Thursday, March 6, 2008

Agama sebagai Taslim(Tunduk) dan Ittiba'(Mengikuti)


Bismillahir- Rahmanir- Rahiym, Assalamu 'alaikumu Warahmatullahi wabarakatuhu, Barokalloohu fiykum, ya Ikhwahi fillahi.
 
Subhanaka la 'ilmalana illaa ma 'allamtana, innaka antal'aliimulhakiim ("Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana").
 
Berikut disampaikan materi tentang:
 
 
Agama sebagai Taslim(Tunduk) dan Ittiba'(Mengikuti)
 
             
39. Sesungguhnya  yang selamat agamanya hanyalah orang yang pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan mengembalikan ilmu dari sesuatu yang belum jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya.
 
40. Sesungguhnya Islam hanyalah berpijak di atas pondasi penyerahan diri dan kepasrahan.
 
 
Dengan dua matan ini Imam Abu Ja'far ath-Thahawiy menegaskan bahwa keislaman seseorang tidak akan benar –meskipun dia mengucapkan dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan Haji ke Baitullah– kecuali jika di hatinya ada taslim dan kesanggupan untuk berittiba' kepada Rasulullah. Sejatinya taslim adalah manifestasi syahadat tauhidnya. Syahadat untuk hanya tunduk, taat, dan patuh beribadah kepada Allah saja. Sedangkan ittiba` sejatinya adalah manifestasi syahadat risalahnya. Syahadat untuk hanya mengikuti ajaran Rasulullah tanpa menimbang-nimbangnya lagi dengan akal atau perasaan.
 
Hari ini kita dapat menyaksikan –mudah-mudahan kita sendiri tidak termasuk di dalamnya– orang-orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sangat fashih dan mengerjakan shalat tepat waktu, namun di hatinya tertanam kebencian kepada Islam yang utuh. Sebab, banyak orang berpersepsi, Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berhaji jika punya biaya. Urusan selain kelima perkara itu ada hak pribadi setiap orang, kata mereka. Jika ada yang mengingatkan bahwa seorang muslim mesti mentaati semua aturan Allah sesuai dengan aturan main yang diajarkan oleh Rasulullah, ada saja jawaban mereka. Jangan mengintervensi urusan orang lain; itu hak asasi, berislam koq repot, dan seribu satu jawab semisal lainnya.
 
 
Hakikat Taslim
 
 
Taslim atau istislam adalah tunduk, taat dan menerima apa saja yang datang dari Allah dan Rasulullah. Apa saja yang datang, baik itu berupa perintah atau pun larangan, tidak ada yang ditentang. Perintah dilaksanakan sebatas maksimal kemampuan dan larangan dijauhi. Semua dimanifestasikan secara lahir-batin. Allah berfirman,
 
"Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati di dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa`: 65)
 
Keputusan Allah dan Rasulullah adalah yang terbaik, meskipun terkadang terasa berat dan tidak enak. Pun Allah telah mengingatkan kita bahwa,
 
"Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
 
Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Dalam setiap ketetapan-Nya, ada hikmah yang dalam. Hikmah yang boleh jadi tidak kita ketahui. Baik kiranya jika kita merenungkan pernyataan Muhammad bin Syihab az-Zuhriy berikut ini:
 
مِنَ اللّهِ الرِّسَالَةُ وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلاَغُ وَعَلَيْنَا التَّسْلِيْمُ
 
"Risalah datang dari Allah, Rasul bertugas menyampaikan, dan kita berkewajiban untuk menerima."
 
 
Hakikat Ittiba'
 
 
Ittiba' yakni mengikuti Nabi. Beliau adalah utusan Allah; manusia yang paling tahu tentang maksud Allah yang tersurat maupun tersirat dalam firman-firman-Nya. Karenanya para Salaf sepakat, jika ada ayat al-Qur`an yang makna dan maksudnya telah dijelaskan oleh Rasulullah, maka tidak ada seorang pun yang boleh membantahnya. Semua mesti mengikuti petunjuk beliau. Inilah hakikat ittiba'. Sesuatu yang akan mengantarkan kita kepada Mahabbatullah.
 
Allah berfirman, "Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, berittiba'lah kepadaku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu!' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali 'Imran: 31)
 
Imam Syafi'i berkata, "Aku beriman kepada Allah dan apa saja yang ada di dalam Kitabullah sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan apa saja yang datang dari Rasulullah sesuai dengan yang dimaksud oleh Rasulullah."
 
