Tuesday, March 4, 2008

Pemikiran Liberal Jamal Al-Banna di Mesir

Mengakui Kesetaraan Agama Samawi
Jamal al-Banna: Masuk Agama Kristen atau Yahudi Bukan Kafir
Chaalan Charif dan Michel Hoebink

03-03-2008


Seorang muslim yang masuk agama Kristen atau Yahudi bukan kafir. Demikian tegas pembaharu Islam Mesir Jamal al-Banna. Ini merupakan ucapan merangsang diskusi di sebuah negara yang baru-baru ini menjadi berita karena sejumlah kasus pengadilan umat Kristen yang masuk Islam tapi kemudian keluar lagi dari Islam.

Al Banna (87) mengemukakan pendapatnya Kamis lalu dalam sebuah wawancara dengan jurnalis televisi berbahasa Arab Al Arabiyyah. " Seseorang yang keluar Islam untuk masuk agama Kristen atau Yahudi,' katanya, "bukan kafir. Dia hanya pindah dari sebuah agama wahyu ke agama wahyu yang lainnya."

Liberal
Sebagai adik Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, Jamal al-Banna cukup dikenal di Mesir. Di masa mudanya Jamal aktif di dunia serikat buruh Islam. Namun di usia tua ia tumbuh menjadi seorang muslim liberal dan pengkritik ulung Ikhwanul Muslimin.

Dengan mengemukakan pendapat tadi, Jamal al-Banna menyinggung status umat Yahudi dan Kristen yang disebut sebagai 'ahlul kitab'. Islam mengakui nabi-nabi orang Yahudi dan Kristen. Wahyu yang diterima Nabi Muhammad adalah sebagai penutup dan penyempurna sehingga dianggap superior. Karena itu, orang yang keluar Islam dan masuk Kristen atau Yahudi dianggap murtad. Menurut syariat Islam seorang murtad harus dihukum mati. Nah, Al Banna tidak sependapat dengan pandangan tradisional ini. Tiga agama wahyu, katanya dalam wawancara itu, semuanya mengajak menyembah Tuhan yang sama, oleh karena itu ketiga agama itu 'setara'. Jadi pindah dari suatu agama ke agama lain, tidak masalah.

Di Mesir ada sejumlah besar Kristen Koptik. Karena pengaruh Islam dalam kehidupan sehari-hari di Mesir semakin kuat, maka orang Koptik makin merasa terdesak dan hubungan antara mereka dengan orang Kristen makin memburuk.

Disusupi Hukum Pidana Islam
Seperti di banyak negara Islam, di Mesir hukum pidana Islam juga tidak berlaku, sehingga orang tidak usah takut bakal diadili gara-gara pindah agama. Tapi baru-baru ini terjadi pengadilan yang mencolok, karena tampaknya disusupi hukum pidana Islam. Menurut hukum Mesir, agama harus dicantumkan di Kartu Tanda Pengenal (KTP). Sejumlah orang Kristen yang masuk Islam dan kemudian masuk Kristen lagi, meminta hakim agar mengizinkan mereka menulis kata Kristen di KTP mereka. Tapi para hakim di pengadilan rendah menolak.

Namun hakim di pengadilan banding membolehkan mereka menulis Kristen di KTP dengan syarat agar ditulis pula bahwa mereka pernah masuk Islam. Para pegiat hak azasi manusia gembira dengan vonis itu, tapi para mantan Muslim itu sendiri kurang senang dan merasa curiga. Karena, akibat vonis hakim itu mereka dicap sebagai petualang agama. Sehingga ini jelas bisa dibaca oleh para majikan dan penegak hukum.

Ada Budi Ada Balas
Dengan ucapannya di televisi tadi, Jamal al-Banna tampaknya ingin menjelaskan bahwa orang Kristen tidak saja di bidang hukum statusnya sama tetapi juga secara teologi. Dengan demikian dia juga mengubah haluan diskusi. Karena bukan hanya orang Islam saja yang menganggap agama lain tidak sama, tapi orang Kristen juga demikian. Memang Al Banna menyadari, ucapannya akan banyak dikritik, baik dari kalangan ulama Islam, rohaniwan Kristen maupun Yahudi. Dalam wawancara tersebut Jamal menambahkan, kalau orang-orang yang keluar dari Islam itu tidak mau disebut kafir, maka mereka harus percaya bahwa Muhammad adalah nabi terakhir. Jadi, ada budi ada balas.


My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Berdiri, Dewan Penasihat Muslim Amerika Serikat

