Thursday, February 28, 2008

Mengikuti Budaya Barat Penyebab Melemahnya Nilai di Dunia Islam Dunia

Cendekiawan Saudi: Mengikuti Budaya Barat Penyebab Melemahnya Nilai di Dunia Islam Dunia Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 28 Pebruari 2008
Pemikir dari Saudi Arabia mengatakan, mengukuti budaya Barat telah menyebabkan melemahnya nilai-nilai di dunia Islam. Termasuk pengaruh saluran TV Barat

ImageHidayatullah.com— Kanal-kanal TV dan parabola dari Amerika dan Zionisme Israel bermaksud untuk menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran kesucian dan jilbab mereka sehingga dengan mudah bisa berada di bawah hegemoni dan cengkramannya. Demikian sebagaimana disampaikan Salma Ali Thahir Al Syaikh, Ketua Lembaga Pendidikan Al-Quran Darul Rahman, Ihsa' Saudi Arabia dalam wawancaranya dengan Iqna.

Salma mengatakan hal itu dan menambahkan, bahwa efek negatif dari itu semua adalah rapuhnya pilar-pilar keluarga dan cinta kasih antar anggota keluarga. Salma menyampaikan masalah itu dalam sebuah makalah berjudu, "Perempuan Muslim dan Berbagai Isu Penyelewengan."

Peneliti masalah urusan keluarga di negara-negara Islam meyakini penyerangan budaya Barat merupakan faktor utama setiap penyelewengan.

Salma dalam seminar tersebut mengatakan, saat ini kaum mudi dan ibu-ibu kaum Muslimin yang mempertahankan jilbabnya berada dalam tantangan budaya antara warisan terdahulu dan kehidupan masa depan. Mereka juga berhadapan dengan berbagai pemikiran yang menyesatkan dari pemikiran Barat.

Menurutnya, agama Islam menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga, sebab keluarga memiliki peran penting dalam pendidikan generasi muda yang akan meneruskan perjuangan nilai-nlilai tersebut pada generasi berikutnya.

Pemikir dari Saudi Arabia ini juga menganggap berpegangteguh pada ajaran Islam dan aturan Allah merupakan dasar yang kuat untuk menguatkan nilai-nilai keluarga dan Islam yang akan meminimalisir kesalahan dan ketidakharmonisan dalam masyarakat.

Begitu juga menurutnya, jilbab dan kesucian diri adalah faktor utama untuk menyiapkan kesucian jiwa dan generasi mendatang serta tidak menjadikan perempuan sebagai komoditi yang diperjual belikan dan alat untuk menawarkan barang-barang mereka.


 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Wednesday, February 27, 2008

Wanita Yang Disukai Pria


Pria semasa muda selalu melihat wajah dan tubuh wanita, saat ia memilih
istri atau pacar, apakah dia benar benar mencintai wanita itu atau
tidak, itu tidaklah pennting, yang terpenting adalah demi gengsi sang
pria, itulah alasan yang sebenarnya.

Tapi acap kali pria setelah menginjak usia paro baya, baru menyadari
bahwa kecantikan seorang wanita bukanlah terletak di kulit permukaannya,
melainkan terletak pada sifatnya yang lembut dan murah hati, bertabiat
sabar dan penuh pengertian. Ketika pria sedang resah dan gelisah,
apabila sang wanita bisa menunjukkan perhatian menghibur dengan sedikit
manja, mengatakan perkataan dengan lemah lembut, maka saat itu juga
tidak peduli seberapa sibuk atau seberapa berat beban yang dipikul, si
pria akan merasa lega.
Hanya saja wanita sekarang ini hanya memikirkan dirinya sendiri,
bersuara lebih besar daripada pria, menghamburkan uang untuk bersolek,
pakaian jika bukan bermerk tidak mau dipakai, tidak bisa masak, tidak
mengurus anak. Jika pria tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga maka
ia akan mengadu kesana kemari sambil menangis dan meratap, sudah
sepantasnya seorang suami bersusah payah mencari nafkah Sampai
disinilah, pria baru akan menyesali pandangannya yang pendek dan
dangkal, karena hanya memilih pasangan hidup hanya dengan melihat
kecantikan di wajah dan bukannya melihat kecantikan dalam hatinya.

Saya mempunyai seorang teman, semua memanggilnya Brandon, berparas
seperti bintang film idola, tinggi dan tampan, latar belakang
keluarganya juga baik, di masa sekolah ada begitu banyak wanita yang
mengagumi dirinya. Brandon kemudian bertemu dengan seorang gadis kaya,
yang berparas cantik dan mungil, gerak geriknya anggun, mereka langsung
jatuh cinta pada pandangan pertama dan segera terjalin asmara yang
memabukkan. Beberapa bulan kemudian, pasangan yang serasi ini pun
melangsungkan pernikahan yang megah, bagaikan dalam cerita dongeng,
entah berapa banyak orang yang iri pada mereka berdua!

Tak disangka setelah 8 tahun pernikahan mereka, Brandon menceraikan
wanita cantik itu tanpa mempedulikan keluarga kedua pihak yang
menentangnya. Setengah tahun kemudian, ia menikah lagi dengan wanita
lain yang berasal dari keluarga sederhana, paras wajahnya pun juga biasa
saja. Pekerjaan wanita ini hanyalah seorang pelayan di sebuah toko
minuman ringan. Pilihan Brandon ini telah membuat mata banyak orang
terbelalak seakan tak percaya sama sekali. Suatu hari saya bertemu
dengan Brandon, dengan penuh rasa ingin tahu saya bertanya kepadanya,
mengapa ia bisa menceraikan si wanita cantik itu, lalu kemudian menikahi
seorang wanita yang kalah telak dalam segala hal jika dibandingkan
dengan istri sebelumnya.

Brandon berkata, bahwa selama beberapa tahun belakangan ini, sebenarnya
ia sudah tidak tahan lagi hidup bersama mantan istrinya. Setelah mereka
menikah, wanita itu tak mengerjakan apa pun, selain melewatinya dengan
berbelanja barang=96barang bermerk tiap hari, uang yang dipakainya
adalah uang Brandon. Kartu kredit Brandon dipakai sampai melebihi
batas. Ketika Brandon menasehatinya agar tidak terlalu boros dalam
berbelanja, ia langsung mendapat makian dan dikatai tidak becus, tidak
giat bekerja, bahkan sering memuji pria lain lebih murah hati dengan
menghadiahi dirinya jam tangan bermerk dan kalung mutiara.

Kadang kala jika Brandon sedang mengalami tekanan besar dalam
pekerjaannya, dan ingin mengajaknya jalan jalan, nontton bioskop,
ataupun hanya memilih gedung bioskop saja, harus melalui serangkaian
pertengkaran dahulu, dengan alasan toilet yang tidak mewah, restorannya
yang kurang modis, dan yang harus antri. Setelah pilihan tempat sudah
disepakati, menunggu si wanita cantik berdandan juga harus menghabiskan
beberapa jam. Jika ia dikatakan lamban, maka sudah pasti akan
mendatangkan makian, menyalahkan Brandon yang tidak sabaran, kurang
lemah lembut, tidak seperti si anu atau si anu, bahkan menyatakan bahwa
jika lain kali Brandon ingin keluar dengannya harus terlebih dahulu
membuat janji, seolah si wanita cantik itu adalah majikannya, sementara
Brandon hanyalah pelayan yang harus mendengar perintahnya. Hingga
akhirnya pertengkaran itu membuat hasrat Brandon untuk keluar bersamanya
terkikis habis.

Kedua orang tua Brandon telah lama mengidamkan cucu, sedangkan wanita
cantik itu mati=matian menolak untuk melahhirkan, ia berkata bahwa
melahirkan akan merusak bentuk tubuhnya, memelihara anak akan
menghabiskan waktunya, sampai akhirnya disentuh oleh Brandon pun ia
tidak mau, dengan alasan tidak suka karena Brandon kotor, atau pun
mengatakan bahwa Brandon punya niat lain yang ingin merusak
penampilannya di depan umum. Brandon mengatakan semua hal itu masih
dapat ditahannya, akan tetapi yang benar-benar membuatnya meledak adalah
gara-gara sebotol susu.

Suatu sore mantan istrinya menelepon ke kantornya, dia meminta suaminya
mampir ke supermarket saat pulang kantor dan membelikannya sebotol susu
berkadar lemak rendah. Mendengar permintaannya, Brandon tidak berani
tidak menurutinya. Akan tetapi setelah bekerja sehari penuh sungguh
melelahkan, jalanan juga macet cukup parah, dengan susah payah Brandon
akhirnya mendapat tempat parkir di pinggir jalan yang penuh sesak.
Begitu masuk ke dalam supermarket ia baru mendapati bahwa susu telah
terjual habis, ia terpaksa berjalan kaki ke toko lain membeli susu.
Waktu sudah jam 7 malam setelah ia berhasil membeli susu. Akhirnya
dengan tubuh lelah lunglai Brandon sampai di rumah, setelah menyerahkan
susu sapi kepada istrinya, ia segera merebahkan tubuh di sofa.

Tak disangka istrinya berteriak setelah menerima dan melihat susu yang
dibeli oleh Brandon, dan selanjutnya melempar susu itu ke tubuhnya
sambil menunjuk Brandon dan mulai dengan caci makinya, Saya suruh kamu
beli yang berkadar lemak rendah, mengapa kamu beli yang berlemak tinggi,
kamu ini memang sungguh keterlaluan, sekarang juga segera kamu kembali
ke supermarket itu dan ganti dengan yang lemak rendah. Kamu tidak hanya
telah menunda waktu saya untuk mengkompres wajah, malah salah beli, saya
suruh kamu beli susu ini begitu pulang dari kantor, sekarang kamu lihat
sendiri, sudah jam berapa ini. Kamu ini punya otak atau tidak?!
Begitulah, hanya demi sebotol susu, sang istri telah memakinya
habis-habisan tidak kurang dari setengah jam lamaanya, Brandon yang
telah kehilangan akal pikiran, hanya mampu memandang mantan istrinya
yang berkacak pinggang dengan wajah menyeramkan dan bibir yang diolesi
lipstik merah maron itu melontarkan kata-kata kotor,, gambaran itu
terus membesar dan semakin membesar di hadapan Brandon

Tiba-tiba saja Brandon berrdiri dan segera menepis tangan istrinya
yang sedang menuding dirinya, dan berkata dengan lantang, Cukup sudah
saya bersabar untuk hidup bersama dirimu, mulai besok saya akan
menceraikan kamu! Si wanita cantik yang selama ini selalu berada di atas
angin pun segera mengeluarkan jurus mautnya sampai ke talak tiga,
mengancam hendak bunuh diri lalu mengadu ke orang tua dari kedua belah
pihak sambil meratapi nasibnya yang merasa dipersalahkan. Dia juga
mengeluarkan ancaman hendak menghancurkan kedua belah pihak, tapi
rupanya niat Brandon kukuh bagaikan baja, sama sekali tidak menghiraukan
ancamannya. Akhirnya, si wanita cantik itu sadar jika ini diteruskan dia
akan sangat kehilangan pamor, ia pun menggunakan kesempatan ini untuk
memeras semua harta kekayaan Brandon sebagai tunjangan perceraian
mereka.

Setelah bercerai Brandon memberikan semua hartanya berupa rumah mewah,
mobil bermerk, semua diberikan pada mantan istrinya. Meskipun harus
menghabiskan semua harta kekayaannya, tapi Brandon bilang dia merasakan
kelegaan dan kebebasan yang belum pernah dirasakannya selama ini. Dia
lebih baik makan di pinggir jalan, naik bis umum, dan sama sekali tidak
ingin kembali ke kehidupan yang lalu.

Setelah lewat satu bulan, Brandon pergi bersama dengan rekan sejawatnya
ke sebuah toko minuman ringan untuk menikmati makanan kecil. Dengan
tidak sengaja ia telah menumpahkan gelas minumannya sehingga lantai,
meja dan bajunya basah, saat itu Brandon teringat ketika ia dulu pernah
makan bersama mantan istrinya, ia juga pernah secara tidak sengaja
menumpahkan sup. Ia sempat melihat mantan istrinya melotot hingga yang
terlihat hanya putih matanya dengan ekspresi wajah mendongkol,
seolah-olah bersama Braandon adalah suatu hal yang sangat memalukan
baginya.

Tepat di saat Brandon sedang menerawang akan kejadian di masa lalu itu,
seorang pelayan wanita dengan penuh senyuman di wajahnya datang
menghampiri dirinya, lalu dengan lembut dan ramah membantu dirinya
membersihkan noda, sang pelayan yang sepertinya sangat memaklumi
kecanggungan Brandon, berkata dengan penuh perhatian, Meja kami ini
memang kurang stabil, tamu-tamu di sini sering menumpahkan minuman,
harapp anda dapat memakluminya. Mohon jangan disimpan dalam hati!
Meskipun pelayan wanita itu berparas biasa, tapi saat itu Brandon
merasakan bahwa ia sangat cantik, setelah melunasi bon, Brandon segera
meminta nomor telepon sang pelayan wanita. Pelayan wanita inilah yang
sekarang menjadi istri Brandon sekarang.

Suatu hari sebelum pulang kantor, Brandon menerima telepon dari sang
istri yang memintanya untuk membeli sebotol susu sebelum pulang ke
rumah. Brandon sungguh lelah, jadi ia memberitahu istrinya agar makan di
luar saja, tapi di telepon istrinya mati-matian berrtingkah manja
seperti anak kecil dan mengatakan bahwa ia telah memasak sup ayam kental
demi untuk menambah gizi badannya. Mendengar perkataan sang istri,
seketika itu muncullah kehangatan dalam hati Brandon, betapa pun
lelahnya, dia tetap rela membelikannya.

Setibanya di rumah, ia disambut istrinya dengan penuh senyuman di wajah,
tanpa mempedulikan masalah keterlambatannya akibat kemacetan lalu
lintas. Sang istri meraih susu itu dari tangan Brandon dan segera masuk
ke dapur. Brandon dengan penuh rasa ingin tahu menghampiri istrinya,
menanyakan apakah ada masalah dengan susu yang dibelinya itu lemak
rendah atau lemak tinggi. Tak disangka dengan penuh semangat istrinya
mencium pipinya sambil berkata dengan manja, Terima kasih, Suamiku
Asalkan suamiiku yang membelikannya, semua itu tidak ada masalah, aku
sudah senang! Demikianlah Brandon seumur hidupnya mencintai istrinya
yang baik dan lemah lembut serta dapat bertingkah manja ini!

Sesungguhnya, wanita seperti apa yang disukai oleh pria? Kebanyakan
wanita sekarang ini beramai-ramai mengejar kecantikan penampilan luar
dan bentuk tubuh yang aduhai agar menjadi pusat perhatian pria, namun
mereka lupa bahwa sebenarnya pria menitik beratkan pada hati yang dapat
berempati dan memperhatikan orang lain, juga penuh perhatian dan
toleran. (Fang Ru/The Epoch Times/lin)

My personal web: http://pujakesula.blogspot.com/ or http://endyenblogs.multiply.com/journal

Tuesday, February 26, 2008

“Mencari Tafsir Versi Indonesia?”

"Mencari Tafsir Versi Indonesia?" Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Selasa, 26 Pebruari 2008

Banyak intelektual dengan gagahnya memaki-maki Imam Syafii, ujungnya pemuja Nasr Hamid Abu Zaid. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-226

Oleh: Adian Husaini

Acara Muktamar Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlangsung 11-13 Februari 2008 akhirnya diganti namanya menjadi "Kolokium Nasional Pemikiran Islam". Sejumlah pembicara tidak bisa hadir. Salah satu pemakalah baru yang dimasukkan namanya adalah Dr. Phil. Nur Kholish Setiawan, dosen mata kuliah Kajian Al-Quran dan Pemikiran Hukum Islam di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Murid kesayangan Nasr Hamid Abu Zayd ini menggantikan posisi Prof. Dr. Amin Abdullah, rektor UIN Yogya, dalam sesi pembahasan "Manhaj Baru Muhammadiyah: Mengembangkan Metode Tafsir". Pada sesi ini tampil juga pembicara Ust. Muammal Hamidy, Lc. dan Dr. Saad Ibrahim.

Muammal Hamidy yang juga pimpinan Ma'had Aly Persis Bangil, dalam makalahnya, mengungkap peringatan Rasulullah saw, bahwa "Siapa yang menafsiri Al-Quran dengan ra'yunya, maka siap-siaplah untuk menempati tempat duduknya di neraka." Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur ini pun menyitir hadits lain: "Akan datang suatu masa menimpa umatku, yaitu banyak orang yang ahli baca Al-Quran tetapi sedikit sekali yang memahami hukum, dicabutnya ilmu dan banyak kekacauan. Menyusul akan datang suatu masa, ada sejumlah orang yang membaca Al-Quran tetapi Al-Quran itu tidak melampaui tenggorokannya. Kemudian menyusul satu masa ada orang musyrik membantah orang mukmin tentang Allah (untuk mempertahankan kesyirikannya) dengan bahasa yang sama (HR Thabrani).

Ustadz Muammal Hamidy kemudian menyimpulkan: (1) Al-Quran jangan ditafsiri sesuai selera, (2) Pemahaman terhadap Al-Quran hendaknya didasari dengan ilmu, (3) Ilmu untuk memahami hukum-hukum Al-Quran harus dikuasai dengan baik, (4) Membaca Al-Quran minimal hendaknya disertai dengan pengertiannya, dan (5) Ummat Islam harus mewaspadai orang-orang yang mempergunakan dalil Al-Quran dan Sunnah untuk kepentingan yang tidak Islami.

Peringatan tokoh senior di Muhammadiyah Jawa Timur ini kiranya perlu kita perhatikan. Sebab, umat Islam di Indonesia saat ini banyak dijejali dengan beragam model penafsiran yang ditawarkan oleh sebagian kalangan cendekiawan yang isinya justru mengacak-acak Al-Quran, seperti penafsiran yang menghalalkan perkawinan homoseksual dan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim. Beberapa waktu lalu, kita membahas disertasi doktor Tafsir Al-Quran dari UIN Jakarta yang secara terang-terangan merombak dasar-dasar keimanan Islam dan menafsirkan Al-Quran sesuai seleranya sendiri.

 

Dengan mengutip ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran, doktor Tafsir lulusan UIN Jakarta itu menyimpulkan: "Dengan demikian, bagi umat Islam sendiri, merayakan natal sesungguhnya merayakan hari kelahiran seorang utusan Tuhan yang harus diimani, Isa al-Masih, yang diduga jatuh pada tanggal 25 Desember. Sebagai implikasi dari keberimanan itu, semestinya umat Islam juga diperbolehkan untuk merayakan hari kelahiran Isa dan kelahiran para nabi lain sebelum Muhammad SAW." (hal. 209).

Pada bagian lain, dia membuat definisi tentang "Ahli Kitab", yaitu: "Intinya siapa saja yang berpegangan kepada sebuah kitab suci yang mengandung nilai-nilai ketuhanan dan prinsip-prinsip kemanusiaan yang luhur yang dibawa oleh para nabi, maka mereka itu adalah Ahli Kitab." (hal. 216). Sementara, pada bagian lain dia tulis: "Dilihat dari sisi ini, maka ahl kitab merupakan kelompok yang memang menganut monoteisme (tawhid)." (hal. 219-220).

Dengan definisi "Ahlul Kitab" versi Doktor Tafsir tersebut, maka disimpulkan, bahwa semua agama yang mempunyai kitab suci adalah agama tauhid. Inilah salah satu contoh tafsir aliran "ngawuriyah" – alias tafsir asal-asalan -- yang dibangga-banggakan sebagian orang sebagai tafsir yang "toleran", "progresif", "modern", dan "maju". Padahal, sudah banyak kitab Tafsir, Fikih, dan disertasi doktor yang dengan sangat serius dan komprehensif membahas masalah Ahlul Kitab ini. Tetapi, semua ini tidak dirujuk oleh penulis disertasi tersebut. Ia lebih suka membuat definisi sendiri berdasarkan hawa nafsunya. Allah SWT sudah mengingatkan dalam Al-Quran:

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? " (QS 45:23).

Masalah penafsiran Al-Quran adalah masalah yang sangat mendasar dalam Islam. Sebab, melalui ilmu inilah, umat Islam memahami firman Allah SWT. Karena itu, dalam Mukaddimah Tafsirnya, Ibn Katsir memaparkan, bagaimana hati-hatinya para sahabat Nabi saw dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Jika mereka tidak paham terhadap makna suatu ayat, maka mereka bertanya kepada sahabat lain yang dipandang lebih ahli dalam masalah tersebut. Ibn Katsir menasehatkan, jika tidak ditemukan penafsiran Al-Quran dalam Al-Quran, as-Sunnah, dan pendapat sahabat, maka carilah penafsiran itu dalam pendapat para tabi'in.

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dengan tawadhu'nya pernah menyatakan: "Bumi manakah yang akan menyanggaku dan langit manakah yang akan menaungiku jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui tentang Kitabullah?" Ibn Katsir juga mengutip hadits Rasulullah saw: "Barangsiapa yang mengucapkan (sesuatu) tentang Al-Quran berdasarkan ra'yunya atau berdasarkan apa yang tidak dipahaminya, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka." (HR Tirmidzi, Abu Daud, Nasa'i). Abu Ubaid pernah juga memperingatkan: "Hati-hatilah dalam penafsiran, sebab ia merupakan pemaparan tentang Allah."

Sikap hati-hati inilah yang mendorong lahirnya para ulama Tafsir yang serius. Para mufassir Al-Quran harus sangat berhati-hati, sebab tanggung jawab mereka di hadapan Allah SWT sangatlah berat. Bagi yang bukan mufassir pun wajib memperhatikan masalah ini, dan berhati-hati dalam memilih tafsir. Jangan sampai memilih tafsir Al-Quran yang dibuat sesuai dengan selera dan hawa nafsu.

Sebagai satu organisasi Islam yang besar, tentu Muhammadiyah wajib memiliki banyak Ahli Tafsir Al-Quran. Kita menyambut baik setiap upaya ijtihad yang dilakukan oleh para ulama atau pemikir Muslim mana pun. Namun, kita juga perlu berhati-hati dalam soal penafsiran. Tidak setiap "kilasan pemikiran" bisa dikatakan ijtihad. Setiap lontaran pemikiran yang baru tentang Tafsir Al-Quran, sebaiknya dikaji dengan seksama terlebih dahulu secara terbatas di kalangan pakar Tafsir.

Di dalam Kolokium Nasional Pemikiran Islam di Unmuh Malang tersebut umat Islam disuguhi ide Tafsir Baru oleh Dr. Nur Kholish Setiawan. Ia membawakan makalah berjudul "Tafsir Sebagai Resepsi Al-Qur'an: Ke Arah Pemahaman Kitab Suci dalam Konteks Keindonesiaan". Dalam makalahnya, Nur Kholish mengkritik dominasi nalar Arab dalam bangunan tafsir sebagai metode memahami Al-Quran. Tafsir Al-Quran, menurutnya, masih terbuka untuk dikembangkan dengan memanfaatkan khazanah keilmuan kemanusiaan (humaniora) yang bersifat teritorial. Dalam beberapa karya kesarjanaan Nusantara, pemikir Indonesia telah banyak melakukan enkulturasi budaya lokal dalam memahami Al-Quran. Tafsir al-Huda, misalnya, sebuah karya tafsir berbahasa Jawa menunjukkan kentalnya warna budaya Jawa dalam proses pemahaman ayat-ayat Al-Quran.

Contoh lain yang dipaparkan Nur Kholish adalah penolakan Mangkunegara IV dari Kasunanan Surakarta terhadap Arabisasi fikih. Baginya, fikih (pekih) tidak seharusnya dipraktikkan secara utuh seperti yang tertulis dalam literatur Arab, melainkan disesuaikan dengan tingkat kelayakan Jawa. "Dengan kata lain, ada nilai-nilai luhur Jawa yang tidak boleh begitu saja ditinggalkan."

Sayangnya, kita tidak mendapat penjelasan, bagaimana contoh budaya Jawa yang luhur dan tidak boleh ditinggalkan, sehingga harus menjadi dasar pertimbangan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Kita tunggu saja upaya dosen Al-Quran dari UIN Yogya itu untuk menerbitkan Kitab Tafsir atau Fikih yang mengakomodasi nilai-nilai luhur budaya Jawa. Setelah terbit, baru kita bisa menilainya.

Sebenarnya, selama ini umat Islam sudah paham, bahwa Muslim Jawa boleh shalat dengan kain saung dan blangkon, tetapi tidak boleh shalat dengan menggunakan bahasa Jawa. Tidak ada orang Muslim Jawa berpikir, bahwa azan bisa dilantunkan dalam bahasa Jawa. Kita paham, mana yang termasuk ajaran ad-Dinul Islam, dan mana aspek budaya yang boleh diambil.

Para penyebar Islam di Jawa dulu pun berusaha mengubah tradisi yang tidak sesuai dengan Islam dengan tradisi yang sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya, diubahnya tradisi "sesajen" menjadi "selametan". Proses perubahan tradisi tentu memakan waktu yang panjang, sehingga kadang-kadang ada yang masih belum berjalan dengan sempurna. Islam tidak menolak adat pakaian suatu daerah yang memang sudah menutup aurat. Tetapi, Islam tentu akan berusaha mengubah tradisi "koteka" atau "telanjang" yang ada di suatu daerah tertentu. Kaum Muslim yang "normal" tentu akan menyatakan, bahwa budaya makan babi adalah tidak sesuai dengan Islam.

Jadi, bukan tradisi suatu daerah yang jadi pedoman. Tapi, Islamlah yang harusnya menjadi pedoman dalam menilai sesuatu. Kaum Liberal harusnya membuka wawasannya, bahwa Islam juga hadir di tanah Arab untuk mengubah sejumlah tradisi jahiliyah. Misalnya, tradisi perkawinan jahiliyah, tradisi penindasan wanita, tradisi telanjang, tradisi mabuk-mabukan, dan sebagainya. Meskipun diturunkan di negeri yang tandus, syariat Islam justru mengandung banyak ajaran yang mewajibkan umatnya menggunakan air untuk bersuci. Sebab, Islam memang diturunkan untuk seluruh umat manusia tanpa memandang budaya. Karena itu, tidak ada istilah "Islam Jawa", "Islam Arab", "Islam Cina", dan sebagainya.

Dalam upaya untuk menghadirkan hukum Islam bercorak Indonesia, Nur Kholish Setiawan mengajak untuk mengkritisi sejumlah metode istinbath hukum dalam konsep ushul fikih klasik. Misalnya, konsep ijma'. Katanya, "Ketetapan hukum yang dilahirkan melalui proses istintabh tidak mungkin memiliki corak keindonesiaan, apabila tidak dibarengi dengan rumusan kritis metodologisnya."

Di sejumlah IAIN/UIN, metode penafsiran Al-Quran "berbasis budaya" ini tampaknya mulai digencarkan. Misalnya, dalam soal mahar dalam perkawinan. Seorang dosen Fakultas Syariah IAIN Semarang, Rokhmadi, M.Ag., ditanya tentang kasus perkawinan seorang laki-laki dengan wanita Minang, yang menurut si penanya, maharnya justru diberikan oleh pihak wanita, bukan pihak laki-laki. Inilah jawabab dosen itu:

"Wajarlah mahar menjadi kewajiban pihak perempuan karena posisinya di atas laki-laki dalam bersikap dan martabat keluarga. Maka saudara MH Tidak perlu risau, susah, dan gelisah. Justru saudara beruntung tidak dibebani Mahar. Terimalah, sebab ketentuan al-Quran (al-Nisa ayat 4) tidak bersifat mutlak karena semata-mata dipengaruhi budaya di mana Islam diturunkan. (Lihat, Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang, Edisi 28 Th.XIII/2005).

Kita bisa bayangkan, apa yang terjadi dengan Islam, jika setiap suku bangsa di Indonesia membuat Tafsir Al-Quran model dosen syariat seperti ini? Nanti ada tafsir berbasis budaya Jawa, Tafsir Betawi, Tafsir Sunda, Tafsir Minang, Tafsir Batak, dan sebagainya.

Dalam soal hukum pidana ala Indonesia, misalnya, Nur Kholish mengajukan proposal dari Mohammad Syahrur tentang "Teori Batas". Dalam kasus pencurian, ketentuan hukum potong tangan dalam QS 5:38, dipandang sebagai "batas maksimal" (al-had al-a'la). Menurut Syahrur, hukum potong tangan bagi pencuri adalah "hukuman maksimal". Jadi, tidak setiap pencurian harus dikenai hukum potong tangan. Dan menurut Nur Kholish, masih ada ruang untuk berijtihad menentukan jenis hukuman bagi pencuri yang di bawah hukum potong tangan.

Teori batas lain dari Syahrur yang diajukan Nur Kholish adalah batas dalam soal waris. Pola 2:1 bagi laki-laki dan wanita, menurut Syahrur, adalah formula batas atas dan batas bawah. Jadi, menurut formula itu, batas atas bagi laki-laki adalah 66,6 persen dan batas bawah bagi wanita adalah 33,33 persen. Jadi, bisa dilakukan ijtihad baru, seorang laki-laki mendapatkan warisan 60 persen dan seorang wanita mendapatkan 40 persen. Aspek lokalitas turut memberikan warna dalam pergeseran 66,6 banding 33,3 persen.

Itulah yang dikatakan sebagai tawaran ijtihad atau tafsir baru yang lebih menghargai unsur lokalitas atau budaya lokal. Pendapat Syahrur soal "Teori Batas" itu sudah sangat banyak menuai kritik di negerinya sendiri, Suria. Teori ini memang "aneh". Coba bayangkan, bolehkah seorang berijtihad, bahwa yang termasuk hukuman yang berada di bawah derajat hukum "potong tangan" adalah, misalnya, "potong rambut" atau "potong jari" atau "potong telinga?"

Kekacauan Teori Batas ini bisa dilihat dalam kasus pakaian laki-laki. Syahrur berpendapat bahwa batas bawah (batas minimal) aurat laki-laki yang harus ditutup hanyalah kemaluannya. "Karena keadaan cuaca berbeda-beda pada tiap penduduk bumi dari panas yang terik sampai dingin yang menggigit. Maka batas minimal pakaian yang diberikan bagi laki-laki adalah menutup kemaluan." Karena itu, kata Syahrur, laki-laki boleh berenang hanya dengan mengenakan celana renang saja. Yang dilarang adalah melihat laki-laki dalam keadaan telanjang bulat. (Lihat, Muhammad Syahrur, Islam dan Iman: Aturan-sturan Pokok, (Terj.) (Yogya: Jendela, 2002), hal. 71.

Kita bisa bayangkan, bagaimana jika dosen tafsir di UIN Yogya menerapkan teori Syahrur dalam soal pakaian laki-laki ini?

Pada 6 September 2004, situs JIL pernah menurunkan sebuah artikel yang membahas tentang Teori Batas Syahrur, ditulis oleh seorang dosen di Jurusan Tafsir-Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ditulis di situ, bahwa dalam soal pakaian wanita (libâs al-mar'ah), Syahrur berpendapat bahwa batas minimum pakaian perempuan adalah satr al-juyûb (Q.S al-Nur: 31) atau menutup bagian dada (payudara), kemaluan, dan tidak bertelanjang bulat. Batas maksimumnya adalah menutup sekujur anggota tubuh, kecuali dua telapak tangan dan wajah.

Kita bisa melihat, betapa absurdnya teori semacam ini. Dengan "Teori Batas" ala Syahrur ini, maka boleh saja wanita mengenakan bikini di depan umum, yang penting dia sudah menutupi batas minimal, yakni kemaluan, payudara, dan tidak telanjang bulat.

Dengan model penafsiran yang sangat "fleksibel" seperti itu, kita paham, mengapa sebagian kalangan sangat menyukai metode tafsir al-Quran yang disebut "Teori Batas" ala Syahrur ini. Meskipun model tafsir al-Quran semacam ini yang ditawarkan dalam acara Kolokium Nasional Pemikiran Islam di Unmuh Malang, kita berharap, Majelis Tarjih Muhammadiyah, tidak tergoda untuk memungutnya.

Kita tidak bosan-bosannya mengimbau para intelektual, meskipun sudah bergelar doktor atau profesor, untuk bersikap tawadhu' dan tahu diri. Jika maqamnya memang "muqallid" jadilah "muqallid" yang baik. Tidak patut memposisikan diri sebagai mujtahid, yang dengan gagahnya memaki-maki Imam Syafii, tetapi ujung-ujungnya menjadi pemuja Nasr Hamid Abu Zaid. [Depok, 22 Februari 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com


 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Jalan Selamat & Adil Menuju “Neraka” Guantanamo

Selasa, 26 Pebruari 2008

Pasukan AS memenjarakannya ke Guantanamo tanpa alasan jelas. Di sana ia mengetahui sendiri tahanan Muslim dianiaya sebagaimana bukan manusia

 

ImageHidayatullah.com--Ketika pihak intelejen Pakistan mengepung tempat tinggal pengajar dari Sudan, Salim Mahmud Adam, pada tanggal 27 Mei 2002, ia tidak berfikir bahwa hal peristiwa itu akan menghantarkannya ke Guantanamo, penjara "kejam" yang dibangun oleh militer Amerika di Teluk Kuba.

"Setelah pintu terbuka, mereka segera menangkap saya, dan saya sendiri masih ingat dengan baik, teriakan dan air mata istri serta  3 anak saya di malam itu". Itulah, sepenggal cerita dari Salim Mahmud Adam (44), ketika ditemui Islam Onlina di rumah beliau di Sudan, setelah 70 hari bebas dari Guantanamo.

 

Sebelumnya, Salim adalah penangung jawab sekolah untuk para yatim piatu di Peshawar, yang didukung pendanaan oleh sebuah LSM dari Kuwait,"Saat itu pukul satu malam, mereka mengepung rumah. Dan saat itu istri saya juga sedang mengandung, akan tetapi mereka tetap bersikap kasar".

Setelah itu, salim dibawa dengan mata tertutup menuju tahanan Pakistan, dan intrograsi dilakukan di tempat itu selama 12 jam, sebelum akhirnya Salim dibawa ke pengkalan Amerika di Bagram, Afghanistan.

Di Bagram, Salim mulai menjadi sasaran penyiksaan. Ia menyebutkan bahwa para pelaku penyiksaan itu memperlakukannya dan para tahanan Muslim lain dengan perlakuan yang amat buruk, "Mereka menelanjangi kami, satu sama lain, dan intrograsi kadang berlanjut hingga 3 atau 4 jam."

Setelah dua bulan, Salim dipindahkan ke "neraka" lain, yang berjarak ribuan mil dari Afghanistan, yaitu penjara yeng terkenal dengan nama Guantanamo.

Salim menyebutkan bahwa Guantanamo adalah "tempat yang bebas dari kemanusiaan", penuh dengan teriakan, tangisan, dari temannya sesama tahanan, serta suara musik yang amat keras, ketika datang waktu shalat.

Tidak hanya sikasaan fisik yang dirasakan Salim, siksaan batin juga tidak kalah menyakitkan. Hal itu dirasakan ketika Salim mendengar perkataan beberapa introgator,"Sebagian dari mereka yang mengintrograsi, mengatakan kepada saya, bahwa saya sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa-apa, akan tetapi saya hanya bagian dari permainan politik".

Sebagaiman diketahui, bahwa sampai saat ini masih ada 275 tahanan di penjara Guantanamo. Mereka mendapatkan siksaan dan perlakukan yang buruk, sehingga ada sebagian tahanan yang memilih bunuh diri. Tuduhan sebagai "teroris", selalu ditudingkan kepada mereka, walau tanpa proses hukum dan bukti sekalipun.

Selain Salim, ada Adil Hasan, yang sama-sama berasal dari Sudan. Dimana pada 18 Juli 2002, ia juga ditangkap saat melakukan tugas sebagai kepala sebuah rumah sakit di Peshawar.

Adil berkisah,"Ketika Amerika memulai perang di Afghanistan, seluruhnya penduduk mengungsi ke Pakistan". Akhirnya, ia bersama dengan istri dan keempat anak perempuannya juga pergi ke Sudan, pada musim panas 2002. Dan ia kembali ke Pakistan sendirian pada 16 Juli di tahun yang sama. Dimana, tidak ada niat lain dari perginya ke Pakistan, kecuali ingin memberikan bantuan kepada para pengungsi Afghanistan yang berada di Pakistan.

Setelah dua hari di Pakistan, pihak intelijen negara itu menangkapnya. "Seorang petugas intelijen membangunkan saya dari tidur, dan ia meminta saya untuk tidak diam di tempat dan menunjukkan surat tugas saya."

Hal yang mengegetkan Adil adalah, ketika petugas Pakistan itu mendekat kepada petugas Amerika, dan petugas bule bertanya tentang sesuatu, petugas Pakistan mengubah beberapa isi dokumen.  "Petugas Pakistan menyatakan kepada petugas Amerika bahwa dokumen tersebut "tidak bermasalah", lalu petugas Pakistan itu bertanya,"Apakah kita perlu menangkapknya?". Dan sang petugas Amerika itu mengatakan "Iya".

Setelah itu, Adil diukurung dalam tahanan Pakistan selama 6 bulan 15 hari. Rentang waktu itu, banyak pihak yang melakukan intrograsi terhadapnya.

Seperti kasus Salim, adil juga dipindahkan ke pangkalan Amerika yang berada di Bagram, dangan mata tertutup bersama tiga orang lainnya. Bagram adalah tempat persinggahan bagi mereka yang hendak dibawa ke Guantanamo. Baik, itu tahanan yang berasal dari Afghansitan atau dari luar.

"Dalam perjalan ke Bagram, mereka mulai melakukan pemukulan, dan para petugas dari Amerika itu terus menurus melakukan intrograsi yang selalu diiringi dengan pukulan, dan cercaan, dan mereka tidak membiarkan kami tidur." Tutur Adil.

ImageIa menambahkan,"Setelah dua bulan di Bagram, kami bersama beberapa tahanan lain diangkut ke Guantanamo, dengan memakan waktu 20 jam. Di Guantanamo, Adil tetap mendapatkan perlakuan yang tidak kalah buruknya, intrograsi tetap dilakukan, terkadang sehari dua kali, tanpa ada tuduhan resmi yang bisa ditujukan kepadanya.

"Mereka menuduh, bahwa saya telah membantu Taliban dan Al Qaidah di Afghanistan. Maka saya bertanya kepada mereka, bagaimana saya bisa dituduh seperti itu? Mereka menjawab,"itu berasal dari informasi rahasia".

Pada tahun 2004 pihak Amrika melepas tuduhan kepada Adil, bahwa ia termasuk "prajurit musuh". Dan pada bulan Spetember 2007. Pengadilan militer membebaskannya dari tuduhan "malakukan aktivitas yang mengancam Amerika". Akhirnya, setelah tiga bulan, Adil memperolah kebebasan, setelah ia dikirim ke Sudan bersama Salim.

Sepulang ke rumah Adil sempat bersedih. Dia mendapati  salah satu anak perempuan kesayanganya telah meninggal di saat dia masih berada di penjara Guantanamo. Di kala dia dipenjara, pihak keluarga tidak mampu membiayai pengobatannya. Sedangkan Salim, dengan meneteskan air mata mengatakan,"Guantanamo adalah tempat yang melecehkan hak asasi manusia.
Tempat itu sebaiknya dihancurkan". Tapi tak ada permintaan maaf Amerika meski salah menangkap orang.
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

Salafi Mesir: Husni Mubarak Amirul Mukminin

Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Selasa, 26 Pebruari 2008

Syeikh Mahmud Luthfi Ketua organisasi berpaham salafi Mesir "menggelari" Husni Mubarak "amirul mukmin". Mubarak selama dikenal "menganiaya" Ikhwanul Muslimin

ImageHidayatullah.com--Jamaah Anshar Sunnah di Propinis Damanhur Mesir berfatwa tentang bolehnya Husni Mubarak mewariskan kekuasaanya kepada anak laki-lakinya Jamal Mubarak.

Syeikh Mahmud Luthfi ketua organisasi yang dikenal menganut pemahaman salafi tersebut mengatakan,"Hal ini bukanlah perkara yang diada-adakan, atau ijtihad yang baru, akan tetapi merupakan hal yang ada di masa salaf shalih". Di samping itu, ia juga "menggelari" Husni Mubarak dengan gelar "amirul mukmin".

 

Adapun dasar yang dijadikan rujukan dalam fatwa ini, ia mengatakan,"Apa yang saya katakana bukanlah bid'ah, Rasulullah wafat, dan tidak menunjuk seorangpun untuk diangkat menjadi khalifah, akan tetapi, Abu Bakar As Siddiq maju menjadi imam shalat, katika Rasulullah sakit, karena keutamaan yang beliau miliki. Maka umat Islam memilih orang yang paling utama di antara mereka (Abu Bakar ra.), lalu umat Islam membai'at beliau.

Kemudian Abu Bakar menunjuk Umar ra, dan umat Islam juga setuju. Sebelum wafat, Umar menunjuk 6 sahabat untuk menentukan pengganti, maka dipilihlah Utsman bin Affan. Ketika Utsman syahid, beliau tidak menunjuk pengganti, maka umat Islam memilih Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib sendiri tidak menunjuk pengganti, hingga umat memilih Hasan bin Ali, akan tetapi, beliau meletakkan jabatannya".

Ia melanjutkan, "Bahwa pemmilihan pemimpin dan hakim tidak terdapat nash syar'i yang gamblang. Seandainya seperti itu, maka cara pemilihan khalifah Abu Bakar dan setelahnya akan sama, itu menunjukkan bahwa persoalan ini didasarkan atas ijtihad dari ahlinya".

 

Ia juga menyatakan bahwa pewarisan kekuasaan dimulai di masa Muawiyah, dan secara umum para sahabat seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas tidak menentang. Masalah ini adalah ijtihad Muawiyah. Dan penunjukkan calon khalifah yang dilakukan khalifah terjadi selama beberapa kurun dan para ulama seperti Abu Hanifah, Malik, Sayfi'iserta Ahmad tidak mengingkari hal itu.

Mengenai pewarisan kekuasaan Mubarak kepada anaknya, ia mengatakan,"Menurut pengetahuan saya, tidak ada undang-undang yang melarang Jamal Mubarak untuk menjabat, jika ia warga Mesir dan memenuhi syarat."

Syeikh Amir juga menyatakan,"Akidah salafiyin, memperingatkan kepada orang-orang sekular dan Muslim agar tidak saling bermusuhan dalam persoalan ini, maka ditetapkanlah kaidah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Ushul As Sunnah, yaitu, taat terhadap amirul mukminin.

Adapun alasan tentang gelar amirul mukminin kepada Mubarak, ia mengatakan,"Adapun yang memberi gelar ini dan yang memberi gelar hakim dengan macam-macam gelar adalah Rasulullah dalam hadits-hadits shahih, termasuk dari gelar ini adalah amir, wali amri, sulthan, khalifah, dan malik. Ini adalah julukan kepada siapa yang memegang persoalan umat Islam."

"Maka, jika ada yang membuat hal baru (tentang julukan) seperti rais (ketua) atau khadim haramain (pelayan dua tanah haram), maka tidak ada larangan, "sambungnya.

Sebagaimana diketahui, bahwa pemilu legislatif akan dilakukan bulan April depan. Di mana, partai Muslim yang diwakili Al Ikhwan Al Muslimun atau dikenal dengan Ikhwanul Muslimin, partai lain yang berhaluan sekuler dan sosial sedang bertarung. Dan menjelang pemilu musim ini, pihak Ikhwan banyak memperoleh tekanan dan intimidasi dari penguasa. Bahkan, Mahdi Aqif, Ketua Jamaah Ikhwan harus merahasiakan calon yang dipilih, untuk menghindari penangkapan terhadap mereka.

Tentu, dengan adanya fatwa ini, di tengah situasi yang sedang berlangsung saat ini, akan semakin meramaikan perbincangan masalah politik di negeri seribu menara tersebut. Kelompok Ikhwan telah lama dianiaya oleh pemerintah Mesir. Termasuk ratusan kali penangkapan  dan memenjarakan aktivisnya. [alarabiya.net/thoriq/www.hidayatullah.com]

foto: polisi Mesir menginjak-injak aktivis Ikhwan 

 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Friday, February 22, 2008

17 Tahun Gendong Suami Pergi Mengajar

17 Tahun Gendong Suami Pergi Mengajar Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 23 Pebruari 2008

Seorang istri berjuang membantu suaminya seorang guru yang lumpuh dengan cara menggendong menuju tempat mengajar selama lebih dari 17 tahun

ImageHidayatullah.com— Du Chanyun adalah seorang guru di kampung Dakou kota Liushan, tepatnya di pedalaman pegunungan Tuniu. Chanyun  adalah tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di  kampung Dakou.

Tahun 1981, setelah lulus SMA, ketika itu usianya 19 tahun, Chanyun memutuskan menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar RB. 6.5 (atau sekitar Rp. 7.000,-).

Suatu hari, di tahun 1990, bencana datang menimpanya.  Saat itu adalah musim panas. Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup. Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek.

Sayangnya, setelah sembuh ia mendapatkan tubuhnya dia sudah tidak mampu dibuat berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan. Meski begitu, ia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh baginya.

Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan,  "Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai panggung pun saya akan menggendongmu," demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini.

 

Menopang Suami

Tak urung, Li memikul tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia harus menggendong suaminya menjadi seorang guru dari rumah sampai sekolah yang jaraknya 6 mil. Sejak 1 September 1990, jadwal hidup Li seperti ini. Setiap hari  mulai pagi-pagi, Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya dan menyiapkan mereka makanan. Setelah makan, ia harus menggendong suaminya berangkat mengajar.

Di sepanjang jalan, Li meraba, merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah. Di sekolah, Li menempatkan suaminya di kursi lalu menitip pesan ke beberapa murid yang agak besar lantas bergesa-gesa pulang. Maklum, di rumah masih ada sawah yang menunggunya untuk dikerjakan.

Sejak memikul tanggung jawab mengendong suaminya, ada dua hal yang paling dia takuti adalah musim panas dan musim dingin.

 

Rumah Du Chanyun berada pada Barat Selatan sekolah, walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah hanya 3 mil, namun tidak ada jalan lain, selain dari jalan tikus, dengan batu-batuan yang berserakan, ranting-ranting pohon, sungai kecil.

Pada suatu hari di musim panas, saat itu, baru saja turun hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air sungai saat itu melimpah menutup batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka ia tergelincir. Arus sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih. Untung tertahan oleh ranting pohon yang melintang di hulu sungai. Setelah lebih kurang setengah jam, ayahnya yang merasa khawatir akhirnya datang mencari, mereka ditarik, anak dan menantunya baru berhasil diselamatkan. Li lolos dari ancaman maut.

Dalam beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya. Entah sudah berapa kali ia jatuh bangun. Pernah suaminya jatuh di posisi bawah. Kadang-kadang Li Zhengjie jatuh di posisi bawah. Suatu hari Li Zhengjie punya akal, setiap jatuh dia berusaha duluan menjatuhkan tubuhnya yang kekar menahan batu yang mengganjal.

ImageLi Zhengjie telah berjuang membantu suaminya siang dan malam. Ia bekerja keras dan capek. Sang suami, melihat dengan jelas perjuangan istrinya itu. Hati Du Chanyun merasa iba.

Pada tahun 1993, Du Chanyun memulai rencana buruk agar sang istri meninggalkannya.Ia tak ini sang istri menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah karakternya, sengaja ia mencari gara-gara untuk bertengkar. Du Chanyun, mulai memakinya. Tentu saja Li Zhengjie merasa tertekan. Setelah 2 kali ribut besar, mereka sungguh-sungguh akan bercerai.

Di hari perceraian yang ditunggu, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda. Ia sangat berhati-hati mendorong suaminya ke kelurahan setempat. Semua orang sangat mengenal sepasang suami-istri yang dikenal akrab ini. Begitu melihat tampang keduanya, semua orang makin gembira. "Saya tidak pernah melihat wanita menggendong suaminya ke lurah minta cerai, kalian pulang saja," ujar pihak kelurahan.

Setelah keributan minta perceraian tenang kembali, Li Zhengjie hanya mengucapkan sepatah kata pada suaminya. "Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya juga akan menggendong kamu sampai tua."

Tidak Bolos Mengajar

Kondisi di sekolah tempat Du Chanyun mengajar sangat parah. Meski demikian, kedua pasang suami istri bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak. Di sekolah itu, pendidikan sangat kurang bik. Tidak ada alat musik dan tidak ada poliklinik. Namun Du Guangyun menggunakan daun membuat irama musik buat anak-anak.  Li Zhengjie naik ke gunung mencari obat ramuan, pada musim panas dia memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu buat anak-anak.

Di bawah bantuan istri, dalam 17 tahun, hari demi hari, tidak terhalangi oleh angin hujan, tidak pernah bolos satu kali pun.

Suatu hal yang menggembirakan, data yang terkumpul dari kepala sekolah tentang  hasil ujian negeri bulan April, tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100 %.  Tahun lalu ketika ujian masuk perguruan tinggi, ada 4 orang siswa yang dulu pernah diajari dia masuk ke perguruan tinggi, tahun ini ada 4 lagi yang lulus masuk masuk spesialis.

Kini, setiap hari raya Imlek, murid-muridnya sengaja pulang ke kampung menjenguk bapak dan ibu gurunya, masalah tersebut menjadi peristiwa yang sangat menggembirakan bagi sepasang suami istri guru ini.



Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Susah Memakamkan, Muslim AS Gunakan Penguburan Jenazah dengan Plastik

Sabtu, 23 Pebruari 2008

Akibat hambatan penguburan jenazah Muslim, umat Islam Connecticut, AS menggunakan cara lain pemakaman sesuai hukum Islam

 

ImageHidayatullah.com--Ketika pejabat departemen kesehatan negara bagian Connecticut, AS memerintahkan warga Muslim di Kota Bristol untuk memasukkan jenazah ke dalam wadah dari beton, penduduk Muslim semula agak bingung. Tapi kini mereka punya cara lain agar pemakaman itu sesuai hukum dan syariah Islam.

"Kami menemukan semangat hukum dan kompromi," ujar Mohammed Ali, imam Masjid Daar-ul-Ehsaan. Sebelumnya, pejabat setempat meminta kepada anggota masjid agar jasad kerabat mereka dimakamkan di dalam wadah beton karena letaknya berdekatan dengan pemukiman penduduk.

Namun umat Islam setempat khawatir bila peralatan berat yang dibutuhkan untuk memindahkan wadah beton di dalam pemakaman itu akan memengaruhi keamanan kuburan yang sudah ada. Setelah mencari info di internet, mereka akhirnya menemukan kubah plastik yang sangat ringan yang sesuai dengan standar kesehatan publik.

Sesuai dengan aturan pemakaman Islam, dengan menggunakan wadah plastik, tanah harus disebarkan ke bagian bawah sehingga jenazah bisa bersentuhan dengan bumi. "Islam sangat fleksibel. Kita harus menghormati hukum di wilayah yang kita diami. Itulah esensi dari Islam," ujar imam Ali.

Orang Islam harus memakamkan saudara mereka secepatnya setelah jenazah itu dimandikan dan ditutup kain kafan. Sebelum pemakaman, disalatkan terlebih dahulu.

Sebagian orang Muslim mengeluh karena hukum di wilayah yang mereka tinggali tidak selamanya fleksibel. Bahkan pihak masjid tak mampu memandikan jasad. Kebanyakan masjid tidak dilengkapi ritual memandikan jenazah.

 
My personal webhttp://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.