilayah Nusantara adalah kaum Sunni, bukan kaum Muktazilah. Karena itu, adalah berlebihan dan tidak beradab terlalu mudah mencaci maki kaum Sunni dan tokoh-tokohnya seperti Imam al-Ghazali, Imam al-Syafii, dan sebagainya. Sebagai gantinya, seperti kita baca dalam artikelnya, dosen UIN Malang ini pun akhirnya taklid buta pada tokoh-tokoh liberal seperti Nasr Hamid Abu Zayd dan Mohammed Arkoun.

Sebagai pengidap virus liberal, dosen semacam ini juga aktif menyebarkan virusnya, baik melalui pengajaran maupun tulisan. Sebagai salah satu kampus yang membawa nama Islam, seyogyanya UIN Malang juga peduli dengan virus-virus liberal yang merusak pemikiran mahasiswanya. Kita sebenarnya kasihan dengan dosen muda semacam ini. Pintar tapi keliru. Tapi, kita tahu, dia pun sebenarnya juga merupakan korban virus, yang mungkin tidak dia sadari. Kita juga kasihan kepada mahasiswanya. Belum jadi apa-apa nanti sudah rajin memaki-maki para ulama yang alim, shalih, begitu besar jasanya terhadap Islam.

Sebagai bagian dari umat Islam, kita wajib mengingatkan mereka. Mudah-mudahan pimpinan kampus UIN Malang mau peduli dengan masalah pemikiran semacam ini. Kita semua akan bertanggung jawab di hadapan Allah, kelak di Hari Kiamat. [Depok, 4 Rabiulakhir 1429 H/11 April 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com


 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 

 

Wednesday, April 9, 2008

Homoseksual dan Lesbian dalam Perspektif Fikih

Rabu, 09 April 2008
Sikap Islam dalam masalah homoseksual dan lesbian sudah jelas. Mengharamkan! Termasuk Ijma' para ulama tak pernah berselisih. [bagian pertama dari dua tulisan]

Oleh:  L. Supriadi, MA *

Image"Kurang syah, jika tak nyeleneh." Kalimat ini, barangkali tepat untuk dikatakan pada para aktivis gerakan Islam Liberal.  Sikap nyeleneh itu, paling tidak disampaikan oleh Dr. Siti Musdah Mulia --yang katanya-- guru besar UIN Jakarta baru-baru ini.  

Dalam sebuah diskusi yang diadakan di Jakarta hari Kamis 27 maret 2008 lalu, tiba-tiba ia mengeluarkan pernyataan bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam. (dilansir www.hidayatullah.com, Senin 31 maret 2008).

Tak hanya itu, Siti Musdah melanjutkan bahwa sarjana-sarjana Islam moderat mengatakan tidak ada pertimbangan untuk menolak homoseksual dalam Islam, dan bahwa pelarangan homoseks dan homoseksualitas hanya merupakan tendensi para ulama.  

Bagi sebagian kalangan, sebenarnya tidak ada yang baru dari pernyataan para aktivis liberal seperti Siti Musdah ini. Ia hanyalah pengulangan pemikiran teman-temannya di komunitas JIL (Jaringan Islam Liberal). Sekalipun isu atau wacana, yang dilontarkan berbeda tetapi gayanya hampir persis sama. Yang membuat ia berbeda adalah jarak rambahnya yang begitu jauh.

Beriringan dengan penghinaan dan penistaan media masa Barat terhadap Nabi Muhamad dan umat Islam. Isu yang disampaikan Musdah juga digulirkan oleh kaum Kristen dan Yahudi sekular-liberal Barat seperti di Belanda, Belgia dan Spanyol.  

Sekalipun tulisan ini tidak bermaksud mengaitkan atau menghubungkan kepentingan-kepentingan antara JIL nya Siti Musdah dengan Barat, tetapi kita patut bertanya, ada apa dibalik ini semua?

Sebenarnya, apa yang disampaikan Musdah hanyalah "membeo" Frank Van Dalen Ketua organisasi kaum homoseksual Belanda (COC) atau Boris Van Der Ham anggota parlemen dari partai sosial liberal Belanda yang menuntut persamaan hak para gay dan lesbian. Mereka juga mengecam gereja.  

Yang mengherankan juga adalah antusiasme yang berlebihan untuk membela wacana tersebut di tengah "usaha" segelintir orang yang tergabung dalam komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender)  untuk menuntut penyetaraan HAM, keadilan dan anti-diskriminasi.

Luth, Bible dan Sejarah Peradaban

Kalau kita telaah sejarah peradaban manusia, sebenarnya fenomena penyimpangan seksual sudah muncul jauh sebelum masa Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada masa Nabi Luth yang diutus untuk kaum Sadoum. Hampir semua kitab tafsir mengabadikan kisah tersebut ketika menyingkap kandungan ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah nabi Luth.

Allah berfirman : Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." [QS Al-A'raf:80-84].

Allah menggambarkan Azab yang menimpa kaum nabi Luth : "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim" [Hud : 82-83]

Semua ayat di atas secara jelas mengutuk dan melaknat praktik homoseksual karena bertentangan dengan kodrat dan kenormalan manusia.

Perlu diingat, sikap keras melaknat itu bukan hanya pada Islam. Namun juga pada agama Kristen.

Praktik homoseksual juga menjadi momok yang menakutkan di agama Kristen. Bibel menyebutnya sebagai ibadah kafir yang lazim dikenal dengan nama "pelacuran kudus". Ia sangat mengutuk dan mengecam pelakunya karena itu bertentangan dengan moral.

Dalam Perjanjian Baru, Roma 1:26-27, Rasul Paulus mengingatkan, bahwa praktik homoseksual adalah sebagian dari bentuk kebejatan moral dunia kafir, dari mana orang-orang kristen sebenarnya telah dibebaskan dan disucikan oleh Kristus.

Dalam Imamat 20:13 berbunyi : "Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri". Yang melakukannya diancam dengan hukuman mati.

"Hombreng" dan Fikih  

Dalam khazanah keilmuan islam khususnya fikih, praktik homoseksual dan lesbian –sering diplesetkan sebagai kaum "hombreng" mudah dicari rujukannya. Kelainan seksual yang dalam Islam ini sering disebut al faahisyah (dosa besar) yang sangat menjijikkan dan bertentangan dengan kodrat dan tabiat manusia. Oleh karenanya para ulama sangat mengutuk, mengecam dan mengharamkannya.  

Kalau ditelusuri secara gramatikal (bahasa) tidak ada perbedaan penggunaan kata antara homoseksual dan lesbian. Dalam bahasa arab kedua-duanya di namakan al liwath. Pelakunya di namakan al luthiy (lotte). Namun Imam Al-Mawardi membedakannya. Beliau menyebut homoseksual dengan liwath dan lesbian dengan sihaq atau musaahaqah. (lihat : al hawi al kabir karya al mawardi : juz :13 hal : 474-475)

Ibn Qudamah Al Maqdisi menyebutkan bahwa penetapan hukum haramnya praktik homoseksual adalah Ijma' (kesepakatan) ulama, berdasarkan nash-nash Al-Quran dan Al-Hadits. [al mughni juz :10 hal : 155].

Imam Al Mawardi berkata, "Penetapan hukum haramnya praktik homoseksual menjadi Ijma' dan itu diperkuat oleh Nash-nash Al-Quran dan Al-Hadits. [Kitab Al hawi al kabir, juz :13 hal : 475]

Mereka dalam hal ini berbeda pendapat mengenai jenis dan bentuk hukuman yang dikenakan kepada pelakunya. Itu timbul karena perbedaan dalam meng-interpretasi dalil-dalil yang bersumber dari Al-Quran, Al-Hadits dan Atsar (Fakta sejarah sahabat). 

Ayat-ayat di atas (Al A'raf : 80-84 dan Hud : 77-83) secara jelas berisi kutukan dan larangan Allah SWT terhadap pelaku praktik homoseksual. Itu juga diperkuat oleh hadits-hadits berikut:

Hadits riwayat Ibn Abbas : "Siapa saja yang engkau dapatkan mengerjakan perbuatan homoseksual maka bunuhlah kedua pelakunya". [ditakhrij oleh Abu Dawud 4/158 , Ibn Majah 2/856 , At Turmuzi 4/57 dan Darru Quthni 3/124].

Hadits Jabir : "Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth" [HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad]

Hadits Ibnu Abbas : "Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)" [HR Nasa'i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337]

Perbedaan atsar (penyikapan baik dengan kata atau perbuatan) para sahabat adalah dalam menentukan jenis hukuman yang dikenakan kepada pelaku. Diantara perbedaannya adalah; membakarnya dengan api, menindihnya dengan dinding, dijatuhkan dari tempat yang tinggi sambil menimpuknya dengan batu, ditahan di tempat yang paling busuk sampai mati.

Para ulama fikih setelah menyepakati haramnya praktik homoseksual dan lesbian, mereka hanya berbeda pendapat mengenai hukuman yang layak diberlakukan kepada pelaku. Perbedaan hanya  menyakut dua hal;  Pertama: perbedaan sahabat dalam menentukan jenis hukuman, sebagaimana tersebut di atas. Kedua: perbedaan ulama dalam mengkategorikan perbuatan tersebut, apakah dikategorikan zina atau tidak? Dan itu berimplikasi terhadap kadar atau jenis hukuman yang dikenakan.  [berlanjut bagian kedua…/www.hidayatullah.com]

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor di Universitas Islam Omdurman Sudan, Fakultas Syari'ah dan Qonun Jurusan Ushul Fikih. Sekarang berdomisili di Kairo Mesir.


 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Tuesday, April 8, 2008

"Sebuah Imperium Menunggu Rubuh"

"Sebuah Imperium Menunggu Rubuh" I    
Senin, 07 April 2008
Satu persatu teman Amerika berjatuhan. Kemarin John Howard dan Presiden Pakistan, Pervez Musharraf, siapa giliran selanjutnya? [bagian pertama]

Oleh: Amran Nasution *

ImageHidayatullah.com--Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Amerika teramat sulit dilupakan. Betapa tidak? Dalam merintis karir militer, ia mondar-mandir menuai ilmu di negeri itu. Ia sempat dua kali mengikuti program latihan militer di Fort Benning, Georgia, di tahun 1976 dan 1982. Lalu, sekolah staf dan komando, 1991, ia tempuh di Fort Leavenworth, Kansas, tempat penggodokan para perwira yang amat bergengsi itu. Gelar S2, ia raih di universitas di sana. Tentu tak banyak perwira Indonesia yang begitu intens menimba ilmu dari negeri yang punya pemenang nobel terbanyak di dunia.

Maka dalam suatu kesempatan mengunjungi Amerika di tahun 2003, sebagai Menko Polkam, SBY berkata, ''I love the United State, with all its faults. I consider it my second country''. Terjemahan bebas penulis: "Saya cinta Amerika, dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negeri kedua saya." (lihat Al Jazeera English – Archive, 6 Juli 2004).

Tulisan ini tak bermaksud memperdebatkan ukuran atau kadar nasionalisme dari pernyataan itu. Meski yang mengucapkannya kini menjadi Presiden Indonesia.

Yang pasti, Perdana Menteri Australia John Howard, 68 tahun, tak pernah menyatakan Amerika Serikat sebagai negeri kedua. Ia hanya dikenal sebagai teman dekat Presiden George Walker Bush. Sementara orang mengejeknya sebagai sheriff (kepala polisi) Amerika untuk kawasan ini. Itu saja sudah cukup menyebabkan Partai Konservatif yang dipimpinnya kalah telak dalam Pemilu 23 November lalu.

Bukan hanya jabatan Perdana Menteri yang dipegangnya 11 tahun – dengan memenangkan 4 Pemilu – harus lepas dari tangan. Howard sendiri tak terpilih menjadi anggota Parlemen di daerahnya, Bennelong, pantai utara Sydney. Ia secara memalukan, dikalahkan Maxine McKew dari Partai Buruh. McKew, bekas pembawa acara televisi itu adalah politisi yang tak dikenal. Dengan itu, Howard tercatat sebagai Perdana Menteri pertama yang kalah dalam pemilihan Parlemen sejak 1929.

Padahal selama pemerintahannya, ekonomi Australia betul-betul melonjak amat cepat (booming). Lihatlah Sydney, kota terbesar dan pusat bisnis itu, seakan tak pernah bisa diam. Pusat perbelanjaan dan pertokoan selalu ramai. Turis asing melimpah. Di mana-mana gedung jangkung bertumbuhan.

