Saturday, February 9, 2008

“Menyambut Muktamar Pemikiran Islam di Unmuh Malang”

"Menyambut Muktamar Pemikiran Islam di Unmuh Malang" Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Minggu, 10 Pebruari 2008

Banyak cendekiawan tak tahu diri.  Maqam nya masih muqallid tapi memaksakan diri menjadi mujtahid. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-224

 

Oleh: Adian Husaini

Beberapa hari lalu, saya menerima faksimili dari seorang pengurus Muhammadiyah di daerah Jawa Timur tentang akan diadakannya acara Muktamar Pemikiran Islam di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara akan berlangsung 11-13 Februari 2008. Penyelenggaranya adalah Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM dan Al-Maun Institute Jakarta, yang dipimpin oleh Dr. Moeslim Abdurrahman.

Karena menyebut acara ini sebagai "Muktamar Pemikiran Islam" bukan "Muktamar Pemikiran Muhammadiyah", tentu acara ini sangat penting untuk ditelaah oleh umat Islam, bukan hanya bagi Muhammadiyah. Banyak tema yang dibahas. Para pembicara yang dipasang dalam jadwal acara cukup banyak. Tapi, yang sangat penting untuk kita telaah adalah pembahasan soal Tafsir Al-Quran.

 

Dalam sesi pembahasan tentang "Manhaj Baru Muhammadiyah: Mengembangkan Metode Tafsir", dipasang tiga pembicara, yaitu Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Dr. Hamim Ilyas, dan Dr. Saad Ibrahim. Dua nama pertama sudah cukup kita kenal melalui berbagai tulisannya. Nama yang ketiga belum begitu banyak kita kenal pemikirannya. Amin Abdullah, rektor UIN Yogya, adalah tokoh penyebar hermeneutika dan "fans berat" Prof. Nasr Hamid Abu Zaid.

Berikut ini kita bisa menyimak kembali wawancara dengan Ulil Abshar Abdalla dengan Amin Abdullah, sebagaimana dimuat dalam website Jaringan Islam Liberal.

ULIL ABSHAR-ABDALLA (UAA): Pak Amin, Anda tentu mengenal Nasr Hamid Abu Zayd sebagai seorang pemikir terkemuka di dunia Islam saat ini. Bagaimana kisah perkenalan Anda dengan beliau?

M. AMIN ABDULLAH (MAA): Perkenalan saya dimulai saat mengajar di pascasarjana IAIN Yogyakarta tahun 1994, melalui bacaan terhadap buku-bukunya. Uniknya, buku Abu Zayd justru saya temukan saat saya berkunjung ke Paris. Saya hanya bertemu bukunya di sana, bukan orangnya. Ketika itu, saya menemukan buku dengan judul yang membuat saya tertarik, seperti Naqd al-Khitâb al-Dînî (Kritik Wacana Agama), Naqd al-Nash (Kritik Teks), dan lain-lain. Buku itu saya bawa ke tanah air, lalu saya telaah. Ternyata isinya memang bagus dan sesuai dengan perkembangan studi Islam kontemporer. Saya kira, tema seperti Naqd al-Khitâb al-Dînî merupakan tema yang cocok untuk dibahas di lingkungan IAIN atau PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam).

 

UAA: Sebagai Rektor UIN Yogyakarta, apakah Anda telah mengadopsi sejumlah pendekatan yang digunakan Abu Zayd, khususnya di lingkungan akademik UIN?

MAA: Kalau melihat sebagian corak tesis atau skripsi mahasiswa, kita akan dapat menemukan tema-tema yang mengarah ke situ. Jadi di UIN Yogya, tema-tema seperti itu sudah dibahas cukup luas. Kalau IAIN lain di Indonesia saya tidak tahu. Tapi paling tidak, di Yogya ada komunitas yang menekuni karena memang cocok untuk lingkungan akademik.

 

Kita sudah berulangkali membahas dan mengkritisi pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid dan Amin Abdullah. Sama dengan Amin Abdullah, Dr. Hamim Ilyas pun dikenal sebagai pendukung kuat penggunaan metode hermeneutika untuk Al-Quran. Dia bahkan menyebut penolakan terhadap hermeneutika untuk penafsiran Al-Quran sebagai salah satu ciri fundamentalisme Islam, sebagaimana kita bahas dalam CAP ke-216.

Hermeneutika memang sedang sangat gencar diajarkan di perguruan-perguruan tinggi Islam, dan selanjutnya dijejalkan ke ormas-ormas Islam agar menerimanya. Orang yang menolak metode hermeneutika akan dicap sebagai fundamentalis, kolot, tidak progresif dan sejenisnya. Jika pemikiran Amin Abdullah dan Hamim Ilyas belum berubah, kita bisa menebak, mungkin Muktamar Pemikiran Islam di UMM ini akan diarahkan untuk menerima metode hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran sebagai"Manhaj Baru Muhammadiyah".

Dan dugaan itu tidaklah terlalu mengada-ada, mengingat dalam sejumlah penerbitannya selama ini, UMM Press sendiri sudah sangat aktif mempromosikan paham Pluralisme Agama dan penggunaan hermeneutika untuk penafsiran Al-Quran. Misalnya, sebuah buku yang berjudul Islam Dialektis: Membendung Dogmatisme, Menuju Liberalisme, (UMM Press, 2005), karya Pradana Boy ZTF (dosen agama Islam di UMM).

Buku ini mengajak umat Islam untuk tidak meyakini kebenaran agamanya sendiri: "Logika yang diturunkan oleh Arkoun itu sebenarnya sangat relevan jika dihadirkan di tengah kondisi saat ini, dimana umat beragama tidak jarang terjebak sikap yang sangat kaku dalam meyakini kebenaran agamanya sendiri, yang dengan sendirinya menganggap tradisi lain sebagai "jalan sesat"." (hal. 168).

 

Buku ini juga banyak memuat pujian-pujian dan dukungan terhadap pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh liberal yang sangat ekstrim seperti Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zaid. Dengan berbagai pemikirannya yang membongkar tradisi Islam, saat ini Arkoun memang merupakan pemikir favorit bagi kaum liberal. Di dalam buku yang berjudul "Membongkar Wacana Hegemonik" karya Mohammed Arkoun, bisa ditemukan gagasannya tentang sifat Kitab Suci Al-Quran yang kehilangan kesuciannya setelah turun di bumi. Menurut Arkoun: "Sebagaimana dia kehilangan sebagian besar sifat ketuhanannya setelah terjun ke dalam sejarah bumi dan dipergunakan oleh manusia, maka dia terpengaruh oleh sejarah dan sebaliknya. Singkatnya, kitab suci yang sebenarnya itu adalah Ummul Kitab menurut ungkapan Al-Quran, dan dia terjaga di sisi Allah di langit dan tidak bercampur dengan sejarah dan masalah-masalah bumi." (hal. 141, catatan kaki oleh Dr. Hasyim Shalih).

 

Ada buku lain terbitan UMM yang berjudul "Kembali ke-Al-Qur'an, Menafsir Makna Zaman: Suara-suara kaum Muda Muhammadiyah", editor: Pradana Boy ZTF dan M. Hilmi Faiq, pengantar oleh Moeslim Abdurrahman, (UMM Press, 2004). Buku ini merupakan kumpulan makalah para aktivis liberal yang bergabung dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Di dalam pengantar Editor ditulis bahwa makalah-makalah tersebut merupakan hasil diskusi "Tadarus Pemikiran Islam" yang diselenggarakan oleh JIMM bekerjasama dengan UMM, tanggal 18-20 November 2003, dengan sponsor Rektor UMM Muhadjir Effendy dan bantuan finansial dari Jacob Oetama (Harian Kompas).

Sebagaimana biasa dilakukan oleh para pemikir liberal, buku ini diantaranya mempromosikan "cara baru" dalam menafsirkan Al-Quran yaitu dengan menggunakan hermeneutika. Sebagai misal adalah tulisan Sufyanto yang berjudul "Diskursus Pembacaan Al-Quran, Mencari Makna Zaman (Sebuah Persoalan Hermeneutik). Penulis artikel dalam buku ini asyik menjiplak begitu saja pemikiran-pemikiran asing tanpa kritis sama sekali. Dia tulis, misalnya: "Ringkasnya, menurut Sumaryono, disiplin ilmu yang pertama yang banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab, semua karya yang mendapat inspirasi ilahi seperti Al-Quran, kitab Taurat, Kitab-kitab Veda, dan Upanishad supaya dimengerti, memerlukan interpretasi (hermeneutic)... dst."

Penulis artikel ini tampak bertindak ceroboh dalam mengutip buku Hermeneutika karya Sumaryono (terbitan Kanisius), dengan menyamakan begitu saja sifat teks Al-Quran dengan Kitab-kitab lain. Al-Quran adalah kitab yang tanzil, yang lafazh dan maknanya dari Allah, bukan sekedar karya inspiratif dari Tuhan, seperti konsep teks Bibel. Kekeliruan dalam melihat sifat teks Al-Quran ini berdampak pada kekeliruan dalam merumuskan metode tafsirnya. Kata penulis artikel ini lebih jauh:

"Jadi, pembacaan baru atas Al-Quran, seyogianya mengikuti Hukum Emilio Betti tentang interpretasi yang terkenal, yaitu sensus non est inferendus sed efferendus (makna bukanlah diambil dari kesimpulan melainkan harus diturunkan) bersifat instruktif. Jadi seorang penafsir tidak boleh bersikap pasif, karena ia harus merekonstruksi makna."

Salah satu tujuan yang akan dicapai kaum liberal dengan penggunaan metode tafsir baru (hermeneutika) adalah menciptakan pemahaman yang serba relatif terhadap kebenaran. Dalam buku ini bisa ditemukan sejumlah gagasan dekonstruktif terhadap konsep-konsep pokok dalam Islam itu. Sebagai contoh, bisa dilihat di dalam artikel yang ditulis oleh M. Hilaly Basya, dengan judul "Kembali ke al-Qur'an: Perspektif Hermeneutika Pembebasan" (hal. 53).

 

Penulis artikel ini lagi-lagi menjadikan pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid sebagai rujukan dalam membaca Al-Quran. Dengan menggunakan teori Nasr Hamid, dia mengkritik sifat peradaban Islam selama ini yang selalu menjadikan teks Al-Quran sebagai rujukan. Hebatnya manusia ini, dia juga 'sok-sokan' mengritik Imam Syafii yang menjadikan teks Al-Quran sebagai rujukan utama dalam merespon persoalan-persoalan baru:

"Dalam konteks demikian berarti Syafii memakai kacamata teks dalam memandang realitas kemanusiaan. Rasionalitas digunakan sebatas pada mediasi dan penjelas teks. Muaranya, teks tetap menjadi otoritas utama. Teks tidak dilihat sebagai suatu simbol partikular yang diproduksi oleh budaya tertentu, melainkan sebagai suatu bahasa langit yang absolut. Dengan demikian, teks menjadi parameter, sementara masyarakat dan budaya mengikutinya. Tidak berlaku kontekstualisasi yang berseberangan dengan teks, sebab teks memiliki makna tunggal yang permanen." (halaman 53-54).

 

Dengan berlagak bagai mujtahid besar abad ke-21, penulis artikel ini membuat kesimpulan, bahwa istilah "kafir" tidak mesti ditujukan kepada orang non-Muslim, tetapi orang Islam juga bisa disebut kafir. Selanjutnya, ia menulis:

"Jadi tidak semua non-Muslim adalah kafir. Non-Muslim di Mekkah punya kriteria kafir seperti yang disebut Al-Quran, yakni menutup diri dari kebenaran dari pihak lain. Alih-alih berdialog untuk memperbaiki sistem yang tidak adil, mereka mengancam akan membunuh Muhammad dan para pengikutnya. Inilah substansi kafir , mereka adalah musuh semua agama dan kemanusiaan. Mereka penindas HAM dan tidak mau membuka diri untuk mendialogkan kebenaran... Dengan kata lain, Muslim yang melakukan penganiayaan dan penindasan dan penindasan pun dapat dikatakan sebagai kafir. Jadi, kafir tidak identik dengan non-Muslim, melainkan siapa pun dan beragama apa pun ketika tidak adil dan menindas maka ia disebut kafir... Akan lebih tepat jika term kafir dimaknai sebagai penindas, dan mukmin (orang beriman) adalah pejuang pembebasan dari penindasan. ." (halaman 66-67).

Tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk melihat kekacauan penafsiran penulis liberal ini. Mukmin dan kafir adalah konsep pokok dalam Islam yang sudah sangat jelas maknanya. Di atas landasan konsep inilah berdiri berbagai konsep syariat Islam. Misalnya, wanita mukmin haram menikah dengan laki-laki kafir. Jika kafir dimaknai sebagai penindas, lalu bagaimana mengukur kadar penindasan seseorang? Jelas, ini suatu konsep yang kacau dan asal-asalan. Anehnya, konsep seperti ini dipromosikan kepada kaum Muslim, melalui penerbitan sebuah kampus.

Karena itu, kita patut bertanya, model penafsiran seperti inikah yang akan diajukan sebagai "manhaj baru Muhammadiyah"?

 

Dalam Mukaddimah Tafsirnya, Ibn Katsir menceritakan bagaimana para sahabat Nabi saw sangat berhati-hati jika hendak menafsirkan satu ayat. Mereka selalu bertanya kepada orang yang dianggap ahli jika tidak mampu, jika tidak memahami makna suatu ayat. Mereka sangat khawatir jika salah menafsirkan firman Allah SWT.

Kita tak bosan-bosannya mengajak semua yang mengaku-aku sebagai cendekiawan, baik muda maupun yang tua, agar bersikap tawadhu' dan tahu diri. Jika maqamnya muqallid, jangan memaksakan diri jadi mujtahid. Dalam bahasa Arab, muqallid adalah mengikuti secara buta, dan ini dilarang dalam agama, karena agama menyuruh seorang Muslim beramal dengan memakai ilmu.

 

Akhirnya menjadi "mujtahidun jahilun". Untuk membuat suatu metode penafsiran Al-Quran bukanlah pekerjaan kecil, dan tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Untuk menafsirkan UUD 1945 saja parlu keahlian yang memadai.

Kreatif dan berani memang penting. Tetapi, setiap ilmuwan dan cendekiawan perlu juga menjaga adab, agar menjadi ilmuwan yang beradab. Wallahu a'lam. [Depok, 8 Februari 2008/www.hidayatullah.com]

Catata Akhir Pekan [CAP] Adian adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com


 
My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Friday, February 8, 2008

Nabi palsu taubat

"Nabi Palsu" asal Bandung, Ahmad Sayuti akhirnya menyesali perbuatannya. Tukang cukur ini pernah mengaku mendapatkan wahyu tahun 1993

 

Proses pertobatan Ahmad Sayuti berlangsung cepat. Lelaki yang tampak uzur ini tampak tenang saat mengikuti ucapan kalimat syahadat dari Rafani, sambil disaksikan Idad dan beberapa unsur muspida.

Dalam pernyataan surat Sayuti yang mencabut ucapan-ucapannya yang sesat, dia juga menarik dua buku karyanya dari peredaran dan menyerahkan kepada buku itu ke aparat. Sayuti meminta maaf dan melakukan tobat serta berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.

"Saya Ahmad Sayuti menyatakan kembali kepada ajaran Islam yang bersumber pada Al Quran dan Sunah. Sebagai akibat perbuatan saya dengan ini menyatakan, saya mencabut pernyataan-pernyataan saya yang pernah diucapkan ke berbagai pihak dengan paham kesesatan saya," ucapnya.

Dia menegaskan, isu buku itu salah dan sesat. Dia meminta doa agar tobatnya diterima Allah SWT. Surat pernyataan bermaterai Rp 6.000 itu ditandangani Sayuti dan dua saksi, yaitu Rafani dan anak ketiganya, Maman Saefulah. Pada kesempatan itu, Sayuti juga menyerahkan 120 buku dari 200 eksemplar dua buku karyanya, "Kelalaian para pemuka agama dalam memahami kitab-kitab peninggalan nabi-nabi Rasul Allah" dan "Mungkinkah Tuhan Murka".

Pemusnahan dengan cara dibakar langsung dilakukan. Ditanya usai pertobatan, Sayuti mengaku merasa dalam kondisi baik. Dia juga akan menerima ajakan pihak MUI untuk lebih memperdalam Islam secara berkala. "Baik-baik saja," ucapnya singkat.

Anak ketiga Sayuti, Maman (45) menerangkan, ayah harus banyak istirahat sejak kejadian kemarin. Fisiknya sudah lemah dan perlu pemulihan. Sayuti yang didampingi beberapa keluarganya langsung dibawa pergi. Beberapa wartawan yang berusaha mewancarai hanya dijawab singkat. Namun dalam pembicaraan dengan pihak MUI setelah pertobatan, Sayuti mengaku dirinya mempelajari Islam sejak usia muda.

"Saya tidak menjual buku-buku itu. Memberikan gratis kepada orang-orang yang saya ajak berdialog," ungkapnya. Awal mencuatnya kasus ini, setelah Suyati mengirim dua buku via pos ke alamat Kantor KUA Bojongloa Kidul dan ditujukan kepada Nurmawan.

"Pada tanggal Desember lalu, saya menulis di sebuah koran tentang makna Hijrah. Kemudian tanggal 18 Januari saya menerima kiriman pos yang isinya dua buku itu. Pengirim bernama Sayuti. Dalam surat itu, Sayuti merasa tertarik dengan tulisan saya dan memberikan dua buku untuk dibaca," papar Nurmawan. Buku itu lanjutnya, langsung diberikan kepada pimpinannya di DPW Persis Jabar.

Tukang Cukur

Muhammad Sayuti alias Ahmad Sayuti (70) sehari-harinya bekerja sebagai tukang cukur itu, sempat diperiksa aparat Polsekta Regol, Kota Bandung, Rabu (6/2). Pemeriksaan warga Jalan Samsudin, Kecamatan Regol, Kota Bandung itu terkait dugaan isi buku yang dinilai telah memutarbalikkan fakta dan kebenaran syariat Islam.

Dari hasil pemeriksaan sementara, polisi meminta keterangan seputar penerbitan dua judul buku karangan Ahmad Sayuti yang menyebutkan dirinya sebagai nabi yang diutus Allah dan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir.

Kedua buku itu masing-masing berjudul "Kelalaian Para Pemuka Agama Dalam Memahami Kitab-Kitab Peninggalan Nabi-Nabi Rasul Allah (Taurat, Injil, dan Al-Quran) dengan Segala Akibatnya" dan "Mungkinkah Tuhan Murka".

Menurut Ahmad Sayuti, dirinya mendapatkan wahyu sebagai nabi itu terjadi pada tahun 1993 bertepatan pada usia dirinya menginjak 62 tahun. Dua buah judul buku itu sudah disebarkan kepada pelanggannya yang diperkirakan sudah lebih dari 100 orang.

Hal-hal yang dinilai memutarbalikkan kebenaran diantaranya terdapat dalam isi buku yang menyebutkan, Al-Quran adalah kitab hukum bahasa Arab peninggalan Nabi Muhammad putra Abdullah, yang ditulis para sahabatnya atas perintah beliau dan Al-Quran diturunkan pada 1994 M.

Dalam salah satu judul bukunya, Ahmad Sayuti, juga menyebut dirinya mendapatkan wahyu dari Allah sebagaimana yang juga diwahyukan kepada nabi-nabi lainnya dan berisi sejarah serta perjalanan dirinya saat memperoleh wahyu.


 
My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Tuesday, February 5, 2008

Kebangkitan Islam dengan Ilmu Bukan dengan Harta

Selasa, 05 Pebruari 2008
Banyak orang silau dengan harta. Seolah-olah bangkitnya umat ini dimulai dari harta. Padahal kebangkitan Islam dimulai dari ilmu

Oleh: Nuim Hidayat *

ImageSuatu saat Sayyidina Ali didatangi beberapa orang dan menanyakan manakah yang lebih mulia ilmu atau harta. Ali ra menjawab: Lebih mulia ilmu. Ilmu menjagamu, harta kamu harus menjaganya. Ilmu bila kamu berikan bertambah, harta berkurang. Ilmu warisan para Nabi, harta warisan Firaun dan Qarun. Ilmu menjadikan kamu bersatu, harta bisa membuat kamu berpecah belah dan seterusnya.

 

Dalam sejarah hidupnya Sayyidina Ali –juga Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas dan para sahabat yang lain—lebih menyibukkan diri mencari ilmu, berdakwah dan berjihad daripada mengumpulkan berkarung-karung uang/emas. Sayyidina Utsman dan Abdurrahman bin Auf yang terkenal dengan kekayaannya pun selalu ingin mendengar ilmu dari Rasulullah saw, meskipun ia seorang milyarder yang sukses dalam berbisnis.

 

Generasi yang berilmu atau tradisi masyarakat berilmu ini telah diproklamirkan Rasulullah saw semenjak ayat Al-Quran yang pertama turun. Ayat Iqra', bacalah, telah mengubah sahabat-sahabat Rasulullah dari orang-orang jahiliyah yang suka mabuk-mabukan, main perempuan, berleha-leha, menipu, egois dengan harta menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Mengubah generasi-generasi Arab jahiliyah yang tidak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, menjadi pemimpin-pemimpin dunia yang disegani di seluruh kawasan dunia saat itu.

 

Tradisi baca dan tulis-menulis begitu hidup saat itu. Tiap ayat Al-Quran turun, Rasulullah saw. memerintahkan kepada sahabat dekatnya untuk menulis, Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib dll. Bahkan tradisi membaca dan menulis ini menjadi simbol kemuliaan seseorang.

 

Rasulullah saw menugaskan Abdullah bin Said bin al Ash untuk mengajarkan tulis menulis di Madinah. Juga memberi mandat Ubadah bin as Shamit mengajarkan tulis menulis ketika itu. Kata Ubadah, bahwa ia pernah diberi hadiah panah dari salah seorang muridnya, setelah mengajarkan tulis menulis kepada Ahli Shuffah. Saad bin Jubair berkata: "Dalam kuliah-kuliah Ibn Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku. Ayahku sering berkata:" Hapalkanlah, tetapi terutama sekali tulislah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu." (lihat Prof. Mustafa Azami, 2000)

 

Semangat mereka dalam memburu ilmu pengetahuan makin tinggi, berkat pemahaman terhadap Al-Quran yang banyak ayat-ayatnya mendorong agar Muslim senantiasa menggunakan akalnya. Ibnu Taimiyah meriwayatkan bahwa banyak sahabat yang tinggal di asrama untuk mengikuti madrasah Rasulullah. Menurut Ibnu Taimiyyah, jumlah orang yang tinggal di dalam Suffah (asrama tempat belajar), mencapai 400 orang.

 

Menurut Prof. Azami, Rasulullah mempunyai sekitar 65 sekretaris yang bertugas menulis berbagai hal khusus. Khusus menulis Al-Quran: Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Utsman bin Affan dan Ubay bin Kaab. Khusus mencatat harta-harta sedekah: Zubair bin Awwam dan Jahm bin al Shalit. Masalah hutang dan perjanjian lain-lain: Abdullah bin al Arqam dan al Ala' bin Uqbah. Bertugas mempelajari dan menerjemahkan bahasa asing (Suryani): Zaid bin Tsabit. Sekretaris cadangan dan selalu membawa stempel Nabi: Handhalah (lihat "Kuttabun Nabi", Prof. Mustafa Azami).

 

Generasi selanjutnya, seperti Jabir ibn Abdullah ra menempuh perjalanan sebulan penuh dari kota Madinah ke kota 'Arisy di Mesir hanya demi mencari satu Hadits. Ibnu al-Jauzi menulis lebih dari seribu judul. Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilomater untuk mencari satu Hadits, bertani untuk mencari rezeki dan masih membawa-bawa tempat tinta pada usia 70 tahun. Imam al-Bukhari menulis kitab Shahih-nya selama 16 tahun dan selalu sholat dua rakaat setiap kali menulis satu Hadits, serta berdoa meminta petunjuk Allah. Sehingga karyanya menjadi contoh teladan, tujuan para ulama dan pemuncak cita-cita. Imam Nawawi (w. 676 H), penulis Kitab Riyadhush Shalihin, al-Majmu', dan Syarah Shahih Muslim, disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam.

 

Kejayaan dan Kejatuhan Bangsa

Dalam masalah tradisi ilmu ini, Prof. Wan Daud menyatakan bahwa kejayaan atau kejatuhan suatu bangsa tergantung pada kuat atau tidaknya budaya ilmu pada bangsa itu. "Pembinaan budaya ilmu yang terpadu dan jitu merupakan prasyarat awal dan terpenting bagi kesuksesan, kekuatan dan kebahagiaan seseorang dan suatu bangsa. Suatu individu atau suatu bangsa yang mempunyai kekuasaan atau kekayaan tidak bisa mempertahankan miliknya, atau mengembangkannya tanpa budaya ilmu yang baik. Malah dia akan bergantung kepada orang atau bangsa lain yang lebih berilmu. Kita telah melihat sendiri betapa beberapa negara minyak yang kaya-raya terpaksa bergantung hampir dalam semua aspek penting kehidupan negaranya kepada negara lain yang lebih maju dari segi keilmuan dan kepakaran. Sedangkan unsur lain, yaitu harta dan tahta, bersifat eksternal dan sementara. Keduanya bukanlah ciri yang sejalan dengan diri seseorang atau suatu bangsa tanpa ilmu yang menjadi dasarnya. Sebaliknya jika ilmu terbudaya dalam diri pribadi dan masyarakat dengan baik, maka bukan saja bisa mempertahankan dan meningkatkan lagi keberhasilan yang ada, malah bisa memberikan kemampuan untuk memulihkan diri dalam menghadapi segala kerumitan dan tantangan,"papar Guru Besar ISTAC ini.

 

Hanya orang-orang yang rabun pemikirannya yang menyatakan bahwa kejayaan atau kemunduran suatu individu atau bangsa karena harta atau kekayaan. Bangsa Brunei, Kuwait dan Arab Saudi yang kaya raya, kenyataannya tidak menjadi bangsa yang hebat, maju atau disegani dunia. Orang-orang Baratlah dengan pengetahuannya, yang 'menyetir', mengeksplorasi sumber-sumber daya alam yang kaya di Saudi, Kuwait dll. Bahkan juga bisa dibilang ekonomi dan politiknya. Ada pepatah Barat "Money Will Follow".

Tentu, kejayaan ilmu sekuler, meski bisa menguasai teknologi dan peradaban manusia, ia tidak dapat memberikan kebahagiaan jiwa manusia. Karena landasan keilmuan mereka memang dibangun dari kegelisahan jiwa, keragu-raguan dan tidak pernah mengalami keyakinan. Sehingga kita lihat meski telah mengalami kemajuan teknologi, Barat tidak dapat mengobati penyakit jiwa manusia. Banyak orang Barat yang pintar tapi jahat atau pintar tapi curang, culas dan lain-lain. Seperti sistem ekonomi dan politik dunia yang bekerja saat ini pun yang dibangun dengan penjajahan (Iraq, Palestina, Afghan dll) dan pemiskinan negara-negara berkembang (World Bank, PBB, IMF dll).

 

Penguasaan individu atau masyarakat kepada ilmu-ilmu Keislaman dan 'ilmu-ilmu umum' yang berpadu dengan Islamlah yang akan mengantarkan kejayaan sebuah bangsa. Peradaban Islam yang berdiri ribuan tahun telah membuktikan semuanya. Dan kini kita meninggalkan jejak, sejarah dan budaya kita sendiri, meniru-niru jejak Barat yang mengagung-agungkan materi dan keduniaan.

Padahal Al-Quran mengingatkan bahwa persatuan/kemajuan bangsa yang sejati adalah dengan aqidah Islam, bukan dengan harta benda. Termasuk dalam organisasi dan partai, orang bisa dipersatukan dengan harta atau ideologi (aqidah Islam). Firman Allah SWT: "Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. 8:63)

* Penulis adalah mantan aktifis LDK IPB-Bogor


 My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

Sunday, February 3, 2008

Tanya dan jawab tentang Maulid Nabi

Assalamu alaikum

Salah seorang teman saya pernah mengatakan bahwa mengadakan perayaan maulid nabi itu ada haditsnya, bahkan dijanjikan pahala yang besar bagi mereka yang melaksanakannya.

Adakah ustadz tahu hadits yang manakah itu? Dan seperti apa kedudukannya? Apakah hadits-haditsi itu bisa diterima? Dari mana sumber hadits itu?

Terima kasih sebelumnya.

Wassalam

Mintaryono

Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagian dari kalangan yang mendukung kegiatan seremoni maulid Nabi SAW terkadang berdalil dengan nash-nash tertentu yang disebut-sebut sebagai hadits. Meski pun keotentikannya masih dipermasalahkan. Di antaranya nash-nash itu adalah:

مَنْ أَعْظَمَ مَوْلِدِي كَانَ فيِ الجَنَّةِ مَعيِ

Orang yang mengagungkan maulidku, maka dia bersamaku di surga

مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فيِ مَوْلِدِي فَكَأَنََّمَا أَنْفَقَ جَبَلاً مِنَ الذَّهَبِ فيِ سَبِيْلِ اللهِ

Orang yang menafkahkan satu dirhan untuk kepentingan maulidku, maka seperti menafkahkan sebuah gunung yang terbuat dari emas di jalan Allah.

Klaim Atas Perkataan Shahabat

Bukan hanya klaim atas perkataan nabi Muhammad SAW, tetapi juga kita menemukan klaim-klaim atas para shahabat Nabi SAW. Beberapa di antaranya adalah klaim bahwa para khulafa'urrasyidin perah menyebutkan tentang keutamaan mengadakan maulid nabi dan menafkahkan harta untuk kegiatan itu.

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah diklaim telah menyebutkan lafadz berikut ini:

مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فيِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ ص كَانَ رَفِيْقِي فيِ الجَنَّةِ

Orang yang menafkahkan satu dirham untuk kepentingan maulid Nabi SAW, maka dia akan menjadi temanku di dalam surga.

Umar bin Al-Khattab juga diklaim telah menyebutkan perkataan di bawah ini:

مَنْ أَعْظَمَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ ص فَقَدْ أَحْيَا الإِسْلاَمَ

Orang yang mengagungkan maulid nabi SAW maka dia berarti telah menghidupkan agama Islam.

Termasuk juga Utsman bin Affan, beliaujuga dipakai namanya sebagai orang yang dianggap telah menyebutkan lafadz ini:

مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلىَ قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ ص فِكَأَنَّمَا شَهِدَ يَوْمَ وَقْعَةِ بَدْرٍ وَحُنَيْنٍ

Orang yangmenafkahkan satu dirham untuk bacaan maulid nabi SAW, maka seolah-olah dia ikut dalam Perang Badar dan Hunain.

Kalau lafadz ini, ini adalah lafadz yang diklaim sebagai perkataan Ali bin Abi Thalib:

مَنْ أَعْظَمَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ ص لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ بِالإِيمَانِ

Orang yang mengagungkan maulid Nabi SAW tidak akan keluar dari dunia ini kecuali denngan iman.

Semua klaim itu tentu saja susah dicari rujukannya. Sebab di semua kitab hadits yang kita kenal, sama sekali tidak pernah terdapat lafadz-lafadz di atas.

Klaim Atas Pernyataan Ulama

Ada juga lafadz yang diklaim sebagai perkataan Al-Imam Asy-Syafi'i, namun setelah dicari di berbagai kitab tulisan Imam peletak dasar ilmu ushul fiqih itu, tidak ditemukan. Lafadz itu adalah:

مَنْ جَمَعَ لِمَوْلِدِ النَّبِيِّ ص إِخْوَانًا وَهَيَّأَ لَهُمْ طَعَامًا وَعَمِلَ إِحْسَانًا بَعَثَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَيَكُوْنُ فيِ جّنَّاتٍ نَعِيْم

Orang yang mengumpulkan saudaranya di saat maulid Nabi SAW, lalu menghidangkan untuk mereka makanan, serta berbuat ihsan, maka Allah akan bangkitkan dirinya di hari kiamat bersama para shiddiqin, syuhada', shalihin dan berada dalam surga An-Na'im.

Juga ada lafadz yang diklaim sebagai perkataan Al-Imam As-Sirri As-Saqti, seperti ini:

مَنْ قَصَدَ مَوْضِعًا يُقْرَأُ فِيهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ ص فَقَدْ أُعْطِيَ رَوْضَةً فيِ الجَنَّةِ لأَنَّهُ مَا قَصَدَ ذَلِكَ المَوْضِع إِلاَّ لِمَحَبَّتِهِ ص وَقَدْ قَالَ ص: مَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فيِ الجَنَّةِ

Siapa yang mendatangi tempat dibacakannya maulid Nabi SAW, maka dia akan diberi taman di surga. Karena dia tidak mendatanginya kecuali karena cinta kepada Nabi SAW. Sedangkan Nabi SAW bersabda, "Orang yang cinta padaku maka dia akan bersamaku di surga.

Kedudukan Hadits

Jangan tanya tentang kedudukan hadits-hadits di atas, sebab kalau kita cari di berbagai kitab hadits, entah itu di kitab Shahih Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibnu Majah, At-Tirmizy, Abu Daud, atau kitab-kitab hadits lainnya, Kita tidak pernah mendapatkannya.

Padahal semua perkataan Nabi SAW pasti tercatat dalam kitab hadits yang mu'tabar. Demikian juga denganpara shahabatnya, semua ungkapan mereka pasti tercatat dengan baik.

Namun anehnya, lafadz-lafadz yang sejenisnya seperti di atas itu cukup populer di kalangan sebagian umat Islam. Bahkan dalam setiap kesempatan ceramah maulid, selalu diulang-ulang oleh para penceramahnya. Seolah-olah memang benar-benar hadits nabi.

Dari Mana Sumbernya?

Pertanyaan besarnya, bagaimana lafadz-lafadz yang diklaim sebagai hadits padahal bukan itu bisa begitu populer? Dari mana asal muasal lafadz-lafadz di atas itu? Kenapa bisa begitu populer dan banyak dipakai orang?

Jawabannya, kita harus berterus terang bahwa asalnya memang dari kitab yang sering digunakan di sebagian majelis taklim dan pesantren tradisional. Kami katakan pada sebagiannya, tidak berarti semua menggunakannya.

Tepatnya kitab itu adalah kitab Madarijush-Shu'ud. yang menjadi kitab syarah atau penjelasan dari kitab Al-Maulid An-Nabawi karya Al-Imam Al-'Arif As-Sayyid Ja'far, atau yang lebih dikenal dengan Syeikh Al-Barzanji.

Di kalangan tertentu, kitab ini cukup populer. Penulisnya memang adalah tokoh besar, bahkan beliau tinggal di Makkah, namun asalnya dari negeri kita. Beliau adalah Syeikh Nawawi Al-Bantani.

Di dalam kitab susunan beliau itulah kita dapat menemukan lafadz-lafadz diklaim sebagai hadits nabi atau perkataan para shahabat nabi, juga perkataan para ulama lainnya.

Dan sayang sekali, semua lafadz itu tidak satu pun yang dilengkapi sumber rujukan, perawi, apalagi alur sanad. Sehingga para kritikus hadits tidak bisa melacaknya di kitab-kitab rijalul hadits, atau di kitab lainnya.

Sementara lafadz-lafadz itu terlanjur dikutip oleh para kiyai dan ulama di negeri kita. Bahkan akhirnya lafadz itu menjadi lafadz langganan setiap kali mereka harus berhadapan dengan 'lawan' yang anti maulid. Sayangnya, lafadz itu akan menjadi otokritik kalau berhadapan dengan 'lawan' yang mengerti ilmu hadits dan kritiknya. Mungkin lafadz itu bisa diterima di kalangan awam yang tidak terlalu kritis dalam masalah kritik sanad hadits.

Siapakah Syeikh Nawawi Bantani?

Beliau adalah ulama besar abad ke-19 yang tinggal Makkah, namun beliau asli Indonesia. Kata Al-Bantani merujuk kepada daerah asalnya, yaitu Banten. Tepatnya Kampung Tanara, Serang, Banten

Beliau adalah anak sulung seorang ulama Banten. Beliau lahirtahun 1230 Hijrah/1814 Masehidan wafat di Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi.Beliau menuntut ilmuke Mekah sejak usia 15 tahun dan selanjutnya setelah menerima pelbagai ilmu di Mekah, beliau meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir.

Syeikh Nawawi al-Bantani kemudian mengajar di Masjidil Haram. Setiap kali beliau mengajar, dikelilingi oleh tidak kurang dua ratus orang. Ini menunjukkan bahwakeulamaan beliau diakui oleh para ulama di Makkah pada masa itu. Yang menarik, disebutkan bahwa saat mengajar di Masjid Al-Haram itu, beliau menggunakan dengan bahasa Jawa dan Sunda.

Karena sangat terkenalnya, bahkanbeliau pernah diundang ke Universitas Al-Azhar, Mesir untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara yang tertentu.

Syeikh Nawawi termasuk ulama penulis yang produktif. Hari-harinya digunakan untuk menulis. Beberapa sumber menyebutkan Syekh Nawawi menulis lebih dari 100 buku, 34 di antaranya masuk dalam Dictionary of Arabic Printed Books.

Dari sekian banyak bukunya, beberapa di antaranya antara lain: Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, al-Aqdhu Tsamin, Uqudul Lijain, Nihayatuz Zain, Mirqatus Su'udit Tashdiq, Tanqihul Qoul, syarah Kitab Lubabul Hadith, Nashaihul Ibad.

Murid-murid Syeikh Nawawi

Di antara yang pernah jadi murid beliau adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) almarhum Kiyai Haji Hasyim Asy'ari. Juga kiyai Khalil Bangkalan Madura. Juga termasuk kiyai Machfudh dari Tremas, Jawa Timur.

Dari para kiyai itulah kemudian agama Islam disebarkan di seantero tanah Jawa, lewat berbagaipondok pesantren, madrasah, majelis taklim, pengajiandan tabligh akbar. Termasuk juga kebiasaan merayakan maulid nabi SAW tiap bulan Rabi'ul Awwal.

Kedudukannya Bukan Hadits

Sebagai kesimpulan, apa yang diklaim sebagai hadits dalam kitab tersebut, oleh para ahli hadits memang harus ditegaskan bukan sebagai hadits. Tanpa harus mengurangi rasa hormat kita kepada sosok Syeikh Nawawi Bantani yang memang telah banyak berjasa di bidang dakwah agama.

Tidak kurang, ulama sekelas Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub MA yang menegaskan hal itu. Beliau tentu sajaadalah sosok yangpaling berhak untuk mengatakan kedudukan suatu lafadz yang dianggap hadits.

Padahal beliau termasuk warga Nahdhiyyin, jebolan pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan oleh Hadhratussyaikh Hasyim As-'ari, pendiri NU dan juga murid Syeikh Nawawi Bantani.

Tapi inilah ciri intelektualitas Islam, tidak mengapa pendapat atau tulisan seorang ulama dikritisi oleh mereka yang memang ahli di bidangnya, tapi tanpa harus memaki atau mencaci, apalagi menghina. Hormat dan takdzim tetap harus dilakukan, tapi kebenaran juga harus disampaikan. Dan kita harus beruswah kepada mereka,

Lagian, pembuktian bahwa lafadz-lafadz di atas bukan hadits, tidak lantas membuat kita harus memusuhi orang yang merayakan maulid. Karena mereka yang merayakan maulid itu tidak semata-mata mendasarkan pendapatnya hanya dengan lafadz di atas.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 
My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

”Tragedi Keilmuan di UIN Jakarta”

Tokoh liberal lulus doktor bidang tafsir.  Disertasinya banyak "mengakal-akali Al-Quran", tapi dosen UIN hanya 'bengong'. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-223

 

Oleh: Adian Husaini

ImageMajalah Gatra edisi 23 Januari 2008 lalu memuat sebuah berita yang sebenarnya terlalu penting untuk dilewatkan. Judulnya: "Jembatan Ayat Keras dan Lunak." Berita itu menceritakan seputar kontroversi isi disertasi Abd. Moqsith, tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan disertasi yang diuji pada 13 Desember 2007 itu, maka Abd Moqsith – yang suka menambah namanya menjadi Abd Moqsith Ghazali – dinyatakan oleh UIN Jakarta telah berhak menyandang gelar Doktor dalam bidang Ilmu Tafsir Al-Quran.

 

Disertasi Abd Moqsith yang berjudul, "Perspektif Al-Quran tentang Pluralitas Umat Beragama" dibimbing oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A (Dirjen Bimas Islam dan guru besar ilmu tafsir di UIN Jakarta) dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta). Bertindak sebagai penguji adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra (Ketua Sidang dan juga Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, Prof. Dr. Suwito, Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof. Dr. Zainun Kamal dan Prof. Dr. Salman Harun.

 

Melihat tema yang dibahas dalam disertasi Abd. Moqsith tersebut, harusnya para ahli tafsir di Indonesia tertarik untuk menyimaknya. Apalagi kasus ini sudah terangkat di media massa. Namun, faktanya, respon terhadap disertasi itu sepertinya dingin-dingin saja. Padahal, ini menyangkut masalah Al-Quran, kalam Allah, dan penafsirannya.

 

Menurut Gatra, disertasi ini memadukan tiga metode; tafsir maudhu'i (tematik), hermeneutika, dan ushul fikih. Tafsir maudhu'i untuk mengelompokkan kata kunci. Karena tafsir model ini kerap terjebak mengisolasi teks dan konteks, maka, dilengkapilah dengan hermeneutika. Motode ini berfungsi menemukan pesan universal ayat dengan memperhatikan kondisi objektif masyarakat tempat lahirnya ayat. Karena hermeneutika tak mampu menjangkau analisis dan kalimat dari sudut gramatika, dilengkapilah dengan ushul fikih. Ushul fikih membantu mengetahui kedudukan ayat serta bagaimana mesti dipahami sudut dalalat-nya (penunjukkan makna).

 

Dalam konklusinya, Moqsith menjembatani ayat toleran dan intoleran dengan membuat kategori ayat ushul (pokok) dan fushul (cabang, rinci). Ayat toleran disebut ushul, bersifat dan berlaku universal. Ayat ushul ini menunjukkan sikap teologis Al Quran. Sementara itu kelompok ayat intoleran adalah ayat fushul, yang bersifat situasional. Implementasi ayat fushul, misalnya ayat perang, harus tetap dengan naungan ayat ushul, misalnya prinsip tiada paksaan beragama. Maka perang tetap dengan etika, terlarang merusak tempat ibadah, membunuh kaum perempuan dan memaksa lawan masuk Islam.

 

"Disertasi ini telah melakukan terobosan, " puji Prod Dr. Azyumardi Azra, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta yang memimpin sidang ujian terbuka.

"Kekuatan disertasi ini terletak pada penguasaan yang dalam terhadap khazanah Islam klasik, " Azyumardi menambahkan. "Banyak orang bicara toleransi, tapi tak banyak yang punya sumber bacaan kuat dalam literatur klasik."

Pembimbing disertasi ini, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, memuji disertasi ini telah mengungkap banyak informasi baru dalam literatur berbahasa Indonesia, seputar tema relasi antar-agama. Meski dalam literatur Arab hal itu terhitung barang lama.  Sementara kritik panjang datang dari Prof. Dr. Salman Harun. Konon baru kali ini di UIN Jakarta ada penguji yang sampai membuat kritik tertulis ketika menguji. Salman menyebut Moqsith salah memahami penggalan buku Nawawi Al-Jawi (1813-1899) tentang bisa tidaknya non-muslim masuk surga. Moqsith dinilai tak utuh mengutip Ibnu Katsir (1300-1373). Menurut Salman, dua ulama itu berkesimpulan hanya Muslim yang masuk surga. Tapi Moqsith menyimpulkan, non muslim juga bisa.  Salman khawatir disertasi ini akan memperkuat tuduhan sebagian kalangan bahwa UIN adalah tempat kristenisasi.

 

Demikian petikan berita Majalah Gatra seputar kontroversi disertasi doktor Abd Moqsith. Di berbagai media internet, banyak ditemukan puji-pujian terhadap Abd Moqsith.

 

Karena ini menyangkut bidang keilmuan Islam, khususnya bidang Ilmu Tafsir Al-Quran, maka saya pun tertarik untuk membaca disertasi tersebut. Kita dituntut untuk bersikap adil dalam menilai segala sesuatu, meskipun dengan orang yang berbeda pendapat. Jika memang pendapatnya benar, maka harus diterima. Jika memang keliru, maka perlu diluruskan.

Jika ditelaah, disertasi Abd Moqsith itu cukup tebal, lebih dari 300 halaman. Referensinya juga cukup kaya. Bahasanya pun enak di baca, mengalir lancar. Tampak, penulisnya adalah seorang yang cukup profesional dalam olah kata. Tanpa menafikan sejumlah kelebihan disertasi ini, jika kita telaah secara mendalam, ditemukan sejumlah problema yang sangat mendasar, yang seharusnya menjadi perhatian para pembimbing dan penguji, sebelum disertasi ini diluluskan.

 

Disebutkan, tujuan penulisan disertasi ini adalah (1) mengetahui pandangan dan sikap Al-Quran tentang pluralitas umat beragama, (2) mengetahui tafsir yang diberikan para ulama terhadap teks-teks yang terkait dengan pluralitas umat beragama, dan (3) menyusun tafsir ayat-ayat Al-Quran yang lebih relevan dengan konteks zaman yang semakin plural dari sudut agama, terutama mengontekstualisasikan ayat-ayat Al-Quran yang secara literal-skripturalistik berseberangan dengan semangat toleransi dan penghargaan terhadap umat agama lain.

 

Dari tujuan ketiga itulah, kita sudah bisa menangkap maksud penulis disertasi ini. Dalam bahasa mudahnya, penulis disertasi ini "membuat tafsir baru" atau"merekayasa penafsiran" ayat-ayat yang dianggapnya "tidak toleran", "tidak pluralis", atau "kurang menghargai agama lain". Untuk ayat-ayat seperti ini, penulis berusaha sekuat tenaga, keluar dari makna teksnya, dan mencari-cari makna lain. Tetapi, untuk ayat-ayat yang dianggapnya pluralis, maka penulis disertasi ini mati-matian menggunakan metode tekstual-skripturalistik yang kaku.

 

Ini bisa dilihat, misalnya, ketika penulis membahas tentang "Pengakuan dan Keselamatan Umat non-Muslim", maka dia sudah membuat asumsi: "Agama yang satu tak membatalkan agama yang lain, karena setiap agama lahir dalam konteks historis dan tantangannya sendiri. Walau begitu, semua agama terutama yang berada dalam rumpun tradisi abrahamik mengarah pada tujuan yang sama, yakni kemaslahatan dunia dan kemaslahatan akhirat. Dengan memperhatikan kesamaan tujuan ini, perbedaan eksoterik agama-agama mestinya tak perlu dirisaukan." (hal. 189).

 

Penulis liberal ini lalu mengutip sejumlah ayat Al-Quran yang dikatakannya merupakan bukti pengakuan Al-Quran terhadap eksistensi dan kebenaran kitab-kitab sebelum Islam, seperti QS 5:44, 46-47, dan 66. Lalu, dia membuat kesimpulan sendiri:

"Ayat tersebut memberikan pengakuan terhadap umat Yahudi dan Nashrani; mereka cukup menjadikan kitab suci masing-masing sebagai sandaran moral mereka. Ditegaskan, sekiranya mereka berpaling dari kitab sucinya, mereka adalah kafir dan fasik. Dengan demikian, jelas bahwa Islam tak memaksa agar mereka menjadikan Al-Quran sebagai rujukan kaum Yahudi dan Nashrani. Inilah bentuk pengakuan terbuka dari Islam terhadap agama lain. Bagi umat Islam, percaya terhadap kitab-kitab Allah menjadi bagian dari enam rukun iman dalam Islam. Sekurangnya, umat Islam mengimani empat kitab Allah, yaitu Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Quran." (hal. 191).

 

Kita sebenarnya geli membaca kesimpulan penulis disertasi ini. Terlalu mudah untuk melihat kelemahan kesimpulan tersebut. Al-Quran memang memerintahkan umat Islam beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul Allah. Tetapi, Al-Quran juga menjelaskan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah mengubah-ubah (melakukan tahrif) kitab mereka sendiri.

 

Misalnya, QS 2:75 menyebutkan: "Apakah kamu masih mengharapkan mereka beriman kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui." Juga, disebutkan dalam QS 2:79: "Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah," (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan."

 

Karena itulah, jelas umat Islam saat ini tidak diwajibkan untuk beriman kepada Bibel Yahudi, Talmud, atau Bibel Kristen. Sebab, dalam pandangan Al-Quran, kitab-kitab suci para Nabi itu sudah diubah-ubah oleh sebagian pengikutnya, sehingga bercampur aduk antara yang asli dengan yang tambahan. Mestinya, penulis disertasi ini dengan jujur mengungkap ayat-ayat Al-Quran tersebut. Dan mestinya pula, para profesor UIN yang menguji disertasi itu juga melihat kekeliruan yang sangat mendasar ini.

 

Tapi, karena sejak awal, disertasi ini ditulis untuk "mengakal-akali Al-Quran" agar sesuai dengan asumsi-asumsinya, maka fakta-fakta semacam ini bisa dijumpai di banyak bagian lainnya. Misalnya, asumsi penulis yang menyatakan: "secara eksplisit Al-Quran menegaskan bahwa siapa saja – Yahudi, Nashrani, Sabi'in, dan lain-lain – yang menyatakan hanya beriman kepada Allah, percaya akan Hari Akhir, dan melakukan amal saleh, tak akan pernah disia-siakan oleh Allah. Mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal atas keimanan dan segala jerih payahnya." (hal. 192).

 

Dalam beberapa kali catatan, kita sudah membahas makna QS 2:62 dan 5:69, dan bagaimana kaum Pluralis berusaha memanipulasi makna ayat ini. Termasuk bagaimana mereka memanipulasi pendapat para ulama, terutama Tafsir al-Manar. Dalam disertasinya ini, penulis lebih vulgar lagi dalam membuat kesimpulan, dengan berpegang kepada bunyi teks ayat itu dan menafikan penafsiran para ulama. Katanya:

"Jika diperhatikan dengan seksama, maka jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabi'ah beriman kepada Nabi Muhammad. Dengan mengikuti bunyi harafiah ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dalam keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi'ah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal shaleh – sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi'ah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufasir dan bukan ungkapan Al-Quran. Muhammad Rasyid Ridla berkata, tak ada persyaratan bagi orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi'ah untuk beriman kepada Nabi Muhammad." (hal. 194-195).   

 

Membaca kesimpulan penulis liberal ini pun kita dibuat geli dan sekaligus prihatin. Biasanya kaum liberal selalu menyebut kaum fundamentalis sebagai kaum tekstualis, literalis, skripturalis, dan sebagainya. Tapi, ketika mereka bertemu dengan ayat Al-Quran yang mendukung pendapat mereka, ternyata mereka pun berpegang pada metode literalis. Cara ini mengingatkan kita pada cara negara-negara tertentu yang rajin meneriakkan demokrasi. Tapi, ketika demokrasi menghasilkan penguasa yang tidak sejalan dengan politik mereka, maka mereka pun menolak demokrasi dan mendukung kediktatoran.

 

Jika ditelaah dengan seksama pendapat Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar, maka akan kita temukan, bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang risalah Nabi Muhammad saw tidak sampai kepada mereka. Karena itu, mereka tidak diwajibkan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka, menurut Rasyid Ridla, maka sesuai QS 3:199, ada lima syarat untuk keselamatan mereka. Diantaranya, (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan, (2) beriman kepada Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad.

Sayang sekali, sebagaimana perilaku sejumlah kaum Pluralis Agama, penulis disertasi ini pun tidak benar dan tidak fair dalam mengutip pendapat-pendapat Rasyid Ridla. Padahal, dalam soal ini, Nabi Muhammad saw sudah menegaskan:

"Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seorangpun dari ummat sekarang ini, baik Yahud, maupun Nasrani, kemudian mereka tidak mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka." (HR Muslim).

 

Karena itu, sejalan dengan Prof. Salman Harun, saya juga keheranan, bagaimana mungkin para Profesor pembimbing dan penguji disertasi ini sampai melewatkan kekeliruan-kekeliruan yang sangat mendasar semacam ini. Masih banyak sekali data, metodologi, dan analisa yang perlu dipertanyakan dalam disertasi ini. Ada beberapa kemungkinan mengapa para penguji meloloskan disertasi ini: mungkin mereka tidak membaca dengan cermat; mungkin mereka tidak paham; atau mungkin mereka memang setuju dengan penulisnya. Wallahu A'lam.

 

Yang jelas, menurut saya, kasus disertasi ini merupakan suatu "Tragedi Keilmuan" di UIN Jakarta. Apa yang bathil, sesat, dan keliru, dilegitimasi oleh sejumlah guru besar bidang agama. Lebih merupakan tragedi dan musibah lagi bagi umat ini, jika para doktor dan pakar-pakar Al-Quran yang berjubel di UIN Jakarta hanya berdiam diri dan "bengong saja" menghadapi kasus semacam ini.

Tapi, apa pun, kita patut mengucapkan selamat dan salut atas usaha Abd Moqsith sampai meraih gelar Doktor bidang Ilmu Tafsir. Anak yang cerdas ini telah mencapai prestasi yang tidak kecil. Dia telah bekerja keras menghasilkan sebuah disertasi doktor, apa pun kondisinya.

 

Bagi kita, ini adalah pelajaran yang berharga: bahwa untuk menyesatkan manusia pun perlu kerja keras dan sungguh-sungguh. Kini, kita menunggu dari kalangan cendekiawan Muslim untuk membuat karya-karya ilmiah yang benar dan jauh lebih baik dari apa yang telah dihasilkan Abd Moqsith dan tokoh-tokoh liberal lainnya. Wa jaadilhum billati hiya ahsan.

Kita wajib melakukan upaya yang sungguh-sungguh dalam menyikapi setiap penyimpangan dan kemunkaran ilmu. Tapi, kita tidak perlu risau. Kita sekedar menjalankan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar. Sebab, Al-Quran adalah wahyu Allah SWT. Al-Quran adalah milik Allah. Dan kita yakin, Allah punya cara sendiri untuk bertindak menjaga dan membuat perhitungan terhadap orang-orang yang berusaha merusak Kitab-Nya. [Depok, 1 Februari 2008/www.hidayatullah.com]


 
My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

285 juta untuk TKW malang

285 juta untuk TKW malang
 
Gaji TKW Indonesia asal Flores yang mengalami perlakuan buruk dari diplomat Yaman di Berlin, akhirnya akan dibayar sebesar lebih-kurang 21,000 ero.

Jumlah yang setera dengan Rp285 juta ini hanya upah minimum di Berlin selama 29 bulan Dewi Hasniati (nama samaran) asal Flores bekerja untuk majikannya seorang diplomat Yaman.

Menurut pengakuan Dewi kepada LSM yang membela wanita terlantar, Ban Ying, yang berkantor di Berlin, TKW berusia 30 tahun ini bekerja tujuh hari seminggu dan harus siap 24 jam menjalankan perintah majikannya, tanpa bayaran.

Sebaliknya dia disiksa, dikurung setiap hari di rumah, dengan hanya memakan nasi plus tomat, sampai akhirnya badan Dewi kurus-kering dan terkena penyakit TBC.

Dibayar kedutaan Yaman

Sekarang, Kedutaan Besar Yaman di Berlin setuju membayarkan gaji, seperti dijelaskan oleh kordinator Ban Ying, Nevedita Prasad.

"Uang itu adalah gaji dia yang dijanjikan akan dibayar kepadanya. Tidak ada ganti rugi dan tidak ada uang lembur yang dibayarkan, melainkan hanya upah minimum yang harus dibayar," kata Nevedita.

Menurut koordinator Ban Ying ini, pihaknya sudah mendapatkan pernyataan tertulis dari pengacara kedutaan Yaman bahwa mereka siap menyerahkan uang gaji Dewi itu.

"Kami sepakat untuk tidak menyebutkan jumlahnya; yang bisa saya katakan ialah besarnya 750 ero per bulan, dan Hasniati bekerja dari November 2004 sampai Mei 2007."

Dari penjelasan tadi bisa diperoleh angka minimum yang akan diterima Dewi Hasniati yaitu lebih-kurang 21,000 ero atau sekitar 285 juta rupiah.

Menurut Nevedita, pembayaran gaji ini sekaligus akan menutup kasus Dewi karena memang tidak bisa diteruskan proses hukum lebih lanjut sebab diplomat Yaman itu memiliki kekebalan diplomatik.

Sebelum bekerja dibawa ke Berlin pada bulan November 2004, Dewi sudah lebih-kurang dua tahun bekerja dengan diplomat Yaman tersebut.


 
My personal web: http://pujakesula.blogspot.com  or  http://endyenblogs.multiply.com/journal 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

Friday, February 1, 2008

Politik yang kejam....

Rabu, 30 Januari 2008 10:29:00
Ribuan Keluarga PKS Serbu Bali
Denpasar-RoL-- Ribuan pengurus Partai Keadilan Sejahtera bersama anak-istri dan anggota keluarga lainnya menyerbu Bali bertepatan penyelenggaraan Musyawarah Kerja Nasional PKS yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pulau Dewata."Kami sampai kewalahan menangani keperluan penginapannya.

Peserta Mukernas bersama keluarganya berdatangan lebih awal untuk sekalian piknik," kata Ketua Departemen Dakwah Wilayah NTB-NTT DPP PKS, Dwi Triyono, SH di Denpasar, Rabu.Karena kamar hotel yang disediakan di Sanur hanya dikhususkan bagi pengurus PKS, baik dari DPP, DPW maupun DPC, maka anggota keluarga yang ikut serta terpaksa harus dibantu mencarikan hotel di sekitar lokasi Mukernas, katanya.Untuk keperluan Mukernas yang sekaligus mendeklarasikan keberadaan PKS sebagai partai terbuka, tidak lagi hanya melibatkan umat Islam itu, disediakan tiga hotel, yakni Inna Grand Bali Beach, Sanur Paradise dan Sanur Beach.

Menurut Triyono, fasilitas penginapan yang disediakan hanya untuk sekitar 2.000 peserta, baik dari DPP, 33 DPW berjumlah 330 orang, 820 pengurus DPC, 200 pengurus DPW/DPC di Bali, 45 anggota DPR dari PKS, selain Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan tiga menteri Kabinet Indonesia Bersatu dari PKS.Untuk menandai keberadaan PKS sebagai partai terbuka, seluruh peserta Mukernas akan mengenakan destar atau udeng, sebagai salah satu ciri khas budaya masyarakat Bali.Anggota keluarga pengurus PKS, seperti dari Jakarta, Bandung, Sumatera dan Kalimantan, yang telah berdatangan, walaupun Mukernas baru akan dibuka Jumat (1/2) malam, dicarikan hotel yang ada di sekitar lokasi kegiatan tersebut dengan biaya sendiri."Konfirmasi mendadak datang lebih awal dan membawa banyak anggota keluarga inilah yang cukup merepotkan untuk membantu mencarikan hotelnya.

Tapi ini sekaligus juga menguntungkan, karena berarti lebih meramaikan kunjungan wisatawan domestik ke Bali," kata Triyono yang alumnus Universitas Udayana.Anggota keluarga pengurus PKS umumnya telah merancang sejumlah rencana melalui perusahaan biro perjalanan untuk mengunjungi berbagai obek wisata di Bali. "Program pikniknya lumayan lama, sampai penutupan Mukernas Ahad (3/2), sehingga akan banyak yang bisa dikunjungi," tambahnya. ant/

Komentar :
Belum kering lidah ini berteriak-teriak selamatkan Muslim Gaza dalam demo kemarin di Jakarta, sekarang demikian mudahnya memikirkan rihlah, ke Bali pula… Ketika saat berteriak-teriak selamatkan Muslim Gaza kita hanya menyumbangkan One Man One Dollar. Tapi ke Bali…? Tentu berlipat-lipat dollar yang harus dikeluarkan dari kantong kita… Dan sungguh, uang yang kita keluarkan tentu banyak yang tidak mengalir ke kantong saudara-saudara seiman kita di sana… Bahkan bukan mustahil, uang yang keluar dari dompet kita akan mengalir ke Israel, karena banyak resor dan penginapan di Bali melakukan promosi besar-besaran dengan berbagai perusahaan dan media massa Zionis-Israel.

Partai islam boo yang berangkat dari pengajian....?????

Masih mending tu blm pesta yang tidak kita ketahui, apalagi kecurangan lain lain dr partai lain.