Selasa, 04 Maret 2008
Baru-baru ini, umat Islam AS membentu 'The Muslim Public Affairs Council' (MPAC), semacam kelompok lobi Muslim di Amerika Serikat (AS)
ImageHidayatullah.com--Dalam sebuah pertemuan dengan para pemimpin Islam tingkat lokal dan nasional di Tallahassee, Jaksa Agung Florida Bill McCollum setuju untuk mendirikan kelompok penasihat komunitas Muslim.
Pertemuan itu terjadi menyusul informasi bahwa pihak Kejagung memerintahkan para stafnya di Florida untuk melihat film anti-Islam yang kontroversial berjudul Obsession: Radical Islam's War Against the West. Film ini termasuk interview dengan para tokoh Islamofobia terkenal seperti Nonie Darwish, Walid Shoebat, Daniel Pipes, dan Steven Emerson.
Selama pertemuan dengan para wakil dari Dewan Hubungan Amerika-Islam CAIR, Dewan Urusan Masyarakat Muslim (MPAC), ACLU Florida, dan Asosiasi Pengadilan Muslim Florida. McCollum juga setuju untuk menawarkan program pendidikan tentang Islam dan Muslim kepada para stafnya. Juga untuk membantu menciptakan hubungan lebih baik antara umat Islam dan aparat hukum.
"Tantangan untuk semua aparat hukum tingkat negara bagian dan federal adalah memperlakukan orang Islam Amerika sebagai mitra untuk menjaga keamanan bangsa," ujar Direktur Eksekutif MPAC Salam al-Marayati. "Mengandalkan pada film-film propaganda seperti 'Obsession' justru menghalangi tujuan itu."
"Kami meminta Jaksa Agung McCollum untuk bertemu dengan kami dan bersedia membentuk kelompok penasihat Muslim," ujar Direktur Eksekutif CAIR-Tampa, Ahmed Bedier, yang juga hadir dalam pertemuan itu.
Pertemuan ini juga diikuti para pemimpin lintas agama termasuk Rabbi Steven Jacobs dan Pendeta Dr Sandra Hulse. "Kami terobsesi dengan kebenaran, bukan distorsi-distorsi yang mengarah pada kebencian kelompok lain," ujar Rabi Jacobs.
Film Obsession juga mendapat banyak kritikan. Mereka menilai film ini hanya menggambarkan Islam yang penuh hasutan dan mencap semua Muslim sebagai "calon teroris".
Sebuah artikel di harian St Petersburg Times mengutip pernyataan Jack Shaheen, pengarang empat buku yang cenderung "anti-Arab" dan "anti-Muslim". Shaheen menyebutkan bahwa para propaganda nazi akan senang dengan film itu.
Sedangkan Nonie Darwish pernah menulis bahwa Islam adalah agama yang kejam, anti wanita, kebebasan anti agama dan kebebasan anti pribadi secara keseluruhan. Tokoh anti-Islam lainnya, Walid Shoebat pernah menulis bahwa ia melihat banyak persamaan antara anti-Kristus dan Islam. Menurutnya, Islam bukanlah agama Tuhan. Islam adalah setan. Nabi Muhammad SAW juga dituding sebagai setan.
Klaim Shoebat yang mengaku sebagai mantan teroris juga diperta-nyakan oleh sejumlah pakar akademisi. Terutama dengan pernyataannya beberapa waktu lalu dalam sebuah konferensi tentang terorisme di Akademi Angkatan Udara Amerika. Berbagai kritik menuding Shoebat, yang mengaku "saya bangga menjadi seorang Islamofobia", adalah seorang Kristen evangelish yang mengaku diri sebagai seorang mantan teroris Muslim.


My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Muhammad Sayyid Sabiq: Al Albani ikut Merekomendasi Fikih Sunnah

Selasa, 04 Maret 2008
Putra Syeikh Sayyid Sabiq, Muhammad Sayyid Sabiq mengatakan, sang ayah tak berselisih dengan ulama hadits, Syeikh Al Albani
ImageHidayatullah.com--Tak ada perselisihan antara Syeikh Sayyid Sabiq dengan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyangkut Kitab Fikih Sunnah. Pernyataan ini disampaikan putra almarhum Sayyid Sabiq Selasa (4/3) siang kepada www.hidayatullah.com
Tak sekedar itu, semasa hidup, almarhum Syeikh Al Albani bahkan merekomendasikan kitab Fikih Sunnah. "Bahkan Syeikh Al Albani menyatakan bahwa buku tersebut bagus, dan beliau merekomendasikan, agar buku ini banyak dibaca," ujar Muhammad Sayyid Sabiq, putra almarhum Syeikh Sayyid Sabiq.
ImageSelasa (4/3), Muhammad, putra ulama Mesir, Syeikh Sayyid Sabiq, yang juga penulis kitab Fikih Sunnah, berkunjung ke Surabaya. Kedatangan Muhammad Sayyid Sabiq ke Surabaya di sela-sela kehadirannya di Islamic Book Fair di Jakarta. Dalam diskusi di toko buku Halim, Surabaya siang ini, Muhammad Sayyid Sabiq menjelaskan seputar Kitab Fikih Sunnah yang selama ini banyak disalah tafsirkan beberapa pihak.
Menurut Muhammad, almarhum Syeikh Sayyid Sabiq memilih judul Fikih Sunnah untuk karya beliau justru untuk menggabungkan antara fikih dan sunnah.
"Sayyid Sabiq ingin menggabungkan antara fikih dan sunnah, dan mengambil kesimpulan hukum merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah," ujarnya kepada www.hidayatullah.com.
Sebagaikan orang menganggap ada perselisihan antara almarhum Syeikh Sayyid Sabiq dengan almarhum Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyangkut Kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq. Namun pendapat itu tidak dibenarkan oleh putranya. Sebab meski Syeikh Albani mengkritik, beliau juga merekomendasikan untuk membacanya, sebagaimana dikutip Syeikh Al bani dalam Muqadimah Kitab Tamaamul Minnah Bitta'liq 'ala Fiqhissunnah.
Ketika para peserta mempertanyakan madzhab fikih yang dianut oleh almarhum Sayyid Sabiq dalam penyusunan Fikih Sunnah. Putranya Muhammad mengatakan, bahwa sang ayah memiliki kecenderungan terhadap madzhab Syafi'i. Meski demikian, beliau tak terlalu fanatik.
"Akan tetapi beliau, tidak fanatik terhadap mazhab tersebut, sehingga Fikih Sunnah tidak hanya merujuk madzhab Syafi'i saja," demikian ujar Muhammad.
Menurut putranya yang juga lulusan Al Azhar ini, bahwa pendapat yang ada dalam Fikih Sunnah tidak menyelisihi madzhab empat. Beliau juga menjelasakan bahwa Fikih Sunnah memang disusun sesederhana mungkin, dan menghindari pembahasan yang amat terperinci dan mendetail, hingga tidak semua madzhab fikih dicantumkan pendapatnya, karena tujuan ditulisnya buku tersebut untuk membantu kaum awan, supaya lebih mudah memahami masalah hukum.
Oleh sebab itulah, kata Muhammad,  bahasa yang digunakan dalam buku itu dalah bahasa yang amat jelas dan sederhana. Sehingga beberapa ulama termasuk Syeikh Sya'rawi yang berasal dari Mesir menyebutkan bahwa buku ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ikhwanul Muslimin
Sebagaimana diketahui, almarhum Syeikh Sayyid Sabiq dikenal di Indonesia dengan Kitabnya Fikih Sunnah. Syeikh Sayyid Sabiq lahirkan tahun 1915 H di Mesir dan meninggal dunia tahun 2000 M. Ia merupakan salah seorang ulama al-Azhar yang menyelesaikan kuliahnya di fakultas syari'ah.
Almarhum memulai menekuni dunia tulis-menulis melalui beberapa majalah termasuk majalah mingguan milik gerakan al-Ikhwan al-Muslimun. Di majalah ini, ia menulis artikel ringkas mengenai Fiqih Thaharah. Dalam penyajiannya beliau berpedoman pada buku-buku fiqih hadits yang menitikberatkan pada masalah hukum seperti kitab Subulussalam karya ash-Shan'ani, Syarah Bulughul Maram karya Ibn Hajar dan Nailul Awthar karya asy-Syaukani.
Juz pertama Fikih Sunnah diterbitkan pada tahun 40-an dan pada muqaddimah nya diberi sambutan oleh pemimpin al Ikhwan al Muslimun, Syeikh Hasan al-Banna.  Mulanya, Fikih Sunnah sebagai buku panduan kader al Ikhwan al Muslimun saja. Namun, hingga kini kitab itu banyak dicetak dan dibaca orang di seluruh dunia.
Syeikh Sayyid Sabiq lahirkan tahun 1915. Pada 1948, beliau bersama-sama al-Ikhwan al-Muslimun menyertai perang di Palestina guna melawan penjajah Israel. Akibatnya, beliau dipenjarakan di bawah tanah pada tahun 1949-1950.
Semenjak aktiv di gerakan Ikhwan, beliau  pernah menjadi orang kepercayaan Hasan al-Banna, Mursyidul 'Am al-Ikhwan al-Muslimun.
Tahun 1951, beliau memulai kerja di Kementrian Awqaf Mesir. Beliau dinaikkan pangkat menjadi Wakil Kementrian Awqaf Mesir. Pada 1964, beliau pindah ke Yaman dan kemudiannya di Arab Saudi untuk menjadi pengajar di Kuliah Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Ummul-Qura selama lebih 20 tahun. Salah satu muridnya yang kini menjadi ulama dan banyak dikenal orang adalah Dr. Syeikh Yusuf Qaradhawi.


My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

Monday, March 3, 2008

”Bulletin Jumat pun Jadi Sasaran”

Selasa, 04 Maret 2008
Tak hanya 'meracuni' kampus. Virus Sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberal) bahkan memasuki bulletin Jumat. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-227
Oleh: Adian Husaini
Beberapa waktu lalu, saat menghadiri satu acara di Kota Semarang, Jawa Tengah, seorang dosen Universitas Diponegoro Semarang, menghadiahi saya sebuah "bulletin dakwah" bernama AL-WAASIT". Menurut dia, bulletin itu dibagi-bagikan secara gratis di masjid-masjid di Semarang. Melihat isinya, dosen itu khawatir, jangan-jangan bulletin dakwah tersebut adalah merupakan salah satu jurus liberalisasi Islam di Indonesia.
Sekilas bulletin ini menampilkan citra Islam yang kuat. Setidaknya namanya yang berbahasa Arab menunjukan hal itu, yaitu Al Waasit.  Di pojok kiri atas halaman pertama terdapat sebuah simbol timbangan berwarna hitam di dalam lingkaran dan berlatar hijau, dengan tulisan melingkar: Buletin Al Waasit  "Pemikiran Islam Moderat".
Dalam lembar buletin dicantumkan alamat redaksi yaitu: Gd Albana Center Jl Palikali Raya No 16 Rt 03/04, Kel. Kukusan, Kec. Beji, Kota Depok. Selain itu terdapat alamat web yaitu www.alwaasit.com. Dicantumkan juga susunan pengasuh bulletin. Pembina: H M Tareeq Ramadhan Lc. Pemimpin Umum : Agung Suprianto. Redaktur : Muhayat Rusma Ady Lc; M. Rofik Lc; Muchtar Mawardi MA. Desain Layout: Ichal. Wilayah sirkulasi meliputi: Wilayah JABODETABEK, BANDUNG, SEMARANG, PEMALANG, SOLO, YOGYAKARTA, SURABAYA.
Karena alamat bulletin itu di Depok, sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia kemudian berinisiatif meneliti hal ihwal buletin Al-WAASIT tersebut. Berdasarkan penelusuran mereka, ada sejumlah keganjilan. Alamat di web-nya berbeda dengan alamat yang tertulis, yakni Gd Albana Center Lt.2 JL Palikali Raya No 3. Halaman lain situs ini ialah dokumentasi beberapa edisi Al Waasit. Tidak semua edisi tersedia dalam halaman ini. Hanya ada edisi 209-217.
Menurut penelusuran para mahasiswa UI ke alamat yang tertera dalam bulletin Al-Waasit, ternyata alamat yang tertera di lembar edisi 213 (Jl Palikali Raya No 16) tidak ditemukan gedung Albana Center dan juga Yayasan Azhary. Begitu pun di alamat yang ada di web mereka (Jl Palikali Raya No 3). Alamat tersebut hanya berupa rumah kontrakan beberapa petak, tidak ada lantai 2 dan tidak ditemukan Yayasan Azahry maupun Gedung Albana Center. Beberapa warga yang ditanya tentang keberadaan Yayasan Azahry, Bulletin Al Waasit serta beberapa nama pengurusnya, semuanya menjawab tidak tahu.
Entah mengapa bulletin yang terbit tiap Jumat ini menggunakan nama Gedung Albana Center sebagai markasnya. Begitu juga nama Tareeq Ramadhan Lc, yang merupakan cucu Hasan al-Banna. Mungkin pengelolanya ingin membuat kesan bahwa bulletin ini ada hubungannya dengan gerakan Ikhwanul Muslimin. Yang jelas, tampak bulletin ini dikelola cukup profesional, khususnya dari segi teknik penulisan. Dalam situsnya, bulletin ini mencantumkan nama-nama masjid yang menjadi sasaran penyebarannya.
Nama "al-Banna" memang banyak dikutip oleh kaum liberal untuk menjustifikasi pendapatnya. Untuk menceri justifikasi paham Pluralisme Agama, dalam bukunya, Islam dan Pluralisme, Jalaluddin Rakhmat juga mengutip pendapat Gamal al-Banna, dengan menekankan, "Gamal al-Banna adalah aktivis Muslim, anggota al-Ikhwan al-Muslimun. Kita mungkin menyebutnya fundamentalis dan anti-Barat." Ia kutip pendapat Gamal al-Banna, yang menyatakan: "Saya berkata kepada mereka bahwa Thomas Alfa Edison akan masuk surga karena telah menemukan lampu yang kemudian digunakan oleh manusia sebagai penerang." Lalu, Jalaluddin Rakhmat membuat komentar, "Gamal al-Banna berubah dari seorang eksklusif menjadi seorang pluralis."
Tidak heran, jika di Indonesia, sejumlah buku Gamal al-Banna juga sudah diterjemahkan. Meskipun bersaudara dengan Hasan al-Banna, tetapi pikiran Gamal al-Banna memang banyak berbeda dengan saudaranya tersebut. Sebuah pendapat Gamal al-Banna yang agak aneh, misalnya, tentang negara Madinah dikatakannya: "Negara Madinah belum bisa dikatakan sebuah negara dalam artian negara yang menganut sistem politik kebanyakan, karena Negara Madinah belum mempunyai militer yang profesional, belum punya penjara yang permanen, dan belum punya lembaga kepolisian, dan juga belum mewajibkan pajak." (Lihat, Jamal al-Banna, Runtuhnya Negara Madinah (terj.), Yogyakarta: Pilar Media, 2005:48).
Tampaknya, strategi untuk "mengasosiasikan diri" dengan al-Banna itulah, maka nama Gedung Albana center dimunculkan. Begitu juga nama HM Thariq Ramadhan. Meskipun tidak terlalu vulgar, sejumlah edisi bulletin al Waasit sudah menyebar aroma Pluralisme Agama. Pada edisi 213, Al Waasit muncul dengan judul Toleransi Merupakan Makna Lain Idul Qurban. Kepala tulisan ialah Surat Al Baqarah Ayat 62 yang artinya "Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
Tampaknya, pengelola bulletin ini sadar, bahwa bulletin ini disasarkan pada jemaah shalat Jumat, sehingga ide-idenya dikemas secara halus. Pada edisi 210, diturunkan artikel berjudul "Membangun Sinergi Keberagaman dalam Multikulturalitas." Berikut kutipan dari edisi 210:
"Pendekatan multikulturalisme ini sangat penting dikembangkan agar kita tidak mengalami kehilangan orientasi dan kebingunan eksistensial dalam menata kembali pluralitas budaya dan agama. Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Multikulturalisme menjadi semacam respons kebijakan baru terhadap keragaman, dan komunitas-komunitas yang berbeda itu diperlakukan sama oleh negara."
Juga dikatakan: "Multikulturalisme memberikan nilai positif terhadap keragaman kultural. Konsekuensi lebih lanjut adalah kesediaan untuk memberikan apresiasi konstruktif terhadap segala bentuk tradisi budaya, termasuk agama. Berbagai kultur yang beragam justru memperkaya kehidupan sosial, tentu sebaliknya agama juga menganggap keragaman tradisi kultural memperkaya pemahaman keagamaan."
      Lebih jauh lagi, kita simak paparan dalam bulletin Jumat ini:
"Dalam upaya membangun hubungan sinergi antara agama dan multikulturalisme, minimal diperlukan dua hal. Pertama, adalah mengembangkan keberagamaan humanis-posdogmatik. Keberagamaan yang menembus sampai pada dimensi hakekat atau esensi beragama. Secara individual beragama tujuannya untuk mencerahkan diri sehingga kedamaian sejati terus bersemayam. Secara sosial bergama bertujuan untuk mewujudkan kesejukan, ketentraman dan keharmonisan bersama.
Untuk ini diperlukan reinterpretasi atas doktrin-doktrin keagamaan ortodoks yang sementara ini dijadikan dalih untuk bersikap eksklusif dan opresif. Reinterpretasi itu dilakukan sedemikian rupa sehingga agama bukan saja bersikap reseptif terhadap kearifan tradisi lokal, melainkan juga memandu di garda depan untuk mengantarkan demokrasi terbangun dalam masyarakat beragama.
Dalam masyarakat multikultural yang memprasyaratkan adanya kesalingpahaman satu bentuk budaya dengan budaya yang lain, keberagamaan humanis-posdogmatis lebih menguntungkan ketimbang sikap keberagamaan yang menekankan pada simbol-simbol kekerasan, kebencian, hujat-menghujat dan kafir-mengkafirkan...
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal yang sangat patut disayangkan itu, yang di antaranya adalah faktor teologi. Diharapkan melalui tulisan singkat ini dapat 'menggugah' kita untuk mengembangkan pendidikan tersebut di kalangan umat yang mau tidak mau harus melakukan transformasi menjadi masyarakat demokratis."
Itulah sebagian isi bulletin al Waasit edisi 210 yang mempromosikan paham multikulturalisme. Kita sudah pernah membahas paham ini, dan bagaimana paham ini memang sedang dijejalkan kepada umat Islam, melalui berbagai cara. Bagi kita yang terbiasa membaca sejumlah bulletin yang diedarkan di masjid-masjid saat shalat Jumat, barangkali akan merasa tidak terlalu akrab dengan isi dan istilah-istilah yang digunakan dalam bulletin Al-Waasit tersebut. Tapi, kita perlu paham, bahwa ini adalah langkah awal. Meskipun sudah mendapat dukungan media massa yang sangat kuat, tampaknya kaum liberal masih belum merasa puas sebelum merambah arena shalat Jumat. Sejumlah tulisan menyebutkan, bahwa khutbah-khutbah Jumat masih belum berhasil dimasuki oleh kaum liberal. Karena itulah, tidak heran, jika bulletin Jumat pun dijadikan sasaran liberalisasi.
Jika kita lihat pada edisi 217 yang juga beredar sampai ke Semarang, maka akan tampak kiat halus dalam upaya pengubah persepsi kaum Muslim tentang kesesatan Ahmadiyah. Edisi ini diberi judul "MENYIKAPI 'Kesesatan' AHMADIYAH". Sengaja kata 'Kesesatan' diberi tanda petik, untuk membuat kesan, bahwa soal sesat atau tidaknya Ahmadiyah, masih merupakan wilayah yang debatable.
Ditulis oleh bulletin ini: "Perkembangan terakhir Jamaah Ahmadiyah mengeluarkan klarifikasi dalam bentuk 'Press Release' yang berisi 12 butir penjelasan terkait dengan hal-hal yang selama ini dipersoalkan oleh sebagian umat Islam, hingga dinyatakan sesat oleh MUI."
Juga ada ungkapan: "Terlepas dari kontroversi sesat atau tidaknya ajaran Jamaah Ahmadiyah, serahkan persoalan ini kepada pihak-pihak yang berwenang dan mempunyai kompetensi."
Perhatikanlah ungkapan "yang selama ini dipersoalkan oleh sebagian umat Islam"! Ungkapan itu sengaja ditulis untuk memberi kesan, bahwa soal kesesatan Ahmadiyah adalah masalah "sebagian umat Islam", bukan masalah seluruh umat Islam. Padahal, dalam soal Ahmadiyah ini, tidak ada perbedaan pendapat diantara umat Islam.
Perhatikan juga ungkapan: "Terlepas dari kontroversi sesat atau tidaknya ajaran Jamaah Ahmadiyah dan seterusnya...!
Inilah cara yang sangat halus untuk menggiring pembaca bulletin, bahwa soal kesesatan Ahmadiyah adalah masalah kontroversi, soal perbedaan pendapat. Padahal, kita tahu, soal kesesatan Ahmadiyah bukanlah soal kontroversi. Semua lembaga Islam yang kredibel menyatakan bahwa Ahmadiyah memang sesat, karena mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad.
Jika dicari-cari perbedaan pada setiap masalah agama, pasti akan selalu ditemukan. Saat ini saja, sudah banyak cendekiawan yang menyatakan, bahwa perkawinan sejenis adalah halal, wanita boleh menjadi Imam dan khatib shalat Jumat, Muslimah boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, dan sebagainya. Bahkan, ada yang menyatakan, bahwa menjadi pelacur adalah tindakan mulia. Kaum liberal juga menyatakan, bahwa wilayah seni jangan dimasuki oleh nilai-nilai agama, karena itu mereka memiliki nilai sendiri. Jadi, boleh saja, orang mengumbar auratnya, asal merupakan tuntutan skenario.
Apakah karena ada sebagian pendapat yang nyeleneh seperti itu, lalu setiap masalah dikatakan kontroversial, dan tidak ada kesepakatan? Tentu saja tidak. Zina tetap haram, meskipun sebagian pelacur sudah menggunakan dalil agama untuk melegalkannya. Judi tetap haram, meskipun ada sebagian orang yang menghalalkannya. Bahkan ada juga kaum Muslim yang telibat bisnis perjudian. Jika ada orang Islam yang menghalalkan perjudian, maka bukan berarti haramnya judi adalah soal khilafiah. Maka, meskipun ada yang menghalalkan perkawinan muslimah dengan laki-laki non-Muslim, bukan berarti soal tersebut adalah masalah khilafiah. Meskipun ada kelompok tertentu yang menyatakan shalat lima waktu belum wajib, maka bukan berarti kewajiban shalat adalah masalah khilafiah. Jadi, tidak setiap ada yang 'nyeleneh', lalu bisa dijadikan justifikasi, bahwa suatu masalah adalah masalah khilafiah.
Apapun motif dan tujuannya, kasus bulletin Al-Waasit ini hendaknya menyadarkan kita, bahwa kaum liberal dan semua pendukungnya tidak pernah ridha sebelum kaum Muslim mengikuti jalan pikiran dan jalan hidup mereka. Segala cara dan media mereka gunakan. Sampai Bulletin Jumat pun diurusi. Wallahu A'lam


My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Minyak Arab Berkah Akidah para nabi

Ketika Nabi Ibrahim 'Alaihissalam meninggalkan isterinya Siti Hajar dan bayinya Ismail, tempat itu bernama lembah Baka', lembah kematian, karena tak ada satupun makhluk yang hidup di situ, tidak juga selembar rumput.
Karena aqidah yang benar dan ketaatan yang tanpa reserve kepada Allah Pemilik tanah Mekah dan seluruh bumi, Nabi Ibrahim tidak berdoa minta agar negeri itu menjadi makmur dan kaya, tetapi doanya, "Ya Allah, jadikanlah aku dan keturunanku semuanya sebagai orang-orang yang mendirikan shalat."
Apa hasilnya? Belasan juta orang setiap tahun mendatangi Makkah untuk beribadah. Lebih dari itu, Makkah yang kini resminya menjadi bagian dari negeri bernama Arab Saudi merupakan negeri terkaya di dunia karena minyak dan gas buminya, sejak tahun 1930-an.


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Sunday, March 2, 2008

Ilmuwan AS Menggungat Teori Evolusi Darwin

Senin, 03 Maret 2008
Penemuan ilmiah terkini semakin memudarkan harapan teori Darwin. Para ilmuwan Amerika Serikat (AS), mulai ramai-ramai menggugatnya. Teori evolusi menjelang ajalnya?
Hidayatullah.com – Teori evolusi dan para evolusionis semakin tersudut dengan penemuan ilmiah terbaru. Selain para ilmuwan penentangnya yang bertambah lantang, pernyataan Charles Darwin pun semakin tidak terbukti.
Dr. Michael Egnor, profesor bedah saraf dan kedokteran anak di State University of New York, Stony Brook, AS, adalah termasuk yang mempertanyakan keabsahan ilmiah teori evolusi Darwin. Pada 27 Februari 2008 prof Egnor mengisahkan bagaimana ia menjadi ragu akan kemampuan teori evolusi Darwin dalam menjelaskan kemunculan informasi baru berupa DNA pada makhluk hidup.
Dalam wawancara itu, pakar bedah otak yang tercantum dalam New York Magazine sebagai salah satu dokter terbaik New York ini menjelaskan kemustahilan penjelasan evolusionis seputar asal mula kehidupan. Menurutnya, tidaklah mungkin peristiwa seleksi alam dan mutasi acak tak sengaja, tak terarah, yang tidak memiliki kecerdasan mampu menciptakan kerumitan molekul pembawa informasi di dalam sel makhluk hidup, sebagaimana diyakini para Darwinis.
Wawancara dengan ahli bedah penerima sejumlah penghargaan ini diliput situs www.idthefuture.com  dengan judul "How Does a Brain Surgeon Become a Darwin Skeptic?" (Bagaimana Seorang Ahli Bedah Otak Menjadi Ragu terhadap Teori Darwin?). Situs ini adalah kumpulan wawancara para ilmuwan dan intelektual Barat yang mempertanyakan keabsahan Teori Evolusi.
Semakin dipertanyakan
Selama beberapa dasawarsa terakhir, bukti-bukti ilmiah terbaru dari berbagai bidang seperti kosmologi, fisika, biologi, kecerdasan buatan dan sebagainya telah mendorong para ilmuwan di negara-negara maju mempertanyakan kembali dogma dasar Darwinisme, seleksi alam. Mereka juga mulai mengkaji ulang dengan lebih rinci bukti-bukti yang mendukungnya.
Akan tetapi acara-acara TV, berbagai pernyataan seputar kebijakan pendidikan dan buku-buku pelajaran ilmu pengetahuan alam menyatakan bahwa teori evolusi Darwin menjelaskan secara sempurna kerumitan pada makhluk hidup. Masyarakat diyakinkan bahwa seluruh bukti-bukti yang ada mendukung teori evolusi Darwin dan boleh dikata setiap ilmuwan di dunia meyakini kebenaran teori itu.
Namun, sebagian ilmuwan dengan berani menyangkal pernyataan tersebut dan bersedia dimunculkan namanya sebagai bukti ketidakbenaran pernyataan bahwa setiap ilmuwan menerima dogma evolusionis itu. Situs www.dissentfromdarwin.org dan www.doctorsdoubtingdarwin.com menampilkan daftar ilmuwan dan dokter dari seluruh dunia yang tidak menerima begitu saja keabsahan ilmiah Teori tersebut.
Semakin pudar
Sementara itu, penemuan ilmiah terkini semakin memudarkan harapan Darwin. Setidaknya inilah yang diberitakan situs ilmiah www.sciencedaily.com   4 Januari 2008 lalu.
Darwin menyatakan bahwa keanekaragaman makhluk hidup berawal dari satu nenek moyang yang sama, yang kemudian berevolusi. Dengan kata lain, satu nenek moyang ini kemudian mengalami perubahan sedikit demi sedikit dalam kurun yang sangat lama untuk kemudian membentuk beraneka ragam kehidupan yang ada sekarang, baik dalam hal jumlah spesies maupun tingkat kerumitannya.
Secara sederhana sejarah evolusi makhluk hidup dapat diibaratkan sebagai sebuah piramida atau kerucut terbalik. Berawal dari satu titik puncak kerucut di bagian paling bawah, lalu semakin ke atas semakin melebar seiring dengan berlalunya waktu.
Demikianlah evolusi makhluk hidup, dari satu nenek moyang bersama (puncak kerucut) kemudian semakin lama semakin membesarlah jumlah kelompok dan tingkat kerumitan makhluk hidup itu.
Jika ini benar, maka harus ada bukti yang menunjukkan bahwa fosil-fosil berusia lebih tua memiliki tingkat keanekaragaman yang lebih sedikit dibandingkan fosil-fosil berusia lebih muda. Tidak hanya itu, fosil-fosil berumur lebih purba haruslah lebih sederhana dibandingkan fosil-fosil makhluk hidup yang muncul pada zaman setelahnya, yang semakin rumit dalam hal struktur dan bentuk.
Ternyata bukti fosil berbicara sebaliknya, menentang keyakinan evolusionis. Dengan judul "Two Explosive Evolutionary Events Shaped Early History Of Multicellular Life" (Dua Peristiwa Ledakan Evolusi Membentuk Sejarah Awal Kehidupan Multisel) tulisan di situs berita Sciencedaily itu mengulas temuan yang bertentangan dengan anggapan Charles Darwin.
"Pola ledakan evolusi mengkhawatirkan Charles Darwin, karena ia berharap bahwa evolusi terjadi dengan tahapan lambat dan tetap," kata Shuhai Xiao, pakar geobiologi di Virginia Tech. Ia menambahkan, "Gagasan Darwin dapat digambarkan sebagai sebuah kerucut terbalik dengan keragaman morfologi yang semakin membentang, akan tetapi rekaman fosil Ledakan Kambrium dan setelahnya lebih tepat digambarkan sebagai sebuah tabung dengan pancaran morfologis di bagian dasar dan penyempitan morfologis setelahnya."
Dengan kata lain, keanekaragaman sudah ada sejak awal kemunculan makhluk hidup, dan muncul secara tiba-tiba. Seiring perjalanan waktu, keanekaragaman itu justru semakin berkurang dengan adanya kepunahan, dan tidak bertambah melalui evolusi. Singkat kata, laporan yang juga diterbitkan media ilmiah EurekAlert! 3 Januari 2008 itu menyingkapkan bahwa sejarah kehidupan ternyata berbentuk kerucut tegak dan bukan kerucut terbalik sebagaimana perkiraan Charles Darwin.
Ledakan Avalon
Di antara ledakan fosil yang tidak sejalan dengan Teori Evolusi ini adalah kemunculan sebagian besar kelompok utama makhluk hidup kompleks yang terdapat pada rekaman fosil selama masa Kambrium, yang dikenal sebagai Ledakan Kambrium. Peristiwa ini adalah kemunculan tiba-tiba makhluk hidup, tanpa sejarah evolusi rekaan Darwin, yang terjadi sekitar 542 juta tahun lalu.
Setelah evolusionis dibuat bingung dengan Ledakan Kambrium, kini muncul ledakan lagi yang tidak sesuai dengan pernyataan teori Darwin: Ledakan Avalon. Temuan ini, yang diterbitkan jurnal ilmiah terkemuka Science, 4 Januari 2008 oleh Shen, Dong, Xiao, and Kowalewski asal Department of Geosciences, Virginia Polytechnic Institute and State University, Blacksburg, USA, mengenali adanya kemunculan tiba-tiba beragam makhluk hidup sekitar 33 juta tahun lebih muda dari Ledakan Kambrium. Tidak hanya itu, beragam kehidupan ini sama sekali berbeda dengan yang ada pada Ledakan Kambrium, dengan kata lain, tidak ada kaitan evolusi antara keduanya.


My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Lautan Darah di Gaza Makin Pertegas Doktrin Perang Israel

Lautan Darah di Gaza Makin Pertegas Doktrin Perang Israel    
Senin, 03 Maret 2008
Tokoh Hamas, Khalid Mashaal menilai pernyataan Abbas sebagai "lampu hijau" agar Israel  menyerang Jalur Gaza. Toh, tak ada reaksi atau kecaman dunia pada Israel
Analisis internasional:
 
Oleh Musthafa Luthfi *
Masyarakat dunia khususnya bangsa Arab dan Muslim terutama para pemimpinnya, entah tidak mengetahui atau pura-pura tidak mengetahui bahwa pembantaian dan holocaust adalah doktrin perang Israel yang selalu diterapkan dalam peperangannya dengan Arab.
Pembantaian berdarah Sabtu (1/3) di Gaza  yang menyebabkan lebih dari 61 orang mati syahid, 10 orang diantarannya dari kalangan anak-anak bahkan ada yang masih menyusu makin mempertegas doktrin tersebut. Serangan pada hari Sabtu sejak dini hari hingga sore itu menambah deretan warga Palestina yang gugur sebagai syahid menjadi 80 orang lebih sejak serangan dimulai Rabu lalu.
Marilah kita buktikan mulai dari perang terdekat, sebelum serangan Gaza itu, hingga perang pertama negeri zionis itu dengan Arab yang menggambarkan dengan jelas bahwa holocaust adalah doktrin perang negeri Yahudi itu yang selalu diterapkan dalam setiap peperangan dengan bangsa Arab.
Kita mulai dari perang musim panas dengan Libanon (Hizbullah) pada 2006. Pada saat Hizbullah mampu mengimbangi serangan Israel, negeri zionis itu melakukan pembantaian di desa Qana di wilayah selatan Lebanon 30 Juli 2006. Dunia internasional kembali dibuat geger sehingga mengingatkan kembali pada pembantaian serupa yang terjadi di tempat yang sama pada 1996.
ImageTragedi Qana tersebut telah menimbulkan lebih dari 60 warga sipil tak berdosa tewas seketika dibawah runtuhan gedung yang dibom pesawat tempur Israel, dan lebih separo dari korban adalah anak-anak tidak berdosa.
Bangkai anak-anak yang tewas bagaikan "kecoa" yang terkena semprotan hama itu telah menimbulkan protes keras internasional terutama dari negara-negara Muslim dan banyak LSM internasional yang bergerak di bidang HAM sudah menyiapkan dokumen untuk melaporkan Israel ke pengadilan HAM internasional.
Tragedi kemanusiaan akibat "holocaust"  itu paling-paling hanya mengingatkan publik akan tragedi serupa yang pernah dilakukan Israel di daerah yang sama pada tahun 1996. Sekitar 10 tahun yang lalu, pesawat tempur negeri Yahudi itu, tanpa ampun menghujani sebuah tempat penampungan pengungsi milik PBB di desa Qana yang menewaskan 100 orang lebih dari kaum wanita dan anak-anak.
Seperti biasa, Tel Aviv dengan enteng menyatakan "khilaf" alias salah target dengan dalih perlawanan Hizbullah saat itu menembakkan roket-roketnya di dekat pos milik PBB. Dalih yang sama juga dimunculkan menjawab protes dunia atas holocaust Qana kedua pada perang Lebanon 2006.
Tapi yang terjadi sesungguhnya adalah negeri Yahudi melaksanakan sebuah doktrin perang yang selalu diterapkan dalam setiap peperangan melawan negara-negara Arab untuk ``mempercepat`` kemenangan.
Doktrin perang negeri zionis yang didirikan di wilayah Arab Palestina oleh para imperialis itu selama ini sering luput dari perhatian publik dunia. Akibatnya, publik selalu tertipu dengan dalih salah target oleh Israel.
Bila melihat sejenak ke belakang, sejarah peperangan Arab-Israel telah membuktikan dimana keterlambatan kemenangan yang diinginkan negeri Yahudi selalu dibarengi holocaust. Doktrin holocaust yang diterapkan Israel dalam setiap peperangan dengan Arab sebenarnya diilhami dari holocaust bangsa Aria oleh para pemimpin Nazi Jerman yang dilakukan kepada warga Yahudi.
Mayjen (Pur), Sulaiman Al-Anqari, pakar strategis Arab pernah menulis dalam artikelnya di harian Al-Sahrqul Awsat, seusai perang Libanon 2006 bahwa doktrin tersebut selalu diterapkan negeri zionis tersebut pada saat "kepepet" dalam satu pertempuran sebagai senjata untuk mempercepat kemenangan, sekaligus menghancurkan semangat juang Arab.
Penerapan di lapangan
Sejarah konflik Arab-Israel membuktikan penerapan di lapangan doktrin tersebut yang mulai dari perang pertama pada 1948 hingga perang keenam pada 2006 di Libanon. Pada perang 1948 misalnya, tentara Israel yang kewalahan menghadapi perlawanan gagah berani gerilyawan Palestina akhirnya melakukan serangkaian holocaust seperti pembantaian di Deir Yasin yang korbannya adalah anak-anak dan kaum wanita.
Pembantaian tersebut tetap tercatat rapi dalam sejarah yang hingga saat ini justeru mengilhami generasi muda Palestina untuk tidak pernah padam semangat juangnya menghadapi pendudukan Israel.
Pada perang kilat tahun 1967, negeri zionis itu kembali melakukan pembantaian serupa, namun kali ini tidak membutuhkan anak-anak atau wanita tapi tawanan perang Mesir yang tidak berdaya.
Puluhan tentara Mesir dan personil yang ditawan dengan tangan terikat dibantai dan dikuburkan secara masal. Berita pembantaian tersebut sengaja dibocorkan untuk menimbulkan kepanikan di kalangan publik dan militer negeri Piramida itu.
Seandainya pembantaian tersebut bukan suatu doktrin peperangan, niscaya aksi holocaust tersebut akan tetap tersimpan rapi menjadi rahasia di bawah tanah hingga saat ini. Pada perang Yom Kipur tahun 1973 antara Israel melawan Mesir dan Suriah, pasukan negeri Israel yang sudah terdesak oleh pasukan Mesir itu kembali melakukan pembantaian terhadap anak-anak sekolah di daerah Bahrel Baqer Mesir.
Seperti biasanya, Tel Aviv mengklaim salah sasaran. Namun aksi holocaust tersebut tidak mampu mengintimidasi pasukan Mesir sehingga AS turun tangan membantu sekutu strategisnya hingga perang berakhir tanpa ada "menang-kalah".
Pembantaian tersohor lainnya yang dilakukan negeri Yahudi itu kembali terjadi di saat perang melawan Lebanon tahun 1982 yang dipimpin oleh Jenderal Ariel Sharon yang mantan PM Israel.
ImageLebih 5 ribu pengungsi Palestina tak berdaya di kamp Shabra dan Shatila dibantai sehingga Sharon yang sekarang tinggal menunggu ajalnya karena tidak bisa bergerak itu dikenal di kalangan publik Arab sampai saat ini sebagai tukang jagal.
Pembantaian serupa juga dilakukan dalam eskalasi di Lebanon tahun 1996 dan 2006 seperti dijelaskan sebelumnya. Jadi dalih salah sasaran merupakan "lagu lama" yang seharusnya ditentang keras oleh masyarakat dunia terutama dunia Arab dan Islam.
Bahkan doktrin perang ini mendorong tentara Israel untuk menghabisi pejabat-pejabat PBB seperti komisi pencari pakta PBB yang berusaha untuk mencari fakta pembantaian yang dilakukan negeri Yahudi tersebut.
"Kemenangan" yang diingikan lewat perang Libanon pada 2006, tidak hanya bertujuan untuk menghancurkankan atau minimal memandulkan perlawanan Hizbullah tapi untuk melapangkan jalan menuju Timur Tengah (Timteng) baru.
Kita keliru bila menilai serangan Israel di Libanon saat itu yang menjadikan penculikan dua tentaranya sebagai dalih menyerang Libanon semata-mata menghancurkan perlawanan Hizbullah.
Target utamanya adalah Timteng baru yang sepi dari perlawanan Arab sehingga segala kebijakan kawasan tersebut sepenuhnya "digodok" lewat persetujuan Tel Aviv untuk melanggengkan "perdamaian" yang diinginkannya. Resolusi PBB nomor 1559 secara tyersirat bertujuan untuk melucuti Hizbullah.
Ironis
Sangat ironis pernyataan yang keluar dari Menteri Penerangan (Menpen) Palestina, Riyadh Al-Maliki yang melimpahkan tanggung jawab di pundak Hammas atas pembantaian Gaza kali ini.
Al-Miliki Sabtu (1/3) menyebut tembakan roket-roket Hamas ke bagian selatan Israel sebagai dalih negeri zionis itu melakukan pembantaian di Gaza sehingga Hamas harus bertanggungjawab atas eskalasi Gaza.
Pernyataan ini ibarat "lampu hijau" bagi Tel Aviv untuk terus melanjutkan aksi brutalnya. Sebelumnya, Presiden Abbas juga tidak tepat mengeluarkan pernyataan bahwa anasir Al-Qaidah menyusup ke Gaza.
Tanpa berniat membela salah satu faksi di Palestina, jelas pernyataan itu menimbulkan rasa kesal para petinggi Hamas sehingga Ketua Bidang Politik Hamas, Khalid Mashaal menilai pernyataan Abbas sebagai "lampu hijau" agar Israel menyerang Gaza sebab Al-Qaidah adalah musuh bersama yang harus dimusnahkan.
Sangat disayangkan pernyataan-pernyataan itu makin memperuncing perpecahan intern Palestina yang memang ditunggu-tunggu Israel untuk melanjutkan pembantaian pada saat masyarakat dunia terutama dunia Arab membisu.
Para pemimpin Palestina seharusnya sadar bahwa holocaust yang dilakukan Israel sebelum peristiwa berdarah di Gaza itu tidak membutuhkan dalih serangan roket seperti yang terjadi di Gaza. Sebab pembantaian kepada warga sipil tetap akan dilaksanakan sebagai doktrin perang zionis.
Singkatnya, penerapan doktrin tersebut kali ini selain bertujuan mempercepat pemandulan Hamas juga mempercepat terwujudnya Timteng baru yang sunyi dari perlawanan bersenjata.
Namun hampir dapat dipastikan bahwa rencana tersebut akan gagal, karena sejarah mencatat bahwa perlawanan tidak pernah padam selama penjajahan dan kelaliman terhadap suatu bangsa masih berlangsung.


My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.