Para analis berpendapat booming terjadi berkat kekayaan alam negeri kanguru itu akan batubara dan biji besi (iron ore), yang menjadi inceran China dan India, dua raksasa ekonomi baru dengan industri tumbuh sangat cepat. Lantas berbagai kebijakan Howard mendorong semua berkah itu menjadi kenyataan.

Tapi itulah, ia teman Bush. Ia kirim tentara ke Iraq dan Afghanistan. Kemudian ketika Bush menolak Protokol Kyoto yang dimaksudkan untuk mencegah pemanasan bumi, Howard pun ikut-ikutan. Maka dalam kampanye, lawannya Kevin Rudd, 50 tahun, pemimpin Partai Buruh, menjadikan dua isu itu sebagai senjata pamungkas menembaki Howard. Rudd berjanji segera menarik 550 pasukan tempur Australia dari Iraq, dan menanda-tangani Protokol Kyoto.

Kampanye itu sukses. Prestasi Howard dalam meningkatkan kemakmuran tak lagi dipedulikan. Berbagai jajak pendapat memang menunjukkan rakyat tak suka Bush, sekalian anti-Perang Iraq.

ImageNasib sial pun menerpa Howard dan partainya. Beberapa hari sebelum Pemilu, beredar pamflet mengatas-namakan Federasi Islam Australia, menyatakan bahwa pimpinan Partai Buruh mendukung usaha untuk mengampuni hukuman mati atas para pelaku bom Bali. Seperti diketahui bom Bali 2002,  sangat berbekas di masyarakat Australia, karena dari 202 korban meninggal, 88 di antaranya adalah warga negeri itu.

Ternyata setelah diusut, Federasi Islam Australia tak pernah ada. Diusut lagi, seperti ditulis kantor berita Reuters, 21 November lalu, ketahuan yang membuat pamflet tak lain anggota tim sukses Howard.

''Saya mengecam itu. Saya tak ada hubungannya. Itu bukan bagian dari kampanye saya,'' kata Howard. Tapi tetap saja ia dan partainya kehilangan simpati pemilih, dianggap menghalalkan semua cara dengan selebaran memfitnah lawan politik.

Pada 23 November lalu, persis sehari sebelum Pemilu, Panglima Tentara Australia Marsekal Udara Angus Houston, mengumumkan bahwa seorang pasukan komando tewas di Afghanistan. Ia merupakan korban ketiga yang tewas dalam bentrokan dengan pejuang Taliban di bulan-bulan terakhir, dan menyebabkan kampanye anti-Perang Iraq dari Partai Buruh seakan mendapat tambahan bensin.

Maka kini negeri itu dipimpin Kevin Ruud, bekas diplomat Australia di Beijing, yang fasih berbahasa Mandarin. Sebagaimana biasa tokoh Partai Buruh, Kevin Ruud diduga akan mempererat hubungan dengan Asia. Ingat Paul Keating, Perdana Menteri dari partai itu yang kemudian dikalahkan Howard, suka mondar-mandir ke Jakarta.

Memang tak ada pengamat yang percaya Ruud akan merenggangkan hubungan dengan Amerika. Apalagi kalau dalam Pemilu 2008, Presiden Amerika dipegang Partai Demokrat. Tapi sementara negeri adikuasa itu masih di tangan Bush, diduga hubungan kedua negeri tak akan mesra.

Poodle-nya Bush

Dengan kekalahan dramatis itu berarti korban Bush bertambah saja. Sebelumnya, 2004, Presiden Spanyol Jose Maria Aznar tergeletak dalam Pemilu, hanya karena dia terlalu akrab dengan Bush. Seperti Howard, dia pendukung penting perang melawan teror (war on terror) dan mengirimkan pasukan berperang di Iraq. Howard akhirnya tumbang oleh lawannya,  Kevin Rudd,  Ketua Partai Buruh Australia (ALP) yang selalu berkampanye anti-perang.

Kebetulan tiga hari menjelang pemilihan, ibu kota Madrid terguncang hebat oleh ledakan bom. Pagi itu, 11 Maret 2004, ketika orang bergegas ke kantor dengan menyesaki kereta api komuter, 10 ledakan menerpa 4 jaringan kereta. Sebanyak 191 penumpang tewas dan lebih 2000 orang cedera. Ini merupakan serangan teroris paling berdarah di negeri itu. Aparat keamanan menuduh Al-Qaidah lokal bertanggung jawab dalam bom Madrid. Aznar tersungkur dan Zapatero naik menggantikan. Tanpa pikir panjang ia tarik tentara Spanyol dari Iraq.

Korban lain, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. Konglomerat media dan pemilik klub sepak bola AC Milan itu dikalahkan Romano Prodi dalam Pemilu tahun 2006 lalu. Semua orang Italia tahu bagaimana dekatnya Berlusconi dengan Bush.

Kemudian menyusul Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Kalau Howard diejek sebagai sheriff  di Asia, Blair lebih malang: ia dapat julukan poodle-nya Bush. Setiap ada demo anti-perang Iraq di London atau kota lain, selalu ada poster bergambar Presiden Bush menyeret seekor anjing kecil berbulu panjang dengan tempelan wajah Tony Blair.

Di Parlemen telinganya selalu panas menerima cerca dan makian dari kelompok oposisi. Yang paling galak tentu George Galloway, anggota Parlemen dari independen yang sudah lama dikenal sebagai musuh Israel di Parlemen Inggris. Dia selalu memanggil Perdana Menteri Blair sebagai Mr Liar (Tuan Pembohong), karena terbukti senjata pemusnah massal yang menjadi alasan Blair mengirim tentara ke Iraq, tak pernah ada.

Padahal dulu, 1997, ketika pertama kali menjadi Perdana Menteri, ia termuda dalam sejarah Inggris. Otaknya amat cemerlang, karakternya mantap, dan wajahnya tampan. Karena itu dia terpilih terus. Tapi sejak mengirim pasukan ke Iraq – semula Inggris menyertakan 45.000 tentara, belakangan tinggal 7100, bertugas di Basrah  – populeritasnya melorot drastis. Akhirnya karena desakan internal partai Blair memilih mundur. Penggantinya Gordon Brown menarik pasukan.

Teman Bush yang sudah habis diterpa gelombang adalah Presiden Pakistan Pervez Musharraf. Sebenarnya di bidang ekonomi Musharraf terbilang berhasil. Tentu untuk ukuran Pakistan, negeri miskin dengan angka buta huruf tinggi. Tapi karena dianggap antek Bush, populeritasnya di mata rakyat hancur-hancuran (lebih jelas lihat  Menyelamatkan Pakistan dari Zaman Batu. www.hidayatullah.com. September 2007). Musharraf akhirnya juga tumbang oleh Yousaf  Raza Gilani yang kini menjabat sebagai Perdana Menteri Pakistan yang baru. [bagian  pertama...]

* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta
Sebuah Imperium Menunggu Rubuh [2]    
Selasa, 08 April 2008

Satu persatu teman Amerika berjatuhan. Kemarin John Howard dan Presiden Pakistan, Pervez Musharraf, siapa giliran selanjutnya? [bagian kedua]

ImageHidayatullah.com--Di halaman belakang Amerika, di kawasan Amerika Latin, teman Bush rontok satu-persatu. Malah Presiden Hugo Chavez dari Venezuela kini menjadi musuh utama. Kata-kata setan, Hitler, imperialis, dan semacamnya berhamburan dari Chavez, setiap membicarakan Bush.

Sekarang praktis di kawasan itu hanya tersisa beberapa teman Amerika. Salah satunya Presiden Alvaro Uribe dari negeri kartel narkotik, Colombia. Selain memerintah dengan otoriter, Uribe sangat kejam kepada para petani karena itu pemberontakan nyaris tak berhenti. Namun Presiden Bush mendukungnya terutama dengan bantuan peralatan militer guna melawan pemberontak. Sejak 2002, Bush membantu Uribe 4 milyar dollar.

Bagaimana Bush– SBY? Tentu Indonesia tak mengirim pasukan ke Iraq atau Afghanistan. Tapi hubungan keduanya amat baik. Bush, misalnya, beberapa waktu lalu, menelepon langsung SBY, ketika kasus nuklir Iran dibahas Dewan Keamanan PBB. Tiba-tiba Indonesia berubah sikap 180 derajat: semula mendukung, kemudian menuntut proyek nuklir Iran dihentikan.

ImageBarang siapa menyaksikan acara Asian Pacific American Heritage Month di Gedung Putih, Washington, 27 Mei 2005, yang dihadiri Presiden SBY dan keluarga, tentu akan tahu betapa akrab keduanya. Presiden Bush bukan cuma mengenal SBY dan Ibu Ani, tapi mengenal anak-anaknya.

''Saya ingin memperkenalkan Agus dan Edhie, putra Presiden. Selamat datang. Kami gembira kamu hadir. Agus akan menikah 8 Juli yang akan datang,'' ujar Bush di hadapan hadirin (lihat Weekly Compilation of Presidential Documents, 30 Mei 2005). Bayangkan, Bush sampai ingat tanggal Agus menikah, padahal dia sulit membedakan Australia dengan Austria.

Sebenarnya itu tak terlalu aneh. Sampai sekarang perusahaan Amerika Freeport-McMoran sesuka hati mengeduk emas dari perut bumi Papua. Mau politisi Amin Rais berteriak-teriak sampai suaranya parau, mau demonstrasi anti-Freeport di Papua atau Jakarta, toh perusahaan asing terbesar di Indonesia itu tetap aman-aman saja.

WALHI yang dulu galak menyerang kini diam seribu bahasa. Tak tahu kenapa. Yang jelas salah satu donatur LSM itu adalah USAID, milik Pemerintah Amerika. Berarti uang yang disumbangkan donor itu ke WALHI berasal dari pajak rakyat Amerika, termasuk dari Freeport. Maka perusahaan itu pernah memprotes USAID ke pemerintahnya karena membantu WALHI (the New York Times, 20 Mei 1998).

ImageTapi yang paling melegakan Presiden Bush pastilah keputusan Pemerintah SBY pada 2005, memberikan Blok Cepu kepada perusahaan minyak Amerika terbesar Exxon Mobil. Padahal sudah lama perusahaan ini berebut sumur di perbatasan Jawa Timur–Jawa Tengah itu dengan Pertamina. Blok Cepu menurut para ahli memiliki cadangan 600 juta barel dan merupakan ladang paling menguntungkan di Indonesia. Rupanya di mata Pemerintah, memberi keuntungan kepada perusahaan asing lebih baik dari perusahaan milik sendiri.

Belum cukup. Baca laporan lembaga riset Kongres Amerika (Congressional Research Service, CRS) pada 2005. Di situ diketahui betapa Presiden SBY cukup melegakan sebagai patner bagi Amerika dalam perang melawan teror (war on terror). Untuk proyek itu, Pemerintah Amerika memberi bantuan dana dan fasilitas, membentuk dan melatih pasukan anti-teror Detasemen 88 Polri, sekalian mengongkosi operasional pasukan setiap tahun.

Mungkin untuk mengingatkan kunjungan Bush ke Istana Bogor tahun lalu, kini di sana bergelantungan begitu banyak dan mencolok foto Presiden Amerika Serikat itu. Bila anak-anak sekolah dasar berkunjung ke istana, salah-salah mereka mengira inilah foto Gubernur Jenderal yang pernah menguasai Indonesia.

Masa Kegelapan

Tapi itulah, di dalam laporan tadi disebutkan betapa kebencian kepada Amerika melonjak drastis di kalangan rakyat Indonesia. Berdasarkan data jajak pendapat, kata laporan itu, pada tahun 1999, 79% responden menyukai Amerika. Pada 2002, angka itu menurun menjadi 61%. Tiba-tiba setahun kemudian, 2003, anjlok cuma tinggal 15%.  Menurut jajak pendapat lain, 83% responden Indonesia membenci Amerika Serikat. Rupanya dalam soal Amerika sikap rakyat beda dengan Presiden SBY.

Bila data dianalisa, gampang terbaca bahwa penyerangan Afghanistan (2001) dan terutama Iraq (awal 2003) menyebabkan tumbuh suburnya kebencian itu. Lalu ditambah sikap Amerika yang selalu membela Israel dalam konflik Palestina. Tapi sesungguhnya kebencian pada Amerika terjadi hampir di seluruh dunia. Itu yang menyebabkan Tony Blair, Howard, dan kawan-kawan terjungkal satu persatu dari kekuasaan.

Ternyata dampak war on terror Presiden Bush jauh lebih mengerikan. International Institute for Strategic Studies (IISS), think tank cukup disegani dari London, dalam laporan tahunan yang dirilis September lalu, menyebutkan bahwa kegagalan Amerika dalam Perang Iraq menyebabkan negeri super power itu kehilangan pengaruh. Dan itu membahayakan stabilitas Asia dan Timur Tengah. IISS memberi gambaran suram dalam konflik Timur Tengah, meningkatnya semangat Al-Qaidah, dan tumbuhnya radikalisme Islam di Eropa. Dengan melemahnya kepemimpinan Washington, menurut IISS, suhu yang memanas akan menyebar dan mengancam kesejahteraan global.

Sekarang, dunia sudah merasakan bagaimana instabilitas Timur Tengah – khususnya Iraq – menyebabkan harga minyak mendekati 100 dollar/barel. Amerika sudah terkena imbas terutama sebagai negeri importir minyak terbesar dunia. Krisis kredit perumahan membuat gonjang-ganjing ekonominya. Dollarnya anjlok. Sudah tak sedikit pengamat yang meramalkan Amerika segera "ambruk".

Biaya perang demikian besar. Staf Partai Demokrat di Kongres menghitung dari 2002 sampai 2008, perang yang lebih panjang dibanding Perang Dunia kedua itu, menghabiskan 1,3 trilyun dollar. Kalau dirupiahkan sulit menghitung angka nolnya.

Jumlah itu, menurut Profesor Tyler  Cowen dari George Mason University, belum yang sesungguhnya. Karena menurut ahli ekonomi ini, belum dihitung opportunity cost, biaya atas peluang yang hilang akibat perang. Misalnya, perang Iraq telah menewaskan  hampir 4000 tentara Amerika dan lebih 1000 petugas keamanan sewaan kontraktor. Yang cedera lebih 28.000. Di antaranya tak sedikit mengalami kerusakan otak atau berbagai trauma permanen yang tak bisa disembuhkan. Semua mengakibatkan Amerika akan kesulitan merekrut tentara. Nah, semua itu ada hitung-hitungan kerugiannya.

Bagaimana Iraq? Sebuah survei menyebutkan sudah 1 juta orang Iraq yang tewas. Kalau angka ini terlalu tinggi, mungkin kurang sedikit dari itu. Menurut perhitungan John Pike dari www.GlobalSecurity.org, sebuah grup riset, tentara Amerika menghamburkan 250.000 peluru untuk menembak mati tiap seorang gerilyawan. Itu bukan cuma pemborosan. Tapi menggambarkan betapa parah kerusakan yang terjadi. Betapa tak berimbangnya perang yang terjadi .

Konflik mengakibatkan terjadi perlombaan senjata, termasuk senjata nuklir, opini dunia yang menghujat Amerika, dan rakyat Amerika sendiri harus berkorban membiaya perang yang begitu mahal (the Washington Post, 18 November 2007).

ImageMaka Moris Berman, 63 tahun, ahli sejarah kebudayaan kelahiran New York, yang memperoleh Ph D dari Johns Hopkins University, menulis buku Dark Ages America: The Final Phase of Empire (Norton, 2006),  yang meramalkan imperium Amerika segera akan rubuh. Ia mendeskrifsikan Amerika sebagai sebuah kultur dan emosional yang rusak oleh peperangan, menderita karena kematian spiritual dan dengan intensif mengeskpor nilai-nilai palsunya ke seluruh dunia dengan menggunakan senjata. Republik yang berubah menjadi imperium itu berada di dalam zaman kegelapan baru dan menuju rubuh sebagaimana dialami Kekaisaran Romawi.

Memang banyak orang mengecam buku itu, terutama kaum neo-konservatif  (neokon) yang gemar menghasut Amerika untuk berperang. Tapi melihat keadaan sekarang – defisit APBN kian menggelembung, terorisme mengancam, citra dan wibawa rusak di mata dunia, serta kegagalan di Iraq dan mungkin Afghanistan – tak sedikit pula yang mempercayai ramalan Berman. Bagaimana Pak SBY? [habis/www.hidayatullah.com]

* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta


 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total Access, No Cost.