Imam Ahmad berkata, "Kuamati Mushhaf dan kudapati perintah untuk mentaati Rasulullah ada di 33 tempat." Kemudian beliau membaca,
 
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih." (QS. An-Nur: 63)
 
Imam Ahmad mengulang-ulang ayat itu. Kemudian beliau ditanya, apakah yang dimaksud dengan fitnah? Beliau menjawab bahwa fitnah itu adalah syirk. Kemusyrikan. Maknanya, jika seseorang menolak sebagian perintah Nabi n, bisa jadi di hatinya ada sedikit penyimpangan sehingga hatinya menyimpang dan celakalah dia.
 
Imam Ahmad juga pernah diberitahu adanya orang-orang yang menomorduakan sabda Nabi n dan memilih pendapat Sufyan bin 'Uyainah. Beliau berkata, "Saya heran dengan adanya orang-orang yang mendengar hadits, mengetahui isnad, dan keshahihannya, namun dia meninggalkan sabda Nabi n dan memilih pendapat Sufyan dan yang lain. Padahal Allah telah berfirman, "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih." (An-Nur: 63)
 
 
Wahyu versus Akal
 
 
Demikianlah, Islam adalah agama taslim dan ittiba'. Bertaslim dan berittiba' maknanya menomorsatukan wahyu dan menomorduakan selainnya. Akal, pikiran, perasaan, insting, dan logika siapa pun mesti ditimbang dengan wahyu dan bukan sebaliknya: wahyu yang ditimbang dengan perkara-perkara itu. Sungguh, ada banyak perkara yang tidak masuk akal, pikiran, dan perasaan yang mesti kita terima dan kita ikuti, jika kita masih ingin dikategorikan sebagai seorang muslim.
 
Apatah lagi, sekiranya kita hanya menerima perkara-perkara yang masuk akal saja, pastilah kita tidak akan memeluk agama ini, Kita pasti akan melepaskannya. Sebab akal manusia ada yang tidak akan menerima adanya adzab kubur, ada yang mempermasalahkan bagaimana turunnya wahyu dari langit, ada yang mempermasalahkan adanya Rasul dari kalangan manusia, ada yang menginginkan supaya sunnah itu semua mutawatir. Ada juga yang menyatakan hanya mau mengambil al-Qur`an, tidak mau as-Sunnah.
 
Sebenarnya orang yang mendahulukan akalnya daripada wahyu seperti orang yang meminta tolong penarik becak untuk mengantarnya mencari obat sakit gigi. Penarik becak mengantarnya kepada dokter gigi terbaik. Orang itu menemui dokter dan diberi resep. Namun karena menurut penarik becak, resep itu tidak cocok untuk penyakit yang diderita orang itu, maka penarik becak menyarankannya untuk membuang resep itu dan mengikuti petunjuknya. Penarik becak adalah perumpamaan akal dan dokter gigi adalah perumpamaan wahyu. Saat seseorang menghadapi suatu masalah dia bertanya kepada akalnya, bagaimana solusi masalah itu. Akalnya memberitahu bahwa dia harus merujuk kepada wahyu. Namun saat wahyu memberitahu solusinya, ternyata akal menganggapnya tidak benar. Semua tahu, jika orang itu mengikuti akalnya dan membuang wahyu, dia sama saja dengan orang yang menderita sakit gigi yang mengikuti nasihat penarik becak dan membuang resep dokter gigi.
 
Akhirnya, siapa yang tak mau bertaslim dan berittiba', hendaklah mempertanyakan keislamannya sendiri. Sebelum kelak dihadapkan kepada Allah sebagai orang-orang yang selagi di dunia bersusah paya, ternyata di akhirat tidak mendapatkan bagian surga. Na'udzu billahi min dzalik.
 
 
 
 
=========================================================
 
Alhamdulillahirabbil'alamin, semoga bermanfaat.
 
Allahummang-fa'na bimaa 'alamtana wa'alimna maa yang-fa'na
("Ya Allah, ajarkanlah kami Ilmu yg bermanfaat dan berikanlah kami keuntungan dari apa yg telah Engkau ajarkan kepada kami")
 
Waqul rrabbizidnii 'ilman
("katakanlah ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan..")
 
ittabi'uw ahsana maa ung-zila ialaykum mir-robbikum ming-qobli ayya'tiyakumul'adzaabu baghtataw-wang-tum latasy'uruwna
("Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (Al Qur'an) sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba,
 sedang kamu tidak menyadarinya")..
 
Iman tanpa disertai ilmu yang benar akan Sesat dan Menyesatkan, Ilmu tanpa disertai Iman yang benar  akan membuat Kerusakan...
 
Hidupkan hati yang mati dengan Siraman Tholabul 'Ilmi (menuntut Ilmu), keluarkan diri dari Zhulumat (kejahilan) menuju Nur(cahaya) Imani..
 
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuhu.


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

No